2 Senjata Pamungkas China Lawan Amerika dalam Perang Dagang
Sabtu, 12 April 2025 - 12:56 WIB
loading...
A
A
A
Beijing juga telah membatasi pengiriman mineral penting lainnya - termasuk germanium, galium, dan grafit - ke AS selama dua tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan AS dipastikan bakal kesulitan untuk mengisi kesenjangan tersebut. Diperlukan waktu rata-rata 29 tahun untuk beralih dari penemuan mineral hingga produksi di AS.
Seiring meningkatnya ketegangan dengan Washington, Beijing juga bisa menggunakan senjata pamungkas keduanya, yakni dengan membuang obligasi pemerintah AS - ancaman yang telah menimbulkan kegelisahan di pasar keuangan. China memegang utang AS sebesar USD761 miliar, atau sekira Rp12.784 triliun (kurs Rp16.800 per USD), menjadikannya pemegang utang AS asing terbesar kedua setelah Jepang.
Penjualan besar-besaran oleh China dapat menurunkan nilai obligasi AS dan menyebabkan melonjaknya imbal hasil, yang secara tajam meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah federal. Hal itu juga dapat melemahkan dolar AS dan mengirimkan gelombang kejut melalui pasar keuangan global.
Di luar obligasi pemerintah, China juga dapat lebih jauh mendevaluasi yuan - taktik yang telah digunakan berulang kali - untuk membuat ekspornya lebih kompetitif sambil mengurangi harga barang-barang Amerika di pasar domestiknya.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa AS mengeluarkan jeda tarif selama 90 hari, kecuali bagi China. Beijing tetap dikenai tarif, yang bahkan ditingkatkan hingga 145 persen setelah China membalas menaikkan tarif atas impor AS dari 84 persen menjadi 125 persen.
Namun, di tengah semua pernyataan keras tersebut, Trump terusberkomentar bahwa China sesungguhnya ingin membuat "kesepakatan" dengannya. "China ingin membuat kesepakatan. Mereka hanya tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Anda tahu, itu salah satu hal yang belum saya ketahui. Orang-orang yang bangga. Dan, Presiden Xi adalah orang yang bangga," katanya.
Seiring meningkatnya ketegangan dengan Washington, Beijing juga bisa menggunakan senjata pamungkas keduanya, yakni dengan membuang obligasi pemerintah AS - ancaman yang telah menimbulkan kegelisahan di pasar keuangan. China memegang utang AS sebesar USD761 miliar, atau sekira Rp12.784 triliun (kurs Rp16.800 per USD), menjadikannya pemegang utang AS asing terbesar kedua setelah Jepang.
Penjualan besar-besaran oleh China dapat menurunkan nilai obligasi AS dan menyebabkan melonjaknya imbal hasil, yang secara tajam meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah federal. Hal itu juga dapat melemahkan dolar AS dan mengirimkan gelombang kejut melalui pasar keuangan global.
Di luar obligasi pemerintah, China juga dapat lebih jauh mendevaluasi yuan - taktik yang telah digunakan berulang kali - untuk membuat ekspornya lebih kompetitif sambil mengurangi harga barang-barang Amerika di pasar domestiknya.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa AS mengeluarkan jeda tarif selama 90 hari, kecuali bagi China. Beijing tetap dikenai tarif, yang bahkan ditingkatkan hingga 145 persen setelah China membalas menaikkan tarif atas impor AS dari 84 persen menjadi 125 persen.
Namun, di tengah semua pernyataan keras tersebut, Trump terusberkomentar bahwa China sesungguhnya ingin membuat "kesepakatan" dengannya. "China ingin membuat kesepakatan. Mereka hanya tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Anda tahu, itu salah satu hal yang belum saya ketahui. Orang-orang yang bangga. Dan, Presiden Xi adalah orang yang bangga," katanya.
Lihat Juga :