Kena Tarif Impor Trump 32 Persen, Indonesia Butuh Gebrakan
Kamis, 03 April 2025 - 20:54 WIB
loading...
Anggota Komisi VI DPR meminta, pemerintah merespons cepat kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait tarif impor timbal balik atau Reciprocal Tarrifs terhadap Indonesia senilai 32%. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR, Firnando Hadityo Ganinduto meminta, pemerintah merespons cepat kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait tarif impor timbal balik atau Reciprocal Tarrifs terhadap Indonesia senilai 32%.
Jika tak diantisipasi dengan cepat dapat pengaruhi industri dalam negeri . "Pemerintah harus segera membuat sesuatu gebrakan melindungi industri Indonesia yang biasa di ekspor. Apalagi Amerika merupakan tujuan utama ekspor selain China dan Jepang. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan, tarif ekspor sebesar 32 persen terlalu memberatkan,” kata Firnando, Kamis (3/4/2025).
Baca Juga: Sekilas Tarif Trump terhadap China, Uni Eropa, dan Puluhan Negara Lainnya
Industri yang dikhawatirkan salah satunya ialah garmen , karena banyak yang gulung tikar dan kesulitan membayar pesangon. Penerapan kebijakan AS mengenai tarif perdagangan terbaru terhadap negara-negara mitra dagang utamanya bakal menggangu ekspor industri garmen dan jelas membuat keadaan makin terpuruk.
"Dampaknya pasti besar, waktu itu saya pernah bilang dengan Menteri Perdagangan kalau tarif masuk ke Amerika itu tidak boleh tinggi-tinggi, karena garmen kita lumayan banyak kirim ke sana," ucap Firnando.
Di sisi lain, adanya penurunan ekspor dari 2023 ke 2024 berada di kisaran 8%, membuat Indonesia harus mampu untuk menggerek persentase ini untuk naik positif.
“Jika pemerintah tidak berhasil menegosiasikan tarif impor timbal balik dengan Amerika Serikat, maka opsi lain tentunya melihat peluang untuk relokasi industri ke negara lain yang lebih aman,” jelas Firnando.
Jika tak diantisipasi dengan cepat dapat pengaruhi industri dalam negeri . "Pemerintah harus segera membuat sesuatu gebrakan melindungi industri Indonesia yang biasa di ekspor. Apalagi Amerika merupakan tujuan utama ekspor selain China dan Jepang. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan, tarif ekspor sebesar 32 persen terlalu memberatkan,” kata Firnando, Kamis (3/4/2025).
Baca Juga: Sekilas Tarif Trump terhadap China, Uni Eropa, dan Puluhan Negara Lainnya
Industri yang dikhawatirkan salah satunya ialah garmen , karena banyak yang gulung tikar dan kesulitan membayar pesangon. Penerapan kebijakan AS mengenai tarif perdagangan terbaru terhadap negara-negara mitra dagang utamanya bakal menggangu ekspor industri garmen dan jelas membuat keadaan makin terpuruk.
"Dampaknya pasti besar, waktu itu saya pernah bilang dengan Menteri Perdagangan kalau tarif masuk ke Amerika itu tidak boleh tinggi-tinggi, karena garmen kita lumayan banyak kirim ke sana," ucap Firnando.
Di sisi lain, adanya penurunan ekspor dari 2023 ke 2024 berada di kisaran 8%, membuat Indonesia harus mampu untuk menggerek persentase ini untuk naik positif.
“Jika pemerintah tidak berhasil menegosiasikan tarif impor timbal balik dengan Amerika Serikat, maka opsi lain tentunya melihat peluang untuk relokasi industri ke negara lain yang lebih aman,” jelas Firnando.
Lihat Juga :