AS Cabut Sanksi Rusia Terkait Proyek Minyak Internasional

Jum'at, 16 Mei 2025 - 13:03 WIB
loading...
AS Cabut Sanksi Rusia...
Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengizinkan perusahaan-perusahaan Amerika dan internasional untuk melanjutkan pekerjaan terkait proyek minyak yang terkait dengan Rusia. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengizinkan perusahaan- perusahaan Amerika dan internasional untuk melanjutkan pekerjaan terkait proyek minyak yang terkait dengan Rusia . Hal ini membuat pengiriman minyak Kaspia ke pasar global bisa kembali dilakukan, tanpa takut dibayangi sanksi Amerika .

Lisensi yang mencabut pembatasan pada Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) dan perusahaan Kazakhstan Tengizchevroil (TCO), diterbitkan oleh Kementerian Keuangan AS. Konsorsium tersebut mencakup perusahaan raksasa minyak besar AS seperti Chevron dan ExxonMobil.

Selain itu didukung juga oleh beberapa perusahaan yang memfasilitasi ekspor minyak Kazakh melalui wilayah Rusia dan pengirimannya secara internasional. Baca Juga: Rusia dan China Kebut Mega Proyek Pipa Gas Baru Berjuluk Power of Siberia 2

Lisensi Umum No.124 yang baru mengizinkan semua transaksi yang sebelumnya diblokir berdasarkan keputusan 10 Januari yang melarang layanan minyak tertentu yang melibatkan infrastruktur energi terkait Rusia.

CPC mengoperasikan pipa utama yang mengangkut minyak dari Kazakhstan barat ke pantai Laut Hitam Rusia, dari mana minyak tersebut dikirim secara global menggunakan kapal tanker. Pipa sepanjang 1.511 kilometer ini adalah salah satu jalur ekspor terpenting untuk minyak Kazakhstan, dimana mengangkut lebih dari 80% ekspor minyak mentah negara tersebut.

Pipa minyak itu dimiliki bersama oleh beberapa perusahaan dan pemerintah. Rusia tercatat memegang 24% saham melalui operator milik negara, Transneft.

Pemegang saham besar lainnya termasuk Chevron, ExxonMobil, Lukoil Rusia, dan perusahaan minyak nasional KazMunayGas dari Kazakhstan. Beberapa perusahaan internasional kecil juga terpantau memiliki saham di proyek ini.

Sebagai informasi Tengizchevroil adalah perusahaan patungan yang mengelola ladang minyak besar Tengiz di Kazakhstan. Perusahaan ini dibentuk pada tahun 1993 dan dimiliki oleh Chevron (50%), ExxonMobil (25%), KazMunayGas (20%), dan Lukoil (5%).

Sebelumnya diberlakukan sanksi di bawah Perintah Eksekutif 14071, yang menargetkan layanan terkait proyek energi Rusia. Namun, otoritas AS telah memberikan pengecualian untuk proyek yang dianggap kritis bagi pasar energi global atau melibatkan pihak non-Rusia.

Lisensi Umum No. 121, yang dikeluarkan pada bulan Januari, sebelumnya telah memberikan izin sementara pada beberapa layanan CPC dan TCO. Lisensi itu tetap berlaku sampai 28 Juni 2025, tetapi lisensi baru tampaknya menjelaskan dan menegaskan bahwa perusahaan dapat melanjutkan keterlibatan mereka dalam proyek-proyek ini tanpa takut dijatuhi sanksi.

Kementerian Keuangan AS menjelaskan, lisensi tersebut mencakup kegiatan seperti pengeboran, pengolahan, transportasi, dan pemasaran minyak - asalkan terkait dengan CPC atau Tengizchevroil.

Baca Juga: Perusahaan Barat yang Dulu Kabur, Merapat Kembali ke Rusia usai Boncos Rp4.941 Triliun

Awal tahun ini, CPC terpaksa menghentikan operasionalnya secara sementara setelah dua serangan oleh drone Ukraina yang merusak stasiun transfer minyak yang terhubung dengan jaringan pipa di wilayah Rusia.

Serangan tersebut terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata parsial, di mana baik Moskow maupun Kiev berkomitmen untuk menahan diri dari serangan terhadap infrastruktur energi.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rekomendasi
Tilep Rp2 Miliar, Mantan...
Tilep Rp2 Miliar, Mantan Ketua PN Kudus Dipecat
Di Tengah Popularitasnya,...
Di Tengah Popularitasnya, Arcelly Idol Ternyata Masih Bergantung pada Benda Ini
Apa Itu PCOS? Ini Gejala,...
Apa Itu PCOS? Ini Gejala, Penyebab, dan Dampaknya terhadap Kesuburan Wanita
Berita Terkini
Pertamina Cetak Laba...
Pertamina Cetak Laba Bersih Rp55,2 Triliun di 2025, Setor ke Negara Rp360 Triliun
Logo Koperasi dalam...
Logo Koperasi dalam Iklan Air Mineral Dinilai Bisa Membingungkan Konsumen
KPR Rumah Subsidi Bisa...
KPR Rumah Subsidi Bisa Dicicil hingga 40 Tahun, Bunga Tetap 5%
RPN dan BPDP Latih Keterampilan...
RPN dan BPDP Latih Keterampilan Panen Sawit Rakyat di Sumsel
Harga LNG Naik Turun...
Harga LNG Naik Turun Mengacu Harga Minyak Dunia
Tips MotionTrade: Waspada...
Tips MotionTrade: Waspada Janji Keuntungan Tinggi Tanpa Risiko, Intip Ciri Umum Investasi Ilegal
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved