Genjot Produksi, PHE Pacu Reaktivasi Sumur Minyak Tak Aktif
Selasa, 04 Februari 2025 - 17:28 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Prabowo Panggil Bahlil ke Istana, Bahas Polemik Gas LPG 3 Kg?
Benny mengatakan, saat ini PHE mengelola wilayah kerja migas yang sebagian besar telah berusia di atas 30 tahun atau biasa disebut lapangan tua (mature). Untuk memproduksikan potensi minyak dari lapangan-lapangan tua ini dibutuhkan investasi yang cukup besar, antara lain untuk meningkatkan fasilitas yang sudah uzur. "Perlu investasi sangat besar untuk upgrade aging facilities sehingga dapat mengembalikan produksi menjadi lebih optimal,"jelasnya.
Kondisi lapangan yang tidak ekonomis tersebut mendorong PHE mengusulkan ke pemerintah untuk dilakukannya perbaikan fiskal sehingga pihaknya dapat memaksimalkan potensi lapangan-lapangan minyak tersebut. Perbaikan fiskal itu berupa skema bagi hasil yang lebih baik, sehingga operator dalam hal ini PHE bisa mempertahankan produksi dan menggali sumber daya lainnya yang berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional.
Persoalan lapangan migas Indonesia yang rata-rata telah berusia tua itu dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro. Dia mengatakan, sebanyak 52% dari 75 wilayah kerja migas produksi yang aktif tergolong dalam lapangan tua alias mature field. "Lima tahun terakhir 40-45% produksi minyak nasional diproduksi oleh lapangan yang sudah berproduksi selama 50 tahun,"tuturnya.
Untuk mengaktifkan kembali lapangan migas yang sudah tua itu diakuinya membutuhkan biaya cukup besar sehingga aspek keekonomian menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. "Hal ini berkaitan dengan model bisnis dan skema kerja sama dengan mitra, yang sering kali memiliki sudut pandang berbeda. Apakah investasi ini cukup layak? Itulah tantangan utama yang dihadapi," tuturnya.
Benny mengatakan, saat ini PHE mengelola wilayah kerja migas yang sebagian besar telah berusia di atas 30 tahun atau biasa disebut lapangan tua (mature). Untuk memproduksikan potensi minyak dari lapangan-lapangan tua ini dibutuhkan investasi yang cukup besar, antara lain untuk meningkatkan fasilitas yang sudah uzur. "Perlu investasi sangat besar untuk upgrade aging facilities sehingga dapat mengembalikan produksi menjadi lebih optimal,"jelasnya.
Kondisi lapangan yang tidak ekonomis tersebut mendorong PHE mengusulkan ke pemerintah untuk dilakukannya perbaikan fiskal sehingga pihaknya dapat memaksimalkan potensi lapangan-lapangan minyak tersebut. Perbaikan fiskal itu berupa skema bagi hasil yang lebih baik, sehingga operator dalam hal ini PHE bisa mempertahankan produksi dan menggali sumber daya lainnya yang berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional.
Persoalan lapangan migas Indonesia yang rata-rata telah berusia tua itu dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro. Dia mengatakan, sebanyak 52% dari 75 wilayah kerja migas produksi yang aktif tergolong dalam lapangan tua alias mature field. "Lima tahun terakhir 40-45% produksi minyak nasional diproduksi oleh lapangan yang sudah berproduksi selama 50 tahun,"tuturnya.
Untuk mengaktifkan kembali lapangan migas yang sudah tua itu diakuinya membutuhkan biaya cukup besar sehingga aspek keekonomian menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. "Hal ini berkaitan dengan model bisnis dan skema kerja sama dengan mitra, yang sering kali memiliki sudut pandang berbeda. Apakah investasi ini cukup layak? Itulah tantangan utama yang dihadapi," tuturnya.
(fjo)
Lihat Juga :