Kehilangan Pasokan Logam Tanah Jarang China Bikin Produsen Mobil AS Kelabakan

Kamis, 05 Juni 2025 - 21:39 WIB
loading...
Kehilangan Pasokan Logam...
Produsen otomotif global memperingatkan, kekurangan magnet rare-earth (logam tanah jarang) dari China dapat memaksa pabrikan mobil menutup operasional mereka dalam beberapa minggu ke depan. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Produsen otomotif global memperingatkan, kekurangan magnet rare-earth ( logam tanah jarang ) dari China dapat memaksa pabrikan mobil menutup operasional mereka dalam beberapa minggu ke depan. Hal ini tidak lain karena peran penting magnet rare-earth yang dipakai dalam banyak hal, mulai dari motor penggerak wiper hingga sensor rem anti-lock.

Dalam surat kepada pejabat di pemerintahan Trump, kepala kelompok perdagangan yang mewakili General Motors, Toyota, Volkswagen, Hyundai, dan produsen mobil besar lainnya mengangkat kekhawatiran yang mendesak terkait pasokan mineral langka dari China.

"Tanpa akses yang dapat diandalkan ke elemen dan magnet ini, pemasok otomotif tidak akan mampu memproduksi komponen penting dalam otomotif, termasuk transmisi otomatis, bodi throttle, alternator, berbagai motor penggerak, sensor, sabuk pengaman, speaker, lampu, motor, kemudi daya, dan kamera," tulis Aliansi untuk Inovasi Otomotif kepada pemerintahan Trump.

Baca Juga: 5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia

Ditandatangani juga oleh MEMA, Asosiasi Pemasok Kendaraan, dalam surat tersebut menambahkan, bahwa tanpa komponen otomotif yang penting tersebut, hanya akan menjadi masalah waktu sebelum pabrik kendaraan di AS terganggu.

"Dalam kasus terparah, ini bisa memicu untuk pengurangan volume produksi atau bahkan penghentian jalur perakitan kendaraan," kata kelompok-kelompok tersebut.

CEO Alliance John Bozzella dan CEO MEMA, Bill Long mengatakan kepada Reuters pada hari Jumat, bahwa situasinya belum teratasi dan masih menjadi perhatian. Mereka menyampaikan rasa terima kasih atas keterlibatan pejabat tinggi dari pemerintahan Trump untuk mencegah gangguan pada produksi mobil di AS dan rantai pasokan.

Bozzella juga memberikan catatan, bahwa beberapa masalah di industri otomotif termasuk dalam agenda selama pembicaraan Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dengan rekan-rekan mereka dari China di Jenewa awal bulan ini.

Greer mengatakan kepada CNBC pada hari Jumat bahwa, China telah setuju untuk mengangkat pembatasan pada ekspor magnet tanah jarang ke perusahaan-perusahaan AS dan bergerak cukup cepat untuk memberikan akses kepada industri-industri kunci AS.

"Kami belum melihat aliran beberapa mineral kritis itu seperti yang seharusnya mereka lakukan."

Seperti diketahui China menguasai lebih dari 90% kapasitas pengolahan global untuk magnet yang digunakan dalam segala hal, mulai dari mobil dan pesawat tempur hingga peralatan rumah tangga. Namun penguasa global logam tanah jarang itu memberlakukan pembatasan pada awal April yang mengharuskan eksportir mendapatkan lisensi dari Beijing.

Baca Juga: Alasan AS Sulit Kalahkan China Sebagai Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang

Ekspor magnet tanah jarang dari China menyusut setengahnya pada bulan April saat perusahaan berjuang dengan proses pengajuan yang tidak transparan untuk izin yang kadang-kadang memerlukan ratusan halaman dokumen.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, Presiden Donald Trump menuduh China melanggar syarat kesepakatan yang dicapai bulan ini, yakni untuk sementara mengurangi tarif dan pembatasan perdagangan lainnya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Daftar Negara dengan...
Daftar Negara dengan Cadangan Mineral Tanah Jarang Terbesar Dunia, Ada Tetangga Indonesia
MPMX Meningkatkan Pembagian...
MPMX Meningkatkan Pembagian Dividen Tunai di Tengah Kondisi Industri yang Menantang
Menuju Tujuh Dekade...
Menuju Tujuh Dekade Astra: Perkuat Fokus Strategis untuk Dorong Pertumbuhan Perusahaan
Intip Kinerja MPMX Mengawali...
Intip Kinerja MPMX Mengawali 2026: Profitabilitas Meningkat di Tengah Dinamika Pendapatan
Barat Kalah Berani?...
Barat Kalah Berani? Kapal-kapal Asia Siap Terobos Selat Hormuz Lebih Dulu
Raksasa Migas AS Tumbang?...
Raksasa Migas AS Tumbang? Rugi Miliaran Dolar Akibat Perang Iran, Produksi Anjlok!
Industri Otomotif Jerman...
Industri Otomotif Jerman Tambah Sekarat Akibat Perang Timur Tengah
Audi Nuvolari Supercar...
Audi Nuvolari Supercar Hybrid V8 dengan 987 HP, Penerus Spiritual R8
Bea Cukai Pangkal Pinang...
Bea Cukai Pangkal Pinang Sebut 15 Kontainer PMM Telah Memenuhi Syarat
Rekomendasi
Tantri Kotak Diduga...
Tantri Kotak Diduga Jadi Korban Penipuan Rp10 Miliar, Arda Naff Angkat Bicara
WOSPAC Paparkan Solusi...
WOSPAC Paparkan Solusi Menuju Piala Dunia dan Masa Depan Sepak Bola Indonesia
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Berita Terkini
RPN dan BPDP Latih Keterampilan...
RPN dan BPDP Latih Keterampilan Panen Sawit Rakyat di Sumsel
Harga LNG Naik Turun...
Harga LNG Naik Turun Mengacu Harga Minyak Dunia
Tips MotionTrade: Waspada...
Tips MotionTrade: Waspada Janji Keuntungan Tinggi Tanpa Risiko, Intip Ciri Umum Investasi Ilegal
Perkuat Daya Saing,...
Perkuat Daya Saing, LOTTE Chemical Indonesia Raih Tiga Sertifikasi ISO
Rupiah Jeblok Lagi,...
Rupiah Jeblok Lagi, Dolar AS Makin Dekati Level Rp18.000
TikTok Bidik Pertumbuhan...
TikTok Bidik Pertumbuhan Aplikasi Asia Tenggara lewat Inovasi AI
Infografis
AS Mulai Bagikan Info...
AS Mulai Bagikan Info Intel Ruang Angkasa Sensitif China-Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved