4 Negara Terancam Bangkrut Terjebak Utang China, Terparah Sampai Menyerahkan Pelabuhan

Senin, 02 Juni 2025 - 11:42 WIB
loading...
4 Negara Terancam Bangkrut...
Sri Lanka menyerahkan pengelolaan Pelabuhan Hambantota kepada China selama 99 tahun. FOTO/The Island
A A A
JAKARTA - Beberapa negara di dunia kini menghadapi krisis ekonomi serius akibat beban utang yang besar kepada China. Utang yang tidak terkendali ini menyebabkan beberapa negara bahkan harus menyerahkan aset strategis mereka sebagai bentuk pembayaran, hingga berujung pada kebangkrutan ekonomi. Mengutip dari sejumlah sumber, berikut empat negara yang mengalami dampak paling parah.

Pertama, Sri Lanka menjadi contoh paling nyata dari jebakan utang China. Negara ini gagal membayar utang pembangunan Pelabuhan Hambantota senilai USD 361 juta. Akibatnya, Sri Lanka menyerahkan pengelolaan pelabuhan tersebut kepada China selama 99 tahun. Total utang Sri Lanka kepada China mencapai sekitar USD 8 miliar, hampir 94 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. Beban utang ini memicu krisis ekonomi dan politik yang mendalam.

Baca Juga: 3 Negara Mayoritas Islam yang Terjebak Utang China, Indonesia Tembus Rp326 Triliun

Kedua, Laos juga menghadapi krisis ekonomi akibat ketergantungan besar pada utang China. Utang publik Laos diperkirakan mencapai 122 persen dari PDB. Utang ini digunakan untuk proyek infrastruktur besar seperti jalur kereta api dan bendungan pembangkit listrik tenaga air. Kondisi ini menyebabkan habisnya cadangan devisa dan depresiasi mata uang yang tajam, memperburuk situasi ekonomi negara tersebut.

Ketiga, Uganda mengalami gagal bayar utang senilai USD200 juta kepada China. Utang ini dijaminkan dengan aset strategis seperti Bandara Internasional Entebbe. Jika gagal membayar, Uganda berisiko kehilangan aset penting tersebut. Upaya perundingan ulang dengan China pun dinilai sulit dilakukan, sehingga tekanan ekonomi terus meningkat.

Keempat, Kenya menghadapi risiko kehilangan aset vital seperti Pelabuhan Mombasa akibat gagal membayar utang sebesar US$ 3,6 miliar. Utang ini digunakan untuk pembangunan proyek kereta api Mombasa-Nairobi. Ketidakpastian ekonomi akibat utang ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi pemerintah dan masyarakat Kenya.

Selain keempat negara tersebut, beberapa negara lain seperti Maladewa, Pakistan, Venezuela, Zimbabwe, dan Nigeria juga mengalami tekanan ekonomi akibat utang besar kepada China. Maladewa, misalnya, kesulitan membayar utang antara USD 1,1 hingga USD 1,4 miliar, yang digunakan untuk proyek infrastruktur seperti jembatan dan bandara, sehingga China mengambil alih beberapa aset strategis.

Baca Juga: Jerman Akui Mustahil Mengalahkan Rusia karena Memiliki Senjata Nuklir

Di Pakistan, utang besar untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Karot dan China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) menimbulkan risiko kebangkrutan ekonomi. Suku bunga tinggi dan beban utang yang besar membuat keberlanjutan pembayaran utang menjadi masalah serius.

Venezuela yang sedang mengalami krisis ekonomi diperparah oleh utang besar kepada China. Penurunan harga minyak dan manajemen ekonomi yang buruk membuat negara ini sulit membayar utang sehingga memperburuk kondisi ekonomi.

Secara umum, utang besar kepada China ini berpotensi menyebabkan negara-negara tersebut kehilangan kedaulatan ekonomi dan aset strategis. China menggunakan leverage utang ini dalam proyek-proyek infrastruktur besar di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI), yang kini menjadi perhatian global.

Kondisi ini menjadi peringatan bagi negara-negara berkembang agar berhati-hati dalam mengelola utang luar negeri, terutama yang berasal dari China, agar tidak terjebak dalam krisis ekonomi yang sulit.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wamenhub Sebut Potensi...
Wamenhub Sebut Potensi Penerimaan Negara Lewat PT DSI Bisa Tembus Rp2.671 Triliun
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Rekomendasi
Istri Gus Yaqut Apresiasi...
Istri Gus Yaqut Apresiasi KPK Bantarkan Suaminya
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Afrika Selatan Cetak...
Afrika Selatan Cetak Sejarah Usai Lolos ke Babak 32 Besar
Berita Terkini
IHSG Sesi Siang Berbalik...
IHSG Sesi Siang Berbalik Meroket 2,69% Tembus Level 6.041
Tren Industri Olahraga...
Tren Industri Olahraga Jadi Peluang Bisnis Asuransi
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan di Posisi Rp2.655.000 per Gram, Saatnya Beli?
Tiket Pesawat Kelas...
Tiket Pesawat Kelas Ekonomi Bebas PPN hingga 5 Juli 2026, Ayo Liburan!
IHSG Dibuka Melemah...
IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.873, Asing Net Sell Rp1,17 Triliun
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
Infografis
4 Keunggulan Jet Tempur...
4 Keunggulan Jet Tempur Canggih J-35 Buatan China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved