3 Alasan Trump Nekat Kobarkan Perang Dagang dengan China

Jum'at, 11 April 2025 - 11:41 WIB
loading...
3 Alasan Trump Nekat...
Tiga alasan utama di balik kebijakan perang dagang Trump terhadap China. FOTO/iStock
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memicu perang dagang dengan China dengan memberlakukan tarif sebesar 125% terhadap barang-barang impor asal Negeri Tirai Bambu. Langkah ini langsung dibalas oleh Beijing dengan mengenakan tarif balasan sebesar 84% terhadap produk-produk asal AS.

Meskipun Trump juga mengenakan tarif tinggi terhadap sejumlah negara lain, kebijakan tersebut sempat ditangguhkan selama 90 hari. Trump beralasan bahwa tarif akan mendongkrak sektor manufaktur domestik dan melindungi lapangan kerja di Amerika. Namun, kebijakan ini justru memicu kekacauan dalam perekonomian global dan dikhawatirkan akan menyebabkan kenaikan harga bagi konsumen.

Baca Juga: Trump Tambah Tarif Impor dari China Jadi 145%, Importir AS Kocar-kacir

Sebagai informasi, tarif adalah pajak atas barang yang diimpor dari luar negeri, biasanya dalam bentuk persentase dari nilai produk. Misalnya, tarif 125% atas barang China berarti barang senilai USD10 akan dikenai pajak sebesar USD12,50, sehingga total harga menjadi USD22,50.

Selama beberapa dekade, Trump berpendapat bahwa tarif dapat menjadi alat untuk memperkuat ekonomi AS. Ia mengklaim, kebijakan tersebut akan mendorong warga Amerika untuk membeli produk lokal, meningkatkan penerimaan pajak, dan menarik lebih banyak investasi dalam negeri.

Melansir BBC, Trump menegaskan ingin mengurangi ketimpangan antara nilai barang yang dibeli AS dari negara lain dan nilai barang yang dijual ke negara-negara tersebut. Menurutnya, Amerika telah "dimanfaatkan" dan "dijarah" oleh pihak asing dan tarif merupakan cara untuk mengakhiri praktik tersebut.

Baca Juga: Soal Tarif Impor, Trump: Banyak Negara Ingin 'Cium Pantat Saya' untuk Negosiasi


Berikut adalah tiga alasan utama di balik kebijakan perang dagang Trump terhadap China:


1. Masalah Defisit Perdagangan


Trump berulang kali menyoroti defisit perdagangan AS dengan China yang mencapai lebih dari USD300 miliar per tahun. Ia menilai bahwa ketidakseimbangan ini mencerminkan praktik dagang yang tidak adil, di mana China mengekspor jauh lebih banyak ke AS dibandingkan yang diimpornya. Tarif diberlakukan untuk mengurangi ketimpangan ini dan memaksa China membuka akses yang lebih adil bagi produk Amerika.


2. Pencurian Kekayaan Intelektual dan Transfer Teknologi Paksa


Perusahaan-perusahaan Amerika yang beroperasi di China seringkali dipaksa berbagi teknologi dengan mitra lokal sebagai syarat untuk bisa berbisnis di sana. Pemerintahan Trump menuduh China melakukan pencurian kekayaan intelektual secara sistemik dan menerapkan kebijakan transfer teknologi secara paksa, yang dinilai memberikan keunggulan tidak adil bagi perusahaan-perusahaan China.


3. Kebijakan Industri China dan Intervensi Negara


Program ambisius seperti Made in China 2025 dirancang untuk menjadikan China sebagai pemimpin dalam industri-industri strategis seperti kecerdasan buatan, robotika, dan teknologi tinggi lainnya. Amerika memandang kebijakan ini sebagai ancaman langsung terhadap dominasinya dalam bidang teknologi.

Apalagi, banyak perusahaan China mendapatkan subsidi besar dari pemerintah, yang menurut AS merusak prinsip persaingan pasar global. Perang dagang ini menandai pergeseran besar dalam pendekatan AS terhadap hubungan dagang dengan China dan menciptakan ketidakpastian di pasar global. Dampaknya terasa tidak hanya di kedua negara, tetapi juga di seluruh dunia.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Rekomendasi
Ayyoub Bouaddi Moncer...
Ayyoub Bouaddi Moncer di Debut Piala Dunia, Gelandang 18 Tahun Maroko Berhasil Redam Brasil
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Erick Thohir Terharu...
Erick Thohir Terharu Saksikan Pernikahan Justin Hubner dan Jennifer Coppen
Berita Terkini
Tren Paylater Makin...
Tren Paylater Makin Menjangkit, Literasi Keuangan Dinilai Jadi Faktor Penting
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved