2 Senjata Pamungkas China Lawan Amerika dalam Perang Dagang

Sabtu, 12 April 2025 - 12:56 WIB
loading...
2 Senjata Pamungkas...
China disebut memiliki 2 senjata utama yang dapat membuat Amerika Serikat (AS) menderita dalam perang dagang. FOTO/Ilustrasi/Dok.
A A A
JAKARTA - Tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China semakin tinggi. Kedua ekonomi terbesar dunia itu saling balas mengenakan tarif di atas 100 persen untuk impor barang-barang yang berasal dari negara masing-masing.

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, para ahli memperingatkan bahwa Presiden China Xi Jinping memiliki2 senjata utama yang dapat membuat Amerika menderita. Dua senjata itu adalah memangkas ekspor tanah jarang dan membuang obligasi pemerintah AS - tindakan yang dapat melumpuhkan sistem pertahanan AS, meningkatkan biaya pinjaman, dan memicu guncangan keuangan global.

Larangan total ekspor mineral tanah jarang, dinilai bisa membuat rudal, jet tempur, dan bahkan teknologi konsumen Amerika mati kutu. "Tidak ada satu pun pesawat jet milik Angkatan Udara Amerika Serikat yang tidak memiliki tanah jarang dalam berbagai bentuk, terutama dalam bentuk magnet," kata Mark Smith, CEO NioCorp dan veteran industri pertambangan mineral seperti dilansir Fox Business.

Baca Juga: Trump Tambah Tarif Impor dari China Jadi 145%, Importir AS Kocar-kacir

Jika China berhenti mengekspor tanah jarang, kata dia, dampaknya terhadap kesiapan militer AS akan langsung terasa. "Kacamata penglihatan malam, rudal hipersonik, rudal pintar yang menjadi rudal bodoh - maksud saya Anda benar-benar dapat menembaknya, tetapi rudal pintar tidak akan dapat mencapai tujuan mereka," ujar dia.

Minggu lalu, China menempatkan 7 jenis tanah jarang sedang dan berat pada daftar kontrol ekspor. Meskipun kontrol tersebut tidak sampai pada larangan langsung, Beijing masih dapat menghambat perdagangan dengan membatasi jumlah lisensi ekspor yang dikeluarkannya. China mendominasi 90% pasar tanah jarang global - sekelompok 17 elemen yang penting bagi industri pertahanan, energi, dan elektronik.

Beijing juga telah membatasi pengiriman mineral penting lainnya - termasuk germanium, galium, dan grafit - ke AS selama dua tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan AS dipastikan bakal kesulitan untuk mengisi kesenjangan tersebut. Diperlukan waktu rata-rata 29 tahun untuk beralih dari penemuan mineral hingga produksi di AS.

Seiring meningkatnya ketegangan dengan Washington, Beijing juga bisa menggunakan senjata pamungkas keduanya, yakni dengan membuang obligasi pemerintah AS - ancaman yang telah menimbulkan kegelisahan di pasar keuangan. China memegang utang AS sebesar USD761 miliar, atau sekira Rp12.784 triliun (kurs Rp16.800 per USD), menjadikannya pemegang utang AS asing terbesar kedua setelah Jepang.

Penjualan besar-besaran oleh China dapat menurunkan nilai obligasi AS dan menyebabkan melonjaknya imbal hasil, yang secara tajam meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah federal. Hal itu juga dapat melemahkan dolar AS dan mengirimkan gelombang kejut melalui pasar keuangan global.

Di luar obligasi pemerintah, China juga dapat lebih jauh mendevaluasi yuan - taktik yang telah digunakan berulang kali - untuk membuat ekspornya lebih kompetitif sambil mengurangi harga barang-barang Amerika di pasar domestiknya.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa AS mengeluarkan jeda tarif selama 90 hari, kecuali bagi China. Beijing tetap dikenai tarif, yang bahkan ditingkatkan hingga 145 persen setelah China membalas menaikkan tarif atas impor AS dari 84 persen menjadi 125 persen.

