Subsidi Tak Efektif Dongkrak Daya Beli, Stok Motor Listrik Numpuk di Dealer
Selasa, 11 Februari 2025 - 15:05 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia inflasi yang fluktuatif, harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, serta ketidakpastian ekonomi pasca-pandemi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. "Alih-alih membeli motor listrik, banyak yang lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan pokok dan menghemat pengeluaran," kata dia.
Hal itu berdampak langsung pada permintaan motor listrik, yang menurun drastis dan menyebabkan dealer-dealer mengalami surplus stok yang sulit terjual. Meskipun motor listrik menawarkan biaya operasional yang lebih rendah dan bebas pajak, harga awal yang masih cukup tinggi tetap menjadi penghalang utama bagi banyak kalangan.
Lebih jauh, skema subsidi motor listrik ini masih memiliki banyak kelemahan. Penyerapannya rendah, dan lebih banyak menguntungkan motor listrik dari luar negeri ketimbang produk lokal. Akibatnya, motor listrik asal luar negeri tetap lebih digemari dibandingkan motor listrik buatan dalam negeri, yang harganya lebih terjangkau. Selain itu, ada juga kekhawatiran masyarakat terkait biaya perawatan dan ketahanan baterai motor listrik. Dalam jangka panjang, biaya tambahan bisa saja muncul dan menambah beban finansial.
Tak hanya itu, masalah infrastruktur juga turut menghambat penjualan motor listrik. Achmad mengatakan, akses ke stasiun pengisian daya yang terbatas, terutama di daerah pinggiran dan pedesaan, menjadikan motor listrik belum menjadi pilihan utama.
"Bandingkan dengan motor bensin yang mudah mengisi bahan bakar di SPBU yang tersebar luas, motor listrik memerlukan ekosistem pengisian daya yang lebih lengkap. Jika infrastruktur pengisian daya masih minim, insentif atau subsidi apapun tidak akan banyak membantu peningkatan penjualan motor listrik," ungkapnya.
Hal itu berdampak langsung pada permintaan motor listrik, yang menurun drastis dan menyebabkan dealer-dealer mengalami surplus stok yang sulit terjual. Meskipun motor listrik menawarkan biaya operasional yang lebih rendah dan bebas pajak, harga awal yang masih cukup tinggi tetap menjadi penghalang utama bagi banyak kalangan.
Lebih jauh, skema subsidi motor listrik ini masih memiliki banyak kelemahan. Penyerapannya rendah, dan lebih banyak menguntungkan motor listrik dari luar negeri ketimbang produk lokal. Akibatnya, motor listrik asal luar negeri tetap lebih digemari dibandingkan motor listrik buatan dalam negeri, yang harganya lebih terjangkau. Selain itu, ada juga kekhawatiran masyarakat terkait biaya perawatan dan ketahanan baterai motor listrik. Dalam jangka panjang, biaya tambahan bisa saja muncul dan menambah beban finansial.
Infrastruktur yang Belum Memadai
Tak hanya itu, masalah infrastruktur juga turut menghambat penjualan motor listrik. Achmad mengatakan, akses ke stasiun pengisian daya yang terbatas, terutama di daerah pinggiran dan pedesaan, menjadikan motor listrik belum menjadi pilihan utama.
"Bandingkan dengan motor bensin yang mudah mengisi bahan bakar di SPBU yang tersebar luas, motor listrik memerlukan ekosistem pengisian daya yang lebih lengkap. Jika infrastruktur pengisian daya masih minim, insentif atau subsidi apapun tidak akan banyak membantu peningkatan penjualan motor listrik," ungkapnya.
Lihat Juga :