Gerakan Buang Dolar AS Meluas, Perdagangan 5 Negara Ini 93% Gunakan Mata Uang Lokal

Selasa, 20 Mei 2025 - 07:49 WIB
loading...
Gerakan Buang Dolar...
Lima negara anggota EAEU mencatatkan lonjakan signifikan dalam penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan lintas batas. FOTO/eurasianet.org
A A A
JAKARTA - Lima negara anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) mencatatkan lonjakan signifikan dalam penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan lintas batas. Hingga akhir 2024, sebanyak 93% pembayaran antarnegara di blok tersebut telah diselesaikan tanpa menggunakan dolar Amerika Serikat (AS).

EAEU yang beranggotakan Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kirgistan mengonfirmasi peningkatan ini sebagai bagian dari upaya dedolarisasi yang digencarkan sejak satu dekade terakhir. Pada 2015, porsi pembayaran menggunakan mata uang nasional di kawasan ini baru mencapai 70%. Kini, angka tersebut melonjak hingga 93% menandai perubahan besar dalam lanskap keuangan regional dan global.

Wakil Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia, Dmitry Volvach, mengungkapkan, langkah ini selaras dengan agenda dedolarisasi yang juga diusung oleh kelompok BRICS.

"Jika pada tahun 2015 pangsa rubel dan mata uang nasional lainnya sekitar 70 persen dalam penyelesaian dengan mitra kami di EAEU, maka pada akhir tahun lalu kami mencapai rekor 93%," ujar Volvach, dikutip dari Watcher Guru, Senin (19/5).

Baca Juga: Indonesia Dukung Thailand Gabung Penuh BRICS, Prabowo: Kami Bantu Fasilitasi

Dedolarisasi menjadi tren global yang semakin meluas terutama di antara negara-negara berkembang yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Selain EAEU dan BRICS sejumlah aliansi ekonomi seperti CIS, SCO, GCC, dan ASEAN juga mulai mendorong penggunaan mata uang nasional dalam transaksi internasional mereka.

Volvach menegaskan, transisi ini bukanlah paksaan melainkan didorong oleh kepentingan ekonomi masing-masing negara. "Tidak mungkin untuk secara artifisial memaksa para partisipan dalam aktivitas ekonomi luar negeri untuk beralih ke satu mata uang. Ini adalah fondasi yang baik untuk pertumbuhan lebih lanjut," ungkapnya.

Baca Juga: Putin dan Trump Teleponan 2 Jam, Rusia Siap Bekerja untuk Akhiri Perang Ukraina

Fenomena dedolarisasi dinilai dapat mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan global sekaligus menambah tekanan terhadap posisi mata uang tersebut sebagai cadangan devisa dunia. Para pengamat menilai, perubahan ini akan berdampak pada stabilitas keuangan global dan memperkuat kemandirian ekonomi negara-negara berkembang.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Rupiah Tergerus Sentimen...
Rupiah Tergerus Sentimen Eksternal, Hari Ini Berakhir Tembus Rp17.843 per USD
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rekomendasi
Sidang PK Nikita Mirzani...
Sidang PK Nikita Mirzani Ditunda hingga 1 Juli 2026, Kuasa Hukum Ungkap Alasannya
Digugat Roy Suryo soal...
Digugat Roy Suryo soal Penggeledahan, Polda Metro Jaya Siap Hadir
Prabowo Pakai Peci Karanji...
Prabowo Pakai Peci Karanji Hadiri Pekan Petani dan Nelayan di Gorontalo
Berita Terkini
Pascapengumuman MSCI,...
Pascapengumuman MSCI, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,62% ke Level 6.002
Harga Emas Terjun Rp18...
Harga Emas Terjun Rp18 Ribu, Hari Ini 1 Gram Dijual Rp2.655.000 per Gram
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
MNC Sekuritas Gelar...
MNC Sekuritas Gelar SPM Level 2 Bersama IBI Kesatuan Bogor: Mengenal Analisis Teknikal
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Menguat 0,44 Persen ke Level 6.128
MSCI Tahan Status Emerging...
MSCI Tahan Status Emerging Market Indonesia, OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Jalan Terus
Infografis
Ini 3 Negara Musuh AS...
Ini 3 Negara Musuh AS yang Tidak Terkena Tarif Impor Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved