5 Alasan Kenapa Pembatasan Ekspor Mineral Langka China Jadi Pukulan Telak buat AS

Sabtu, 07 Juni 2025 - 11:02 WIB
loading...
5 Alasan Kenapa Pembatasan...
Tarif balasan pada AS bukanlah satu-satunya cara China membalas. Berikut 5 alasan kenapa pembatasan ekspor mineral langka China jadi pukulan telak buat AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Tarif balasan pada Amerika Serikat (AS) bukanlah satu-satunya cara China membalas. Kini Beijing menerapkan pengawasan ketat terhadap ekspor mineral langka logam tanah jarang , untuk menjadi pukulan telah buat AS.

Langkah ini mengungkap berapa bergantungnya Amerika terhadap mineral-mineral kritis tersebut. Belum lama ini perusahaan otomotif global memperingatkan, bahwa berkurangnya pasokan magnet tanah jarang bisa memaksa pabrikan mobil menghentikan produksinya.

Berikut 5 penyebab kenapa pembatasan ekspor logam tanah jarang yang dilakukan China, bakal memukul AS:

1. Apa Itu Logam Tanah Jarang dan Dipakai Buat Apa?

Rare earth adalah sekelompok 17 elemen yang secara kimiawi mempunyai peran penting dalam pembuatan produk berteknologi tinggi. Sebagian besar tersedia secara melimpah di alam, tetapi label 'jarang' melekat karena sangat sulit menemukannya dalam bentuk murni ditambah sangat berbahaya untuk diekstraksi.

Baca Juga: Jackpot, China Temukan Harta Karun Mineral Tanah Jarang 1,15 Juta Ton

Meskipun Anda mungkin tidak akrab dengan nama-nama unsur tanah jarang ini - seperti neodimium, yttrium, dan europium - namun Anda pasti sangat akrab dengan produk-produk yang menggunakan bahan-bahan tersebut.

Misalnya, neodimium digunakan untuk membuat magnet kuat yang digunakan dalam pengeras suara, hard drive komputer, motor EV (listrik), dan mesin jet yang memungkinkan mereka lebih kecil dan lebih efisien. Yttrium dan eurpium digunakan untuk memproduksi layar televisi dan komputer karena cara mereka menampilkan warna.

"Semuanya yang bisa Anda nyalakan atau matikan kemungkinan besar berjalan dengan elemen tanah jarang," jelas TDirektur Perdagangan dan Investasi Internasional Ginger, homas Kruemmer.

Elemen tanah jarang juga penting dalam produksi teknologi medis seperti bedah laser dan pemindaian MRI, serta teknologi industri pertahanan.

2. Apa yang dikendalikan oleh China?

China hampir memonopoli soal mengekstraksi unsur tanah jarang serta memurnikannya - yaitu proses memisahkannya dari mineral lainnya. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa China menyumbang sekitar 61% dari produksi unsur tanah jarang dan 92% dari pemrosesannya.

Itu berarti China saat ini mendominasi rantai pasokan unsur tanah jarang dan memiliki kemampuan untuk memutuskan perusahaan mana yang dapat dan tidak dapat menerima pasokan unsur tanah jarang. Baik ekstraksi maupun pemrosesan unsur tanah jarang memerlukan biaya yang tinggi dan efeknya dapat mencemari lingkungan.

Semua sumber daya unsur tanah jarang juga mengandung elemen radioaktif, itulah mengapa banyak negara lain, termasuk negara-negara di UE (Uni Eropa), enggan untuk memproduksinya.

"Limbah radioaktif dari produksi, benar-benar membutuhkan pembuangan yang aman, dan permanen. Saat ini semua fasilitas pembuangan di UE bersifat sementara," kata Mr Kruemmer.

Namun, dominasi China dalam rantai pasokan logam tanah jarang tidak terjadi dalam semalam - tetapi lebih merupakan hasil dari puluhan tahun kebijakan pemerintah yang strategis dan investasi.

Dalam kunjungan ke Mongolia pada tahun 1992, pemimpin China yang terlambat, Deng Xiaoping, yang mengawasi reformasi ekonomi China, mengeluarkan pernyataan yang terkenal yakni: "Timur Tengah memiliki minyak dan Tiongkok memiliki tanah jarang".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Rekomendasi
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Komunikasi Terbuka Jadi...
Komunikasi Terbuka Jadi Kunci Hubungan yang Lebih Sehat
Dasco Ungkap Pimpinan...
Dasco Ungkap Pimpinan DPR akan Temui Mahasiswa Besok
Berita Terkini
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Infografis
Balas Dendam ke AS,...
Balas Dendam ke AS, China Naikkan Tarif Impor Jadi 125%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved