WTO: Perang Tarif, Perdagangan AS-China Bisa Terpangkas hingga 80 Persen

Kamis, 10 April 2025 - 13:44 WIB
loading...
WTO: Perang Tarif, Perdagangan...
Perang tarif antara AS dan China diproyeksi menurunkan perdagangan bilateral hingga 80%. FOTO/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS) dengan China, kian memanas. Presiden Donald Trump kembali menaikkan tarif impor terhadap China hingga 125 persen pada hari Rabu (9/4) setelah Beijing membalas tarif yang lebih dulu dikenakan AS dengan tarif balasan sebesar 84persen.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pun menyuarakan keprihatinannya atas perang tarif kedua negara tersebut. Direktur jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala dalam sebuah pernyataan mengatakan, meningkatnya ketegangan perdagangan antara kedua negara menimbulkan risiko signifikan berupa kontraksi tajam dalam perdagangan bilateral.

Baca Juga: Trump Tunda Tarif ke Puluhan Negara Selama 90 Hari, China Tetap Digebuk 125%

"Proyeksi awal kami menunjukkan bahwa perdagangan barang antara kedua ekonomi ini dapat menurun hingga 80 persen," kata Okonjo-Iweala seperti dilansir AFP, Kamis (10/4/2025).

Dia menambahkan, Amerika Serikat dan China bersama-sama menyumbang 3 persen dari perdagangan dunia. Karenanya, konflik antara kedua negara tersebut dapat "sangat merusak prospek ekonomi global".

Okonjo-Iweala memperingatkan bahwa ekonomi dunia berisiko terpecah menjadi dua blok, di mana satu akan berpusat di sekitar Amerika Serikat dan yang lainnya di sekitar China. "Yang menjadi perhatian khusus adalah potensi fragmentasi perdagangan global di sepanjang garis geopolitik. Pembagian ekonomi global menjadi dua blok dapat menyebabkan pengurangan jangka panjang dalam PDB riil global hingga hampir7 persen," katanya.

Dia pun mendesak semua anggota WTO untuk mengatasi tantangan ini melalui kerja sama dan dialog. "Sangat penting bagi komunitas global untuk bekerja sama guna menjaga keterbukaan sistem perdagangan internasional," tegas Okonjo-Iweala.

Baca Juga: Pengamat: Korban Terparah dari Tarif Trump adalah Produsen Mobil AS

"Anggota WTO memiliki kewenangan untuk melindungi sistem perdagangan yang terbuka dan berbasis aturan. WTO berfungsi sebagai platform penting untuk dialog. Menyelesaikan masalah ini dalam kerangka kerja sama sangatlah penting," tambahnya.

Seteru antara Amerika Serikat dan China kian runcing, karena tak seperti sikapnya terhadap puluhan negara lain yang diberi penundaan pengenaan tarif tinggi, Trump justru menaikkan bea masuk atas barang-barang China hingga 104 persen. Kemudian, dalam hitungan jam kembali menaikkannya lebih jauh ketika China membalas dengan menaikkan tarif atas impor AS hingga 84 persen.

Dalam sebuah unggahan media sosial yang mengumumkan langkah-langkah tersebut, Trump mengatakan China telah dipilih untuk mendapatkan perlakuan khusus karena "kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan China kepada Pasar Dunia".

Pasar saham AS telah merosot sekitar 10 persen dalam seminggu terakhir karena meningkatnya ketegangan perdagangan, tetapi melonjak setelah Trump mengumumkan jeda penerapan tarif impor resiprokalnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
Trump-Xi Jinping Bertemu...
Trump-Xi Jinping Bertemu Tanpa Kesepakatan Logam Tanah Jarang, Perang Dagang Masih Membayangi
Rusia Jadi Penyelamat...
Rusia Jadi Penyelamat saat AS Blokade Total Hormuz, Sinyal Perang Ekonomi Baru?
China Terus Perkuat...
China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
Diancam Trump, Taiwan:...
Diancam Trump, Taiwan: Kita Adalah Negara Merdeka
Pertemuan Xi Jinping...
Pertemuan Xi Jinping dan Trump Gagal Buat Terobosan Perang Iran, Ini 3 Faktanya
Rekomendasi
Perlukah Melakukan Resolusi...
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Kasus Erin Berbalik...
Kasus Erin Berbalik Arah? Bukti Psikologis Nur Disebut Untungkan Herawati
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved