Perang Dagang dan Penurunan Pendapatan Minyak Bikin Menkeu Rusia Was-was

Sabtu, 26 April 2025 - 09:15 WIB
loading...
Perang Dagang dan Penurunan...
Menteri Keuangan, Anton Siluanov memperingatkan, Rusia harus bersiap menghadapi potensi tekanan anggaran karena penurunan pendapatan minyak dan ketidakstabilan ekonomi global. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan, Anton Siluanov memperingatkan, Rusia harus bersiap menghadapi potensi tekanan anggaran karena penurunan pendapatan minyak dan ketidakstabilan ekonomi global. Seperti diketahui perang dagang global semakin memanas yang dipicu tarif impor terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap hampir semua mitra dagangnya.

Pada pertemuan belum lama ini seperti dilansir RT, Siluanov mendukung peningkatan cadangan fiskal dan merevisi aturan anggaran yang dinilai sudah 'ketinggalan zaman'. Ditambah pendapatan minyak melebihi ambang batas USD60 per barel dialihkan ke National Wealth Fund (NWF).

Dirancang untuk melindungi ekonomi dari perubahan harga komoditas, terutama di minyak, Sulianov berpendapat dana tersebut harus mencakup "tiga tahun pembiayaan pengeluaran tanpa gangguan."

Baca Juga: Digempur Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak 15 Miliarder Baru

"Situasi global saat ini membutuhkan perhatian khusus terhadap ketahanan keuangan publik terhadap berbagai skenario pembangunan ekonomi global," katanya, Rabu.

Risiko utama datang dari 'berlangsungnya perang dagang ', yang memotong peluang ekspor bagi negara-negara, termasuk Rusia. Menurutnya, pengeluaran harus disesuaikan untuk mencerminkan 'realitas baru'.

"Kami harus lebih sederhana dalam keinginan kami dan memastikan pengembalian yang lebih besar dari setiap rubel di anggaran," katanya.

Pendapatan minyak dan gas Rusia hanya terdiri dari seperempat dari anggaran federal, Sulianov mencatat, ada pengurangan ketergantungan yang signifikan pada sektor tersebut. Pendapatan minyak dan gas mencapai 2,64 triliun rubel (USD28,4 miliar) pada kuartal pertama tahun 2025, turun 9,8% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, menurut perkiraan awal Kementerian Keuangan.

Perdana Menteri Mikhail Mishustin juga berpidato dalam pertemuan tersebut, mendesak kementerian untuk fokus pada stabilitas makroekonomi dan bersiap untuk bereaksi terhadap fluktuasi pasar.

"Penting untuk memberikan perhatian khusus pada langkah-langkah untuk mencegah risiko anggaran," kata Mishustin.

"Kita harus, dan tentu saja bersiap untuk perubahan dan menyusun berbagai skenario berdasarkan situasi saat ini," paparnya.

Harga minyak terus menyusut dengan tajam sejak awal April, tertekan oleh tarif perdagangan AS dan keputusan tidak terduga OPEC+ untuk meningkatkan produksi. Negara-negara anggota setuju untuk meningkatkan produksi sebesar 411.000 barel per hari mulai Mei, tiga kali lipat dari kenaikan yang direncanakan semula sebesar 135.000 barel per hari.

Baca Juga: Bank Sentral Rusia Memperingatkan Kejatuhan Harga Minyak era 80-an Bisa Terulang

Pada 9 April, harga minyak mentah Ural Rusia turun di bawah USD50 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni 2023. Sebelumnya di bulan Maret, Kementerian Keuangan mengatakan pihaknya memperkirakan harga minyak rata-rata pada tahun 2025 mendekati USD60 per barel, turun dari USD70 yang dianggarkan. Perkiraan Kementerian Pembangunan Ekonomi bahkan lebih rendah, yaitu USD56 per barel.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Rekomendasi
Polda Metro Tangkap...
Polda Metro Tangkap Perampok Minimarket di Bekasi, Pelaku Tercatat sebagai Mahasiswa
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved