ISEI Dorong Hilirisasi Perikanan Lewat Investasi dan Penguatan Rantai Pasok
Sabtu, 26 April 2025 - 15:28 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu Machmud, selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menekankan pentingnya membangun konektivitas hulu-hilir berbasis kawasan industri perikanan terpadu.
Ia menjelaskan, bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada kuantitas produksi, melainkan juga pada peningkatan kualitas produk melalui standardisasi mutu, sertifikasi keberlanjutan, dan penguatan sistem traceability untuk memperluas akses pasar ekspor, khususnya ke pasar Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.
Dari sudut pandang dunia usaha, Abrizal Ang, pelaku industri perikanan, menyampaikan tantangan nyata yang dihadapi sektor hilir, mulai dari fluktuasi pasokan bahan baku akibat ketergantungan pada perikanan tangkap, hingga tingginya biaya logistik dan keterbatasan infrastruktur cold chain. Ia menyoroti pentingnya dukungan insentif fiskal, simplifikasi regulasi ekspor, dan perlindungan terhadap usaha pengolahan domestik agar industri nasional mampu bersaing di tengah derasnya tekanan global.
Melengkapi pandangan tersebut, Nurjanah (Guru Besar IPB University dan Ketua MPHPI) menekankan perlunya penguatan inovasi dan riset berbasis kelautan dalam membangun ekosistem hilirisasi yang berdaya saing tinggi. Ia mendorong diversifikasi produk olahan hasil laut, seperti pangan fungsional berbasis rumput laut, kosmetik berbahan alami, hingga biofarmasi kelautan, sebagai jalan untuk meningkatkan nilai tambah sektor ini.
Menurutnya, pengembangan industri perikanan masa depan harus mengintegrasikan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan berbasis pada inovasi teknologi.
Diskusi mengidentifikasi sejumlah tantangan utama yang perlu segera diatasi, antara lain dominasi ekspor produk dalam bentuk bahan mentah yang mencapai 61% dari total ekspor hasil laut Indonesia, ketidakpastian pasokan bahan baku akibat bergantung pada musim perikanan tangkap, tingginya biaya logistik nasional, serta rendahnya tingkat industrialisasi berbasis kelautan.
Ia menjelaskan, bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada kuantitas produksi, melainkan juga pada peningkatan kualitas produk melalui standardisasi mutu, sertifikasi keberlanjutan, dan penguatan sistem traceability untuk memperluas akses pasar ekspor, khususnya ke pasar Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.
Dari sudut pandang dunia usaha, Abrizal Ang, pelaku industri perikanan, menyampaikan tantangan nyata yang dihadapi sektor hilir, mulai dari fluktuasi pasokan bahan baku akibat ketergantungan pada perikanan tangkap, hingga tingginya biaya logistik dan keterbatasan infrastruktur cold chain. Ia menyoroti pentingnya dukungan insentif fiskal, simplifikasi regulasi ekspor, dan perlindungan terhadap usaha pengolahan domestik agar industri nasional mampu bersaing di tengah derasnya tekanan global.
Melengkapi pandangan tersebut, Nurjanah (Guru Besar IPB University dan Ketua MPHPI) menekankan perlunya penguatan inovasi dan riset berbasis kelautan dalam membangun ekosistem hilirisasi yang berdaya saing tinggi. Ia mendorong diversifikasi produk olahan hasil laut, seperti pangan fungsional berbasis rumput laut, kosmetik berbahan alami, hingga biofarmasi kelautan, sebagai jalan untuk meningkatkan nilai tambah sektor ini.
Menurutnya, pengembangan industri perikanan masa depan harus mengintegrasikan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan berbasis pada inovasi teknologi.
Diskusi mengidentifikasi sejumlah tantangan utama yang perlu segera diatasi, antara lain dominasi ekspor produk dalam bentuk bahan mentah yang mencapai 61% dari total ekspor hasil laut Indonesia, ketidakpastian pasokan bahan baku akibat bergantung pada musim perikanan tangkap, tingginya biaya logistik nasional, serta rendahnya tingkat industrialisasi berbasis kelautan.
Lihat Juga :