Harumnya Kopi Arabika Indonesia Kian Mendunia, JCE Genjot Ekspor
Senin, 02 Juni 2025 - 22:24 WIB
loading...
Kopi arabika asal Indonesia kian digemari di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat (AS), di tengah bayang-bayang tarif resiprokal yang diterapkan Presiden Donald Trump. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kopi arabika asal Indonesia kian digemari di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat (AS), di tengah bayang-bayang tarif resiprokal yang diterapkan Presiden Donald Trump. Sepanjang kuartal I-2025, sedikitnya 127 ton kopi produksi Java Coffee Estate (JCE) -yang merupakan hasil perkebunan kopi kerja sama antara PTPN IV PalmCo dan PTPN I SupportingCo- kembali mampu menembus berbagai negara tujuan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa mengatakan, sejauh ini Inggris menjadi negara importir kopi terbesar dengan total mencapai 54.000 kilogram atau senilai Rp6,5 miliar. Disusul Amerika dengan total impor mencapai 36.000 kilogram senilai Rp4,3 miliar. Saudi Arabia dan Norwegia mengimpor kopi JCE dengan total impor 38.400 kilogram atau setara Rp4,5 miliar.
Baca Juga: Kopi Sumatera Mendunia, Starbucks Klaim Pembeli Terbesar Jenis Arabika
Jatmiko optimistis ekspor kopi JCE akan terus naik seiring peningkatan kualitas mutu ekspor serta adaptasi dalam penerapan sertifikasi berkelanjutan seperti Rainforest Alliance (RA) dan European Union Deforestation Regulation (EUDR).
"Di tahun 2024, kita ekspor kopi 600 ton ke berbagai negara. Insya Allah, di tahun ini ekspor kopi Arabika specialty dari JCE akan terus tumbuh,” kata Jatmiko dalam keterangannya, Senin (2/6/2025).
Ekspor kopi tersebut turut menggerek pendapatan bersih JCE PTPN dengan catatan laba bersih sebesar Rp6,51 miliar sepanjang Januari-April 2025. Sementara hingga akhir tahun ini, laba bersih ditargetkan menyentuh angka Rp33,36 miliar, atau meningkat dibandingkan perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp32 miliar.
Untuk mencapai target tersebut, Jatmiko menegaskan, pihaknya akan fokus pada berbagai inisiatif lainnya. Program intensifikasi serta penerapan teknologi lebih efesien dipercaya terus menjadi tulang punggung utama penguatan dalam meningkatkan produktivitas. Hingga 2024, program replanting mencapai 80% atau 1.200 Ha dari total target total tanaman baru mencapai 1.500 Ha.
"Program replanting tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga membantu memperpanjang siklus produksi kopi di perkebunan," ujarnya.
Melalui program replanting secara berkelanjutan tersebut, ia pun berani memasang target produksi kopi JCE sepanjang 2025 ini mencapai 1.182 ton atau yang tertinggi sepanjang sejarah JCE berdiri.
Jatmiko menjelaskan, bahwa seluruh capaian itu tidak lepas dari dedikasi, kerja keras, dan komitmen dari setiap individu yang telah mendukung penuh transformasi JCE demi mengembalikan legenda kopi jawa di kancah internasional.
Baca Juga: Mengenal Kopi Gayo, Kopi Arabika asal Aceh yang Mendunia
Ia pun turut berpesan agar konsistensi dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip budidaya demi menjaga produktivitas, kualitas, keberlanjutan, serta pelayanan terbaik. "Apa yang telah kita lakukan di sini akan kita jadikan role model. Kita akan tularkan best practices ini ke para petani kopi di Indonesia," tandas Jatmiko.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa mengatakan, sejauh ini Inggris menjadi negara importir kopi terbesar dengan total mencapai 54.000 kilogram atau senilai Rp6,5 miliar. Disusul Amerika dengan total impor mencapai 36.000 kilogram senilai Rp4,3 miliar. Saudi Arabia dan Norwegia mengimpor kopi JCE dengan total impor 38.400 kilogram atau setara Rp4,5 miliar.
Baca Juga: Kopi Sumatera Mendunia, Starbucks Klaim Pembeli Terbesar Jenis Arabika
Jatmiko optimistis ekspor kopi JCE akan terus naik seiring peningkatan kualitas mutu ekspor serta adaptasi dalam penerapan sertifikasi berkelanjutan seperti Rainforest Alliance (RA) dan European Union Deforestation Regulation (EUDR).
"Di tahun 2024, kita ekspor kopi 600 ton ke berbagai negara. Insya Allah, di tahun ini ekspor kopi Arabika specialty dari JCE akan terus tumbuh,” kata Jatmiko dalam keterangannya, Senin (2/6/2025).
Ekspor kopi tersebut turut menggerek pendapatan bersih JCE PTPN dengan catatan laba bersih sebesar Rp6,51 miliar sepanjang Januari-April 2025. Sementara hingga akhir tahun ini, laba bersih ditargetkan menyentuh angka Rp33,36 miliar, atau meningkat dibandingkan perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp32 miliar.
Untuk mencapai target tersebut, Jatmiko menegaskan, pihaknya akan fokus pada berbagai inisiatif lainnya. Program intensifikasi serta penerapan teknologi lebih efesien dipercaya terus menjadi tulang punggung utama penguatan dalam meningkatkan produktivitas. Hingga 2024, program replanting mencapai 80% atau 1.200 Ha dari total target total tanaman baru mencapai 1.500 Ha.
"Program replanting tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga membantu memperpanjang siklus produksi kopi di perkebunan," ujarnya.
Melalui program replanting secara berkelanjutan tersebut, ia pun berani memasang target produksi kopi JCE sepanjang 2025 ini mencapai 1.182 ton atau yang tertinggi sepanjang sejarah JCE berdiri.
Jatmiko menjelaskan, bahwa seluruh capaian itu tidak lepas dari dedikasi, kerja keras, dan komitmen dari setiap individu yang telah mendukung penuh transformasi JCE demi mengembalikan legenda kopi jawa di kancah internasional.
Baca Juga: Mengenal Kopi Gayo, Kopi Arabika asal Aceh yang Mendunia
Ia pun turut berpesan agar konsistensi dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip budidaya demi menjaga produktivitas, kualitas, keberlanjutan, serta pelayanan terbaik. "Apa yang telah kita lakukan di sini akan kita jadikan role model. Kita akan tularkan best practices ini ke para petani kopi di Indonesia," tandas Jatmiko.
(akr)
Lihat Juga :