Boikot Pertemuan G20 Mencuat di Tengah Perseteruan AS dan Afsel
Minggu, 09 Februari 2025 - 22:04 WIB
loading...
A
A
A
"Saya tidak akan menghadiri KTT G20 di Johannesburg. Afrika Selatan melakukan hal-hal yang sangat buruk. Mengambil alih properti pribadi. Menggunakan G20 untuk mempromosikan solidaritas, kesetaraan, dan keberlanjutan. Dengan kata lain: DEI dan perubahan iklim," tulis Rubio di X.
"Tugas saya adalah memajukan kepentingan nasional Amerika, bukan membuang-buang uang pembayar pajak atau memanjakan anti-Amerika," tambahnya.
Pernyataan tersebut langsung mendapatkan respons dari, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola yang mengatakan, bahwa "Kepresidenan G20 Pretoria, tidak terbatas hanya pada perubahan iklim, tetapi juga perlakuan yang adil untuk negara-negara di Global South, memastikan sistem global yang setara untuk semua."
Sementara Presiden Trump mengatakan, bahwa dia menghentikan pendanaan ke Afrika Selatan, usai menuduh pemerintah negara itu "menyita" tanah dan "memperlakukan kelas orang tertentu dengan sangat buruk." Pemimpin AS itu menyatakan bahwa Washington "tidak akan diam" untuk "pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran" Pretoria.
Ancaman itu menyusul disahkannya Undang-Undang Pengambilalihan oleh Pretoria yang bertujuan untuk mengatasi kesenjangan rasial dalam kepemilikan tanah, masalah lama dalam ekonomi paling maju di Afrika sejak Apartheid berakhir pada tahun 1994.
Pemerintah Afsel memasang target bakal mentransfer 30% lahan pertanian yang sebagian besar dimiliki petani kulit putih, kepada rekan-rekan kulit hitam hingga pada tahun 2030.
"Tugas saya adalah memajukan kepentingan nasional Amerika, bukan membuang-buang uang pembayar pajak atau memanjakan anti-Amerika," tambahnya.
Pernyataan tersebut langsung mendapatkan respons dari, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola yang mengatakan, bahwa "Kepresidenan G20 Pretoria, tidak terbatas hanya pada perubahan iklim, tetapi juga perlakuan yang adil untuk negara-negara di Global South, memastikan sistem global yang setara untuk semua."
Sementara Presiden Trump mengatakan, bahwa dia menghentikan pendanaan ke Afrika Selatan, usai menuduh pemerintah negara itu "menyita" tanah dan "memperlakukan kelas orang tertentu dengan sangat buruk." Pemimpin AS itu menyatakan bahwa Washington "tidak akan diam" untuk "pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran" Pretoria.
Ancaman itu menyusul disahkannya Undang-Undang Pengambilalihan oleh Pretoria yang bertujuan untuk mengatasi kesenjangan rasial dalam kepemilikan tanah, masalah lama dalam ekonomi paling maju di Afrika sejak Apartheid berakhir pada tahun 1994.
Pemerintah Afsel memasang target bakal mentransfer 30% lahan pertanian yang sebagian besar dimiliki petani kulit putih, kepada rekan-rekan kulit hitam hingga pada tahun 2030.
Lihat Juga :