Neraca Pembayaran Tekor, Apakah Indonesia Masih Mampu Bayar Utang?
Kamis, 22 Mei 2025 - 11:34 WIB
loading...
BI melaporkan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I-2025 mengalami defisit. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I-2025 mengalami defisit sebesar USD0,8 miliar. Kinerja ini mencerminkan tekanan dari perlambatan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa defisit tersebut juga disebabkan oleh tertekannya transaksi berjalan serta tekanan pada transaksi modal dan finansial. "Transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang masih terkendali," ujar Ramdan dalam pernyataannya, Kamis (22/5).
Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong aman. Pada akhir Maret 2025, cadangan devisa tercatat sebesar USD157,1 miliar cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah jauh di atas standar internasional sebesar 3 bulan impor.
Baca Juga: Daya Beli Rakyat Makin Tergerus, Ekonomi RI Diprediksi Cuma 4,7% di 2025
Transaksi berjalan pada kuartal I-2025 mencatat defisit sebesar USD0,2 miliar, atau 0,1% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2024 yang mengalami defisit USD1,1 miliar atau 0,3% dari PDB.
Surplus neraca perdagangan barang memang mengalami peningkatan, terutama karena masih positifnya neraca perdagangan nonmigas. Namun, pelemahan ekspor nonmigas terjadi akibat turunnya harga komoditas global serta melemahnya permintaan dari mitra dagang utama.
Di sisi lain, impor nonmigas justru turun lebih dalam, terutama pada kelompok bahan baku dan barang penolong. Kondisi ini mencerminkan perlambatan aktivitas produksi di dalam negeri dan permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya.
Neraca jasa juga mencatat peningkatan defisit, seiring menurunnya jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia. Hal ini membuat surplus dari jasa perjalanan menurun. Selain itu, pembayaran imbal hasil investasi luar negeri yang meningkat memperburuk neraca pendapatan primer.
Untuk transaksi modal dan finansial, meski masih defisit USD0,3 miliar, aliran investasi langsung tetap mencatat surplus. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional dan stabilitas iklim investasi Indonesia yang tetap terjaga.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tak Sampai 5%, Pemerintah Bakal Bagi-bagi Bansos
Sementara, arus investasi portofolio menunjukkan peningkatan, khususnya pada instrumen surat utang domestik. Namun, investasi lainnya mengalami defisit akibat turunnya penarikan pinjaman pemerintah dan swasta, serta meningkatnya investasi perusahaan swasta Indonesia di luar negeri.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memantau dinamika ekonomi global yang dapat memengaruhi prospek NPI. Lembaga ini berkomitmen memperkuat respons bauran kebijakan serta sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga ketahanan sektor eksternal.
Secara keseluruhan, BI memproyeksikan NPI 2025 tetap dalam kondisi sehat. Hal ini ditopang oleh prospek berlanjutnya surplus transaksi modal dan finansial serta defisit transaksi berjalan yang masih dalam batas wajar, yakni antara 0,5 hingga 1,3 persen dari PDB.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa defisit tersebut juga disebabkan oleh tertekannya transaksi berjalan serta tekanan pada transaksi modal dan finansial. "Transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang masih terkendali," ujar Ramdan dalam pernyataannya, Kamis (22/5).
Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong aman. Pada akhir Maret 2025, cadangan devisa tercatat sebesar USD157,1 miliar cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah jauh di atas standar internasional sebesar 3 bulan impor.
Baca Juga: Daya Beli Rakyat Makin Tergerus, Ekonomi RI Diprediksi Cuma 4,7% di 2025
Transaksi berjalan pada kuartal I-2025 mencatat defisit sebesar USD0,2 miliar, atau 0,1% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2024 yang mengalami defisit USD1,1 miliar atau 0,3% dari PDB.
Surplus neraca perdagangan barang memang mengalami peningkatan, terutama karena masih positifnya neraca perdagangan nonmigas. Namun, pelemahan ekspor nonmigas terjadi akibat turunnya harga komoditas global serta melemahnya permintaan dari mitra dagang utama.
Di sisi lain, impor nonmigas justru turun lebih dalam, terutama pada kelompok bahan baku dan barang penolong. Kondisi ini mencerminkan perlambatan aktivitas produksi di dalam negeri dan permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya.
Neraca jasa juga mencatat peningkatan defisit, seiring menurunnya jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia. Hal ini membuat surplus dari jasa perjalanan menurun. Selain itu, pembayaran imbal hasil investasi luar negeri yang meningkat memperburuk neraca pendapatan primer.
Untuk transaksi modal dan finansial, meski masih defisit USD0,3 miliar, aliran investasi langsung tetap mencatat surplus. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional dan stabilitas iklim investasi Indonesia yang tetap terjaga.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tak Sampai 5%, Pemerintah Bakal Bagi-bagi Bansos
Sementara, arus investasi portofolio menunjukkan peningkatan, khususnya pada instrumen surat utang domestik. Namun, investasi lainnya mengalami defisit akibat turunnya penarikan pinjaman pemerintah dan swasta, serta meningkatnya investasi perusahaan swasta Indonesia di luar negeri.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memantau dinamika ekonomi global yang dapat memengaruhi prospek NPI. Lembaga ini berkomitmen memperkuat respons bauran kebijakan serta sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga ketahanan sektor eksternal.
Secara keseluruhan, BI memproyeksikan NPI 2025 tetap dalam kondisi sehat. Hal ini ditopang oleh prospek berlanjutnya surplus transaksi modal dan finansial serta defisit transaksi berjalan yang masih dalam batas wajar, yakni antara 0,5 hingga 1,3 persen dari PDB.
(nng)
Lihat Juga :