5 Alasan Kenapa Pembatasan Ekspor Mineral Langka China Jadi Pukulan Telak buat AS

Sabtu, 07 Juni 2025 - 11:02 WIB
loading...
A A A
Semua ini jelas sudah diantisipasi Trump. Dimana Ia memerintahkan penyelidikan terhadap risiko keamanan nasional yang ditimbulkan oleh ketergantungan AS pada mineral kritis tersebut.

"Presiden Trump mengakui bahwa ketergantungan berlebihan pada mineral kritis dari asing dan produk turunannya dapat membahayakan kemampuan pertahanan AS, pengembangan infrastruktur, dan inovasi teknologi," kata perintah tersebut.

"Mineral kritis, termasuk unsur tanah jarang, sangat penting untuk keamanan nasional dan ketahanan ekonomi," bebernya.

5. Bisakah AS memproduksi logam tanah jarang sendiri?

AS memiliki satu tambang mineral tanah jarang yang beroperasi, tetapi tidak memiliki kapasitas untuk memisahkan tanah jarang berat dan harus mengirim bijihnya ke China untuk diproses.

Dulu ada perusahaan-perusahaan AS yang memproduksi magnet tanah jarang - hingga tahun 1980-an, AS sebenarnya adalah produsen terbesar mineral tanah jarang. Namun perusahaan-perusahaan ini keluar dari pasar ketika China mulai mendominasi dalam hal skala dan biaya.

Ini sebagian besar diyakini sebagai bagian dari alasan mengapa presiden AS Donald Trump sangat ingin menandatangani kesepakatan mineral dengan Ukraina - karena Ia ingin mengurangi ketergantungan pada China.

Tempat lain yang menjadi sasaran Trump adalah Greenland - yang memiliki cadangan unsur tanah jarang terbesar kedelapan. Trump berulang kali menunjukkan minat untuk menguasai wilayah otonom Denmark tersebut, bahkan berniat memakai kekuatan ekonomi atau militer untuk mengendalikannya.

Baca Juga: Jegal Dominasi China, Segini Harta Karun Tanah Jarang Milik Negara Tetangga RI

Tempat itu mungkin merupakan tempat di mana AS dapat mengekspor tanah langka, tetapi nada permusuhan yang diambil Trump terhadap mereka, berarti AS mungkin akan ditinggalkan dengan sangat sedikit pemasok alternatif.

"Tantangan yang dihadapi AS menjadi dua kali lipat; di satu sisi, mereka telah mengasingkan China yang menyediakan pasokan tanah langka secara monopoli, dan di sisi lain, mereka juga memusuhi banyak negara yang sebelumnya merupakan kolaborator yang ramah melalui tarif dan tindakan bermusuhan lainnya," kata Harper.

"Apakah mereka masih akan memprioritaskan kolaborasi dengan Amerika, dilihat dari kebijakan yang turbulen dari pemerintahan baru ini," bebernya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Siap Terbitkan...
Purbaya Siap Terbitkan Panda Bond 23 Juli 2026, Bidik Dana dari China Rp18 Triliun
Ekonomi China Kuartal...
Ekonomi China Kuartal II Tumbuh 4,3%, Terendah dalam 3 Tahun Terakhir
Teluk Kembali Memanas,...
Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
Apa Sih Sebenarnya Logam...
Apa Sih Sebenarnya Logam Tanah Jarang? Sering Disebut Minyak Baru
Rahasia Industri Logam...
Rahasia Industri Logam Tanah Jarang China Dibongkar Ilmuwan, AS-Jepang Pegang Kunci Mineral Langka!
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Merek-merek China Menguasai...
Merek-merek China Menguasai Sepertiga Penjualan PHEV di Eropa
Masalah Kualitas dan...
Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China
Rekomendasi
Soal Biaya Lepas Status...
Soal Biaya Lepas Status WNI Rp5 Juta, Menkum Supratman: Kami Kaji Kembali
Viral Kabar Kanye West...
Viral Kabar Kanye West Bakal Manggung di Jakarta Oktober 2026, Netizen Antusias War Tiket!
Mendagri Tito Tegaskan...
Mendagri Tito Tegaskan Kualitas Pelayanan Publik Merupakan Kunci Negara Bisa Bertahan
Berita Terkini
Harga Minyak Dunia Kembali...
Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?
Perluas Akses Asuransi,...
Perluas Akses Asuransi, IFG Life Gandeng Bank Papua Lindungi Debitur KPR
IHSG Ditutup Anjlok...
IHSG Ditutup Anjlok 1,88% ke 6.196, Hampir Seluruh Sektor Merana
BRI dan Kembara Nusa...
BRI dan Kembara Nusa Sinergi Perluas Layanan Kesehatan Gigi di Wilayah 3T
Cegah Penyelundupan,...
Cegah Penyelundupan, Barantin dan Bea Cukai Siapkan Pengawasan Bersama
Kendalikan Konsumsi...
Kendalikan Konsumsi BBM Subsidi saat Harga Minyak Dunia Mendidih, Purbaya Sebut Kuota Tetap
Infografis
5 Alasan China Mampu...
5 Alasan China Mampu Akhiri Dominasi Kapal Induk Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved