Vietnam Resmi Gabung BRICS, Strategi Baru ASEAN Hadapi Dominasi Barat

Selasa, 17 Juni 2025 - 07:37 WIB
loading...
Vietnam Resmi Gabung...
Bendera Vietnam berkibar di Jembatan Hien Luong, dengan tugu peringatan di kejauhan, di bekas perbatasan antara Vietnam Utara dan Selatan, provinsi Quang Tri, 22 Februari 2024. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Vietnam secara resmi bergabung sebagai negara mitra dalam blok BRICS, menandai langkah strategis negara tersebut dalam memperkuat posisi geopolitik dan memperluas hubungan perdagangan lintas kawasan. Vietnam menjadi negara ASEAN keempat yang terlibat secara formal dalam BRICS setelah Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi Hanoi untuk mengurangi ketergantungan pada perdagangan dengan Amerika Serikat serta meningkatkan investasi dan hubungan ekonomi dengan negara-negara berkembang. Para analis menyebut keputusan tersebut mencerminkan respons Vietnam terhadap risiko global, terutama yang terkait kebijakan perdagangan proteksionis AS.

Baca Juga: JP Morgan Prediksi Runtuhnya Dolar AS, Berapa Tahun Lagi?

Pengumuman resmi disampaikan oleh Brasil selaku ketua bergilir BRICS pada Jumat (13/6), menyusul konfirmasi dari Kementerian Luar Negeri Vietnam akhir pekan lalu. Masuknya Vietnam memperluas keanggotaan BRICS, yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.

"Vietnam ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka mampu dan bersedia menyelaraskan pilihannya dengan kepentingan nasional, baik dalam pembangunan ekonomi maupun keamanan eksternal," ujar Le Truong Giang, analis Control Risks yang berbasis di London dikutip dari The Business Times, Selasa (17/6).

Menurut Pemerintah Brasil, Vietnam merupakan aktor penting di Asia yang menunjukkan komitmen terhadap kerja sama Selatan-Selatan dan pembangunan berkelanjutan, dua agenda utama dalam misi BRICS. Bergabung dengan BRICS dinilai akan membuka jalan bagi Vietnam untuk mendiversifikasi pasar ekspor, memperkuat infrastruktur, dan meningkatkan otonomi politik luar negerinya.

Lavanya Venkateswaran, ekonom senior ASEAN di OCBC, menyebutkan meski ekspor Vietnam ke negara BRICS selain China masih rendah-India 2,2 persen, Rusia 0,6 persen, dan Afrika Selatan 0,2 persen, potensi pertumbuhannya sangat besar. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan dan pariwisata juga dapat diperluas, termasuk insentif visa dan program pertukaran pelajar.

Baca Juga: Viral, Penyiar TV Pemerintah Iran Dibom Israel saat Live

Namun, proses Vietnam menjadi mitra BRICS memerlukan waktu hampir satu tahun sejak pertama kali menyatakan minatnya. Salah satu penghambat utamanya adalah ketegangan dagang dengan AS, termasuk ancaman tarif balasan sebesar 46 persen yang sempat dilontarkan mantan Presiden Donald Trump.

Dalam beberapa bulan terakhir, Vietnam berupaya keras menjalin kompromi dengan Washington. Putaran ketiga diskusi perdagangan dengan AS ditutup pada 12 Juni lalu, dengan pernyataan bahwa kedua negara telah "mempersempit kesenjangan" di berbagai isu penting.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick sebelumnya menyatakan masih ada ruang dialog, selama Vietnam mengurangi ketergantungannya pada impor dari China dan memperkecil surplus perdagangannya dengan AS. Tahun lalu, surplus Vietnam dengan AS mencapai USD123 miliar terbesar ketiga setelah China dan Meksiko.

Venkateswaran menegaskan bahwa agenda diversifikasi perdagangan Vietnam tetap sejalan dengan negosiasi bilateral bersama AS. Menurutnya, penyelesaian isu transhipment dan asal barang akan menentukan keberhasilan Vietnam mempertahankan statusnya sebagai salah satu mitra ekspor utama bagi AS.

Meski demikian, penguatan posisi Vietnam dalam BRICS memberi sinyal bahwa negara tersebut tidak hanya bergantung pada satu mitra strategis. Aliansi dengan negara-negara Global Selatan ini membuka babak baru dalam arah kebijakan luar negeri dan ekonomi Vietnam di tengah lanskap global yang semakin dinamis.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Rekomendasi
Qodari: Haji 2026 Lancar,...
Qodari: Haji 2026 Lancar, Masa Tunggu Dipangkas dan Layanan Ditingkatkan
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Berita Terkini
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Kilau Emas Antam Kembali,...
Kilau Emas Antam Kembali, Hari Ini Naik Tipis Rp5 Ribu ke Rp2.673.000 per Gram
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Jaga HET MinyaKita di...
Jaga HET MinyaKita di Angka Rp15.700 per Liter, Istana Buka Suara
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Infografis
BRICS, Kelompok Ekonomi...
BRICS, Kelompok Ekonomi Dunia Penantang Dominasi Barat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved