PLN EPI Bangun Fondasi Hidrogen Hijau sebagai Pilar Transisi Energi
Minggu, 20 April 2025 - 10:09 WIB
loading...
Direktur Gas dan BBM PLN EPI Rakhmad Dewanto (kiri) bersama para pembicara lainnya di acara Global Hydrogen Ecosystem 2025 yang berlangsung di JCC. FOTO/Ist
A
A
A
JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia ( PLN EPI ) menegaskan komitmennya menjadi pelopor pengembangan ekosistem hidrogen hijau di Indonesia. Upaya ini merupakan bagian dari strategi besar PLN untuk mendukung target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia pada tahun 2060.
Hal ini disampaikan Direktur Gas dan BBM PLN EPI Rakhmad Dewanto di ajang Global Hydrogen Ecosystem 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (16/4) lalu. Rakhmad mengatakan, sektor ketenagalistrikan saat ini menyumbang sekitar 310 juta ton CO2 per tahun. Tanpa intervensi, angka tersebut diproyeksikan melonjak hingga 1.057 juta ton CO2 pada tahun 2060.
"PLN tidak bisa terus menjalankan skenario business-as-usual. Oleh karena itu, melalui skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), PLN memproyeksikan kapasitas cofiring hidrogen dapat mencapai 41 GW pada 2060 untuk mencapai NZE," ujar Rakhmad dalam keterangan tertulis, Minggu (20/4/2025).
Baca Juga: PLN Gandeng Sembcorp dan TGI Kembangkan Megaproyek Hidrogen Hijau di ASEAN
Dia menjelaskan, pengembangan green hydrogen dan ammonia menjadi salah satu inisiatif penting PLN untuk melengkapi pengembangan renewables energy, smart grid, dan CCS untuk mendukung keberhasilan dekarbonisasi. PLN telah merealisasikan beberapa proyek penting termasuk pendirian Green Hydrogen Plant (GHP) di 21 lokasi di pada Oktober-November 2023, pendirian Green Hydrogen dari Geothermal dan fasilitas pengisian bahan bakar hidrogen (HRS) di Senayan pada Februari 2024, Hydrogen Cofiring untuk PLTG Pesanggaran di Desember 2024, Hydrogen Fuel Cell di Gili Ketapang dan Ammonia cofiring untuk PLTU Labuan di Februari 2025.
Hal ini disampaikan Direktur Gas dan BBM PLN EPI Rakhmad Dewanto di ajang Global Hydrogen Ecosystem 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (16/4) lalu. Rakhmad mengatakan, sektor ketenagalistrikan saat ini menyumbang sekitar 310 juta ton CO2 per tahun. Tanpa intervensi, angka tersebut diproyeksikan melonjak hingga 1.057 juta ton CO2 pada tahun 2060.
"PLN tidak bisa terus menjalankan skenario business-as-usual. Oleh karena itu, melalui skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), PLN memproyeksikan kapasitas cofiring hidrogen dapat mencapai 41 GW pada 2060 untuk mencapai NZE," ujar Rakhmad dalam keterangan tertulis, Minggu (20/4/2025).
Baca Juga: PLN Gandeng Sembcorp dan TGI Kembangkan Megaproyek Hidrogen Hijau di ASEAN
Dia menjelaskan, pengembangan green hydrogen dan ammonia menjadi salah satu inisiatif penting PLN untuk melengkapi pengembangan renewables energy, smart grid, dan CCS untuk mendukung keberhasilan dekarbonisasi. PLN telah merealisasikan beberapa proyek penting termasuk pendirian Green Hydrogen Plant (GHP) di 21 lokasi di pada Oktober-November 2023, pendirian Green Hydrogen dari Geothermal dan fasilitas pengisian bahan bakar hidrogen (HRS) di Senayan pada Februari 2024, Hydrogen Cofiring untuk PLTG Pesanggaran di Desember 2024, Hydrogen Fuel Cell di Gili Ketapang dan Ammonia cofiring untuk PLTU Labuan di Februari 2025.
Lihat Juga :