Alarm Daya Beli Menyala: Kelas Menengah Tergerus, Stabilitas Ekonomi Terancam
Selasa, 04 Februari 2025 - 16:34 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 2019, kelas menengah mencakup sekitar 21,5% dari populasi, tetapi pada 2024, angka ini turun menjadi 17,1%, yang berarti sekitar 10 juta individu kini berada dalam ketidakpastian ekonomi.
"Anda bayangkan 10 juta individu ini bertahan hidup serba tidak pasti. mereka ini tidak mendapatkan bantuan apapun dari Negara untuk memenuhi kehidupannya," bebernya.
Diterangkan bahwa kelas menengah memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional. Mereka adalah konsumen utama bagi sektor barang dan jasa, dan juga merupakan kelompok yang memiliki kemampuan investasi yang cukup besar.
Penurunan jumlah kelas menengah berarti berkurangnya konsumsi rumah tangga, yang secara langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. "Dengan konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), perlambatan daya beli kelas menengah jelas menjadi ancaman besar bagi ekonomi Indonesia ," paparnya.
Indeks penjualan ritel yang terus menurun sejak kuartal ketiga 2024 menjadi bukti nyata bahwa konsumen mengurangi pengeluaran mereka. Beberapa pengusaha mengakui bahwa penjualan anjlok hingga 20-30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Situasi ini semakin diperburuk dengan meningkatnya biaya produksi akibat inflasi pada bahan baku dan kenaikan harga energi global. Dengan margin keuntungan yang semakin tipis dan permintaan yang lesu, banyak usaha kecil dan menengah (UKM) kesulitan bertahan," jelasnya.
"Anda bayangkan 10 juta individu ini bertahan hidup serba tidak pasti. mereka ini tidak mendapatkan bantuan apapun dari Negara untuk memenuhi kehidupannya," bebernya.
Diterangkan bahwa kelas menengah memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional. Mereka adalah konsumen utama bagi sektor barang dan jasa, dan juga merupakan kelompok yang memiliki kemampuan investasi yang cukup besar.
Penurunan jumlah kelas menengah berarti berkurangnya konsumsi rumah tangga, yang secara langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. "Dengan konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), perlambatan daya beli kelas menengah jelas menjadi ancaman besar bagi ekonomi Indonesia ," paparnya.
Dampak ke Dunia Usaha
Ketika daya beli berkurang, maka dampaknya dirasakan langsung oleh dunia usaha. Achmad Nur Hidayat menerangkan, banyak pelaku usaha, terutama di sektor ritel dan manufaktur, menghadapi tantangan akibat berkurangnya permintaan dari konsumen.Indeks penjualan ritel yang terus menurun sejak kuartal ketiga 2024 menjadi bukti nyata bahwa konsumen mengurangi pengeluaran mereka. Beberapa pengusaha mengakui bahwa penjualan anjlok hingga 20-30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Situasi ini semakin diperburuk dengan meningkatnya biaya produksi akibat inflasi pada bahan baku dan kenaikan harga energi global. Dengan margin keuntungan yang semakin tipis dan permintaan yang lesu, banyak usaha kecil dan menengah (UKM) kesulitan bertahan," jelasnya.
Penerimaan Negara Meleset dari Target: Risiko Fiskal Meningkat
Melemahnya daya beli masyarakat juga berdampak pada penerimaan negara. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan bahwa penerimaan pajak pada 2024 mencapai Rp1.932,4 triliun atau 100,5% dari target, tetapi pertumbuhan penerimaan hanya sebesar 3,5% dibandingkan tahun sebelumnya.Lihat Juga :