Krisis Kepercayaan Global, Ini Bukti Nyata Dunia Mulai Tinggalkan Dolar AS

Kamis, 29 Mei 2025 - 19:38 WIB
loading...
Krisis Kepercayaan Global,...
Pemerintah di berbagai belahan dunia kini lebih memilih menerbitkan utang dalam mata uang lokal ketimbang dolar AS. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Gelombang penolakan terhadap dolar AS semakin menguat. Pemerintah di berbagai belahan dunia kini lebih memilih menerbitkan utang dalam mata uang lokal ketimbang dolar AS, sebuah fakta krisis kepercayaan yang terus meningkat.

Berdasarkan laporan Dealogic, penerbitan obligasi pemerintah dalam dolar AS anjlok 19% pada lima bulan pertama 2025 hanya mencapai USD86,2 miliar. Ini menjadi penurunan pertama dalam tiga tahun terakhir. Sebaliknya, penerbitan obligasi berbasis mata uang lokal justru melonjak ke level tertinggi dalam lima tahun mencapai USD326 miliar.

Arab Saudi, Kanada, Israel, dan Polandia termasuk yang paling agresif mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Penerbitan obligasi dolar Arab Saudi turun 29%, sementara Kanada merosot 31%. Israel dan Polandia bahkan memangkas penerbitan masing-masing sebesar 37% dan 31%.

"Ini bukan sekedar fluktuasi pasar, tapi tanda krisis kepercayaan," ujar manajer portofolio William Blair, Johnny Chen, dikutip Reuters, Kamis (29/5). "Negara-negara mulai sadar, bergantung pada dolar AS berarti menyerahkan kedaulatan ekonomi mereka."

Baca Juga: Negara Ini Resmi Larang Peredaran Dolar AS, Transaksi Wajib Gunakan Mata Uang Lokal

Pemicunya, antara lain, kenaikan imbal hasil AS, volatilitas nilai tukar, dan kekhawatiran atas stabilitas keuangan pemerintah AS sendiri. Investor global juga mulai menjauhi aset-aset AS terutama setelah serangkaian kebijakan ekonomi kontroversial Washington yang dianggap merugikan mitra dagangnya.

Brasil bahkan sedang mempertimbangkan menerbitkan obligasi negara pertamanya dalam yuan, menyusul kunjungan Presiden Lula da Silva ke Beijing. Arab Saudi juga tak mau ketinggalan. Negeri PetroDolar ini baru saja menerbitkan obligasi hijau senilai 2,25 miliar euro atau setara USD2,36 miliar langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan berbasis dolar.

"Dolar AS seperti bom waktu. Semakin banyak negara yang ingin melepaskan diri sebelum terlambat," kritik Kenneth Orchard dari T. Rowe Price.

Baca Juga: Dinyatakan Ilegal, Pengadilan AS Batalkan Kebijakan Tarif Trump

Meski pasar mata uang lokal masih kurang likuid dibanding dolar, tren ini diperkirakan akan terus menguat. India, Indonesia, dan Thailand disebut-sebut sebagai contoh sukses transisi ke pembiayaan lokal. Ketiganya memangkas suku bunga acuan dan berhasil menarik lebih banyak investor ke obligasi domestik.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Rupiah Hari Ini Kurang...
Rupiah Hari Ini Kurang Bertenaga di Posisi Rp17.762 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Rupiah Tampil Perkasa...
Rupiah Tampil Perkasa di Awal Pekan, Hari Ini Sentuh Rp17.708 per Dolar AS
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
Rekomendasi
FIFA Beri Lampu Hijau,...
FIFA Beri Lampu Hijau, Michael Oliver Pimpin Laga Belanda vs Swedia
Dianggap Mampu, 76 Sekolah...
Dianggap Mampu, 76 Sekolah di Pulau Jawa Dicoret dari Daftar Penerima MBG
Daya Tarik Menarik Thailand:...
Daya Tarik Menarik Thailand: Eksplorasi Kota Bangkok dan Keindahan Pesisir Pattaya
Berita Terkini
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Bekasi Fajar Cetak Laba...
Bekasi Fajar Cetak Laba Rp30 Miliar, Targetkan Penjualan Lahan Rp600 Miliar
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Antipasi Lonjakan Pengguna,...
Antipasi Lonjakan Pengguna, Jasa Marga Intensifkan Preservasi Rutin Jalan Tol
Keterlambatan RKAB 2026...
Keterlambatan RKAB 2026 Dinilai Hambat Pasokan Batu Bara PLTU Jawa-Bali
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved