Krisis Logam Langka Bikin Pabrikan Mobil Dunia Pangkas produksi

Rabu, 11 Juni 2025 - 09:46 WIB
loading...
Krisis Logam Langka...
Pabrikan mobil dunia ramai-ramai mulai mengurangi produksi mereka, usai dihantam krisis rare earth setelah China membatasi ekspor logam langka tanah jarang. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pabrikan mobil dunia ramai-ramai mulai mengurangi produksi mereka, usai dihantam krisis rare earth setelah China membatasi ekspor logam langka tanah jarang. Salah satunya Maruti Suzuki yang telah mengurangi target produksi jangka pendek untuk kendaraan listrik pertamanya, e-Vitara, hingga dua pertiga.

Penyebabnya tidak lain karena kekurangan bahan baku rare earth (tanah jarang), menurut dokumen yang diperoleh seperti dilansir Reuters. Hal ini menjadi sinyal gangguan di industri otomotif akibat pembatasan ekspor dari China.

Baca Juga: Kehilangan Pasokan Logam Tanah Jarang China Bikin Produsen Mobil AS Kelabakan

Pembuat mobil terbesar India itu mengatakan, mulai terlihat dampak dari krisis pasokan. Mereka mengatakan kini berencana untuk memproduksi sekitar 8.200 e-Vitara antara periode April dan September, dibandingkan dengan target awal sebanyak 26.500, menurut dokumen perusahaan yang dilihat oleh Reuters.

Dokumen tersebut menyebutkan, adanya kendala pasokan untuk logam tanah jarang yang sangat penting dalam pembuatan magnet dan komponen lainnya di berbagai industri teknologi tinggi. Maruti masih berencana untuk memenuhi target produksinya sebanyak 67.000 EV untuk tahun yang berakhir pada Maret 2026.

Pembatasan China terhadap beberapa ekspor tanah jarang telah mengguncang industri otomotif global, dimana perusahaan-perusahaan memperingatkan adanya gangguan serius dalam rantai pasokan. Sementara beberapa perusahaan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang melihat pasokan mulai melonggar karena mereka mendapatkan lisensi dari Beijing.

Sedangkan India masih menunggu persetujuan dari China di tengah kekhawatiran akan penghentian produksi. Diluncurkan dengan banyak sorotan saat pameran mobil India di bulan Januari, e-Vitara sangat penting bagi dorongan EV Maruti di negara tersebut.

Hal itu juga menandai masuknya Maruti Suzuki ke segmen yang ingin tumbuh menjadi 30% dari semua penjualan mobil pada tahun 2030 dari sekitar 2,5% tahun lalu. Kemunduran ini juga dapat merugikan induk perusahaan Suzuki Motor, di mana India merupakan pasar terbesar berdasarkan pendapatan dan pusat produksi global untuk EV atau mobil listrik.

Sebagian besar e-Vitara yang dibuat di India ditujukan untuk ekspor oleh Suzuki ke pasar utama seperti Eropa dan Jepang di sekitar musim panas 2025.

Pangkas Produksi

Sebelumnya produsen otomotif global memperingatkan, kekurangan magnet rare-earth dari China dapat memaksa pabrikan mobil menutup operasional mereka dalam beberapa minggu ke depan. Hal ini tidak lain karena peran penting magnet rare-earth yang dipakai dalam banyak hal, mulai dari motor penggerak wiper hingga sensor rem anti-lock.

Baca Juga: 5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia

Seperti diketahui China menguasai lebih dari 90% kapasitas pengolahan global untuk magnet yang digunakan dalam segala hal, mulai dari mobil dan pesawat tempur hingga peralatan rumah tangga. Namun penguasa global logam tanah jarang itu memberlakukan pembatasan pada awal April yang mengharuskan eksportir mendapatkan lisensi dari Beijing.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Rekomendasi
PN Jakpus Eksekusi Lahan...
PN Jakpus Eksekusi Lahan Hotel Sultan Senilai Rp28,9 Triliun
Dihadiri Ribuan Peserta,...
Dihadiri Ribuan Peserta, Menteri UMKM Buka Musawarah Fest HIPMI Jakarta Selatan
Soundrenaline 2026 Digelar...
Soundrenaline 2026 Digelar di 5 Kota, Hadirkan DIIV, Last Dinosaurs, hingga Efek Rumah Kaca
Berita Terkini
Aturan Baru ESDM, Blending...
Aturan Baru ESDM, Blending Batu Bara Harus Dapat Restu Bahlil
Antisipasi Lonjakan...
Antisipasi Lonjakan 5,46 Juta Penumpang Libur Sekolah, InJourney Airports Hadirkan Fasilitas Ramah Keluarga
IHSG Berakhir di Zona...
IHSG Berakhir di Zona Merah Sentuh 6.172, Transaksi Bursa Cetak Rp17,8 Triliun
Tips MotionTrade: Jangan...
Tips MotionTrade: Jangan Tertipu, Waspadai Contoh Modus Investasi Ilegal Ini
Jangan Lewatkan! Kejar...
Jangan Lewatkan! Kejar Promo Rumah, Kendaraan, & Liburan di BRI Consumer Expo 2026 Makassar
BI Tancap Gas, Suku...
BI Tancap Gas, Suku Bunga Acuan Kembali Naik 25 Bps ke Level 5,75%
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved