alexametrics

Pasar Saham Sepekan Ini Masih Dihantui Virus Corona

loading...
Pasar Saham Sepekan Ini Masih Dihantui Virus Corona
Aktivitas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pasar saham sepekan ini masih dihantui oleh perkembangan wabah virus corona. Beragam stimulus yang diberikan belum mampu menggairahkan pasar saham Asia dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, tekanannya tidak sebesar pekan sebelumnya.

IHSG cenderung membaik namun belum mampu menembus level 6.000. Pada perdagangan Senin 17 Februari, IHSG ditutup di level 5.865,10. Dan akhir pekan lalu, Jumat 21 Februari, IHSG berada di level 5.882,26. Stimulus dari Bank Indonesia dengan menurunkan suku bunga acuan 25 basis point (bps) menjadi 4,75% belum mampu berbuat banyak.

Pun demikian dengan langkah The People's Bank of China (bank sentral China) yang menurunkan suku bunga kredit bertenor 1 tahun sebanyak 10 bps dan bunga kredit tenor 5 tahun sebesar 5 bps.



Bank sentral China juga mengumumkan akan memberi pendanaan jangka menengah sebesar 200 miliar yuan (USD29 miliar) kepada perbankan komersial dan memangkas suku bunga utamanya 10 bps menjadi 3,15%.

Menteri Keuangan Liu Kun mengatakan pemerintah China merencanakan pemotongan pajak dan akan meningkatkan belanja pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal bagi perekonomian demi mengatasi dampak ekonomi akibat wabah virus corona. Namun upaya tersebut hanya sedikit dicerna oleh pasar saham Asia.

"Pasar saham global terutama Asia dan Indonesia sepekan ini masih dipengaruhi oleh penyebaran virus corona. Namun demikian, lebih baik dibanding tekanan pada pekan sebelumnya karena kabar perlambatan penyebaran virus corona," ujar Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee kepada SINDOnews di Jakarta, Sabtu (22/2/2020).

Hans Kwee menambahkan bila virus corona berhasil ditanggulangi, maka dampak ekonomi dan bisnis akan menjadi pusat perhatian pasar. Jika tidak diatasi segera ini akan terjadi risiko koreksi terus menerus kedepannya.

Dampak ekonomi akibat virus corona tergolong besar. Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mengatakan perbankan China bisa mengalami kredit macet sebanyak USD1,1 triliun karena virus corona yang berakibat tekanan pada ekonomi China.

"Hal ini membuat potensi terjadinya risiko korekais pada indeks pasar saham dunia kedepannya," kata Hans Kwee.

Dan dampak ekonomi virus corona masih akan berlanjut di pekan depan. Karena itu, Hans merekomendasikan pelaku pasar untuk melakukan BOW (buy on weakness) ketika terjadi koreksi.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak