Praktisi Migas: Tidak Ada Bensin yang Tak Di-Blending
Minggu, 02 Maret 2025 - 14:26 WIB
loading...
Praktisi migas menegaskan bahwa proses blending pasti dilakukan dalam memproduksi bahan bakar bensin/gasoline. FOTO/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Bensin yang juga dikenal sebagai gasoline atau mogas (motor gasoline), merupakan salah satu bahan bakar yang sangat umum untuk kendaraan bermotor. Mutu bensin ditentukan oleh Research Octane Number (RON), yang mengukur kemampuan bahan bakar untuk menahan knocking atau efek ngelitik, yang dapat mengganggu kinerja mesin.
Berdasarkan buku Teknologi Kendaraan Berbahan Bakar LPG (2019) oleh Muji Setiyo dan Suyitno, bahan bakar dengan angka oktan atau RON rendah cenderung menyebabkan gejala knocking, terutama saat mesin beroperasi pada beban tinggi. Sebaliknya, semakin tinggi angka oktan, semakin baik ketahanan bahan bakar terhadap knocking, yang berujung pada peningkatan efisiensi mesin.
Baca Juga: LEMIGAS Uji Kualitas BBM Pertamina dan Nilai RON Diukur dari 75 Sampel, Begini Hasilnya
Praktisi migas Inas Nasrullah Zubir mengatakan, di pasar internasional, terdapat beberapa harga publikasi untuk gasoline, antara lain MOPS/ARGUS gasoline RON 92, RON 95, RON 98, dan RON 100. Namun, gasoline RON 90 hanya diproduksi di Jepang dan Indonesia untuk pasar domestik.
"Di Indonesia, Harga Indeks Pasar ditentukan berdasarkan keputusan menteri ESDM (Kepmen ESDM), yaitu 99,21 persen dari publikasi harga gasoline RON 92," ujar Inas dalam keterangannya, dikutip Minggu (2/3/2025).
Bensin atau gasoline, jelas dia, diperoleh melalui proses blending atau pencampuran antara naphta dan High Octane Motor Component (HOMC). Naphta, yang dihasilkan dari destilasi minyak bumi di kilang, memiliki angka RON yang berkisar antara 60 hingga 80.
"Oleh karena itu, diperlukan campuran tambahan untuk meningkatkan nilai oktan (RON) agar sesuai dengan kebutuhan spesifik. Sebagai contoh, untuk memproduksi gasoline RON 92, naphta akan di-blending dengan HOMC 92," terangnya.
Berdasarkan buku Teknologi Kendaraan Berbahan Bakar LPG (2019) oleh Muji Setiyo dan Suyitno, bahan bakar dengan angka oktan atau RON rendah cenderung menyebabkan gejala knocking, terutama saat mesin beroperasi pada beban tinggi. Sebaliknya, semakin tinggi angka oktan, semakin baik ketahanan bahan bakar terhadap knocking, yang berujung pada peningkatan efisiensi mesin.
Baca Juga: LEMIGAS Uji Kualitas BBM Pertamina dan Nilai RON Diukur dari 75 Sampel, Begini Hasilnya
Praktisi migas Inas Nasrullah Zubir mengatakan, di pasar internasional, terdapat beberapa harga publikasi untuk gasoline, antara lain MOPS/ARGUS gasoline RON 92, RON 95, RON 98, dan RON 100. Namun, gasoline RON 90 hanya diproduksi di Jepang dan Indonesia untuk pasar domestik.
"Di Indonesia, Harga Indeks Pasar ditentukan berdasarkan keputusan menteri ESDM (Kepmen ESDM), yaitu 99,21 persen dari publikasi harga gasoline RON 92," ujar Inas dalam keterangannya, dikutip Minggu (2/3/2025).
Bensin atau gasoline, jelas dia, diperoleh melalui proses blending atau pencampuran antara naphta dan High Octane Motor Component (HOMC). Naphta, yang dihasilkan dari destilasi minyak bumi di kilang, memiliki angka RON yang berkisar antara 60 hingga 80.
"Oleh karena itu, diperlukan campuran tambahan untuk meningkatkan nilai oktan (RON) agar sesuai dengan kebutuhan spesifik. Sebagai contoh, untuk memproduksi gasoline RON 92, naphta akan di-blending dengan HOMC 92," terangnya.
Lihat Juga :