Apa yang Terjadi Jika Mata Uang BRICS Berlaku, Mengapa India Khawatir?
Rabu, 18 Juni 2025 - 09:23 WIB
loading...
Ilustrasi mata uang BRICS. FOTO/Asia Times
A
A
A
JAKARTA - Wacana peluncuran mata uang bersama BRICS kembali mengemuka setelah China dan Rusia secara aktif mendorong agenda ini dalam beberapa pertemuan puncak terakhir. Sementara, India dan Brasil memilih bersikap lebih hati-hati, bahkan cenderung menolak gagasan tersebut, menandakan adanya perpecahan sikap di internal aliansi ekonomi negara-negara berkembang ini.
Dikutip dari Watcher Guru, Presiden Rusia Vladimir Putin, pada KTT BRICS tahun lalu, sempat memamerkan mock-up uang kertas sebagai simbol kesiapan BRICS untuk meluncurkan tender baru yang digadang-gadang akan menjadi pesaing dolar Amerika Serikat (AS). Namun, hingga kini, rencana tersebut belum masuk ke tahap teknis yang konkret, terutama karena resistensi dari India dan Brasil.
India secara terbuka menolak ide mata uang BRICS. Pemerintah India menilai, penerapan mata uang bersama akan mengancam kedaulatan ekonomi nasional dan stabilitas mata uang rupee. Selain itu, India khawatir bahwa sistem keuangan nasionalnya yang sangat terintegrasi dengan dolar AS akan terguncang jika harus beralih ke sistem baru yang belum teruji.
Baca Juga: 4 Negara ASEAN yang Resmi Gabung BRICS, Ini Daftar Terbaru
Penolakan India juga didasari oleh perbedaan struktur ekonomi antarnegara anggota BRICS. India menilai, keberagaman ekonomi dan kebutuhan finansial tiap negara membuat implementasi satu mata uang menjadi sangat sulit dan berisiko tinggi. Selain itu, India memandang bahwa dorongan dedolarisasi justru lebih menguntungkan China dan Rusia, yang selama ini berupaya mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.
Brasil mengambil langkah serupa dengan India. Di bawah kepemimpinan Presiden Lula da Silva, Brasil lebih memilih memperkuat mekanisme pembayaran lintas negara menggunakan mata uang lokal ketimbang membentuk mata uang bersama. Brasil menegaskan, upaya ini bukan untuk menantang dominasi dolar AS, melainkan untuk menekan biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi perdagangan antaranggota.
China, di sisi lain, terus memperkuat pengaruhnya di BRICS melalui investasi besar-besaran di negara-negara anggota, khususnya lewat inisiatif Sabuk dan Jalan. China juga memanfaatkan peluang ekspansi BRICS untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi yuan sebagai mata uang internasional. Jika mata uang BRICS terealisasi, China diperkirakan