Namun, di tengah semua pernyataan keras tersebut, Trump terusberkomentar bahwa China sesungguhnya ingin membuat "kesepakatan" dengannya. "China ingin membuat kesepakatan. Mereka hanya tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Anda tahu, itu salah satu hal yang belum saya ketahui. Orang-orang yang bangga. Dan, Presiden Xi adalah orang yang bangga," katanya.

Baca Juga: China Balas Dendam ke AS, Naikkan Tarif Impor Jadi 125%

Langkah Xi selanjutnya mungkin bergantung pada seberapa besar penderitaan yang ingin ia timpakan pada ekonominya sendiri, mengingat perang dagang merugikan kedua belah pihak dalam hampir setiap skenario.

"Ia bukan pemimpin yang sama seperti pada tahun 2018," kata Nazak Nikakhtar, seorang pakar perdagangan dan mantan pejabat Departemen Perdagangan. "Ia telah menasionalisasi banyak kemampuan manufaktur berteknologi tinggi di China, termasuk semikonduktor dan AI. Ia telah mengonsolidasikan kekuasaan-ia mendekati akhir masa jabatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya, mencari masa jabatan keempat, dan ia telah menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Ia hanya lebih kuat secara ekonomi daripada sebelumnya, jadi saya pikir ia bersedia untuk membalas dengan keras."

Nikakhtar memperkirakan Xi akan meningkatkan pembalasan dengan terus membuang obligasi pemerintah AS dan memperluas larangan ekspor mineral penting. "Saya pikir dia benar-benar, sungguh-sungguh bersedia menanggung penderitaan sebanyak yang diperlukan secara internal untuk menimbulkan penderitaan di Barat. Dan saya pikir dia bisa lolos karena pemerintah China mengendalikan semua tuas ekonomi. Mereka tidak memiliki kekuatan pasar bebas yang menggerakkan banyak hal," katanya.

Namun, menurut Nikakhtar AS juga memiliki lebih banyak senjata di gudang arsenalnya. "Apakah kita mampu melakukan lebih dari yang telah kita lakukan dalam hal tidak hanya tarif, kontrol ekspor, pembatasan arus modal? Tentu saja. Apakah Departemen Keuangan berpotensi bersedia untuk melakukan beberapa sanksi serius yang dapat melumpuhkan bank-bank China? Saya pikir mereka bersedia," tandasnya.

(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Daftar Negara dengan...
Daftar Negara dengan Cadangan Mineral Tanah Jarang Terbesar Dunia, Ada Tetangga Indonesia
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
Trump-Xi Jinping Bertemu...
Trump-Xi Jinping Bertemu Tanpa Kesepakatan Logam Tanah Jarang, Perang Dagang Masih Membayangi
Bea Cukai Pangkal Pinang...
Bea Cukai Pangkal Pinang Sebut 15 Kontainer PMM Telah Memenuhi Syarat
China Terus Perkuat...
China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
China Blakblakan Targetkan...
China Blakblakan Targetkan Sekutu Utama AS di Asia, Begini Caranya
Rekomendasi
Pakar Hukum: Pernyataan...
Pakar Hukum: Pernyataan Mahfud MD Soal UU Polri Abaikan KPRP Membingungkan
Xbox Hadapi Tekanan...
Xbox Hadapi Tekanan Keuangan, CEO Mengancam Restrukturisasi
TB Hasanuddin Kritik...
TB Hasanuddin Kritik Pelibatan Komcad dalam Pengamanan Demo Mahasiswa: Berpotensi Picu Konflik Horizontal
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Pastikan Kualitas BBM dengan Pengelolaan Impurities di Kilang
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
Bank Mantap Dorong Penerapan...
Bank Mantap Dorong Penerapan Gaya Hidup Ramah Lingkungan di Sekolah
Stok BBM Global Menipis,...
Stok BBM Global Menipis, Dunia Sedang Menguras Cadangan Minyaknya
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai Besok 15 Juni 2026, Usaha Nasional Didata Tanpa Terkecuali
Prabowo Perintahkan...
Prabowo Perintahkan Rosan Jelaskan Kondisi Investasi RI di Istana Merdeka Besok
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved