5 Alasan Kenapa Pembatasan Ekspor Mineral Langka China Jadi Pukulan Telak buat AS

Sabtu, 07 Juni 2025 - 11:02 WIB
loading...
A A A
"Dimulai pada akhir abad ke-20, China memprioritaskan pengembangan kemampuan penambangan dan pengolahan tanah jarangnya, seringkali dengan standar lingkungan dan biaya tenaga kerja yang lebih rendah dibandingkan dengan negara lain," kata Gavin Harper, seorang rekan peneliti bahan kritis di Universitas Birmingham.

"Ini memungkinkan mereka untuk mengalahkan pesaing global dan membangun monopoli hampir di seluruh rantai pasokan, dari penambangan dan pemurnian hingga pembuatan produk jadi seperti magnet," bebernya.

3. Bagaimana cara China membatasi ekspor mineral langka ini?

Dalam menanggapi tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh Washington, China pada awal April lalu mulai memerintahkan pembatasan ekspor 7 mineral tanah jarang - yang sebagian besar dikenal sebagai tanah jarang kelas 'berat', yang sangat penting untuk sektor pertahanan.

Mineral ini lebih jarang dan lebih sulit diproses dibandingkan dengan 'tanah jarang ringan', yang juga membuatnya lebih bernilai. Mulai 4 April, semua perusahaan harus mendapatkan lisensi ekspor khusus untuk mengirim barang langka dan magnet keluar dari negara tersebut.

Hal ini karena perjanjian internasional tentang Non-Proliferasi Senjata Nuklir, China memiliki kemampuan untuk mengendalikan perdagangan "produk yang dapat digunakan secara ganda". Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), hal ini membuat AS sangat rentan karena tidak ada kapasitas di luar China untuk memproses logam tanah jarang berat.

4. Bagaimana pembatasan ekspor tanah jarang bisa mempengaruhi AS?

Laporan Geologis AS mencatat bahwa antara 2020 dan 2023, AS bergantung pada China yang mencapai 70% dari semua impor senyawa dan logam tanah jarang. Ini berarti bahwa pembatasan baru ini bakal berdampak besar terhadap AS.

Logam tanah jarang kelas berat dipakai dalam banyak bidang militer seperti misil, radar, dan magnet permanen. Laporan CSIS mencatat bahwa teknologi pertahanan termasuk pesawat jet F-35, rudal Tomahawk, dan pesawat tanpa awak Predator semuanya bergantung pada mineral-mineral ini.

Laporan tersebut menambahkan, bahwa hal ini terjadi saat China "memperluas produksi amunisinya dan mengakuisisi sistem dan peralatan senjata canggih dengan kecepatan lima hingga enam kali lebih cepat dibandingkan Amerika Serikat".

"Dampaknya pada industri pertahanan AS akan sangat besar," kata Kroemmer.

Dan ini tidak hanya di bidang pertahanan. Manufaktur AS yang diharapkan Trump bisa bangkit kembali melalui penerapan tarifnya, akan sangat terkena dampak.

"Para produsen, terutama di bidang pertahanan dan teknologi tinggi, menghadapi potensi kekurangan dan keterlambatan produksi akibat dihentikannya pengiriman dan terbatasnya inventaris," kata Harper seperti dilansir BBC.

"Harga untuk bahan langka tanah jarang diperkirakan akan melonjak, hingga meningkatkan biaya langsung komponen yang digunakan dalam berbagai produk, mulai dari smartphone hingga perangkat militer," katanya.

Ditambahkan juga olehnya bahwa hal ini bisa mengakibatkan kemungkinan perlambatan produksi bagi perusahaan-perusahaan AS yang terkena dampak. Jika pembatasan ekspor dari China berlanjut dalam jangka panjang, AS bisa jadi akan mulai mendiversifikasi rantai pasokannya dan meningkatkan kapasitas domestik dan pengolahan.

Meski begitu semua itu ini masih memerlukan "investasi substansial dan berkelanjutan, kemajuan teknologi, dan mungkin biaya keseluruhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ketergantungan sebelumnya pada China."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Purbaya Siap Terbitkan...
Purbaya Siap Terbitkan Panda Bond 23 Juli 2026, Bidik Dana dari China Rp18 Triliun
Ekonomi China Kuartal...
Ekonomi China Kuartal II Tumbuh 4,3%, Terendah dalam 3 Tahun Terakhir
Teluk Kembali Memanas,...
Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
Apa Sih Sebenarnya Logam...
Apa Sih Sebenarnya Logam Tanah Jarang? Sering Disebut Minyak Baru
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Merek-merek China Menguasai...
Merek-merek China Menguasai Sepertiga Penjualan PHEV di Eropa
Masalah Kualitas dan...
Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China
Rekomendasi
Tidar Jakarta Barat...
Tidar Jakarta Barat Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Tata Kelola Program MBG
Polisi Sudah Periksa...
Polisi Sudah Periksa 10 Saksi di Kasus Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan oleh Hotman Paris
Kritisi Rapat Pleno...
Kritisi Rapat Pleno IX AMPI, Wasekjen Leriadi: Produknya Cacat Hukum
Berita Terkini
Panda Bond Indonesia...
Panda Bond Indonesia Raih Rating AAA, Purbaya: Ada yang Bilang Saya Bohong
Indonesia Perlu Arah...
Indonesia Perlu Arah Kebijakan Baru Jadi Pusat Hilirisasi Sawit Dunia
Tingkatkan Nilai Jual...
Tingkatkan Nilai Jual TBS, 133 Pekebun Muara Enim Ikuti Pelatihan Panen Sawit
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Proses Pemeliharaan...
Proses Pemeliharaan dan Pengisian Galon Bermerek Dipastikan Penuhi Standar Industri
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Pimpin Pengembangan Ekosistem SAF di ASEAN
Infografis
Balas Dendam ke AS,...
Balas Dendam ke AS, China Naikkan Tarif Impor Jadi 125%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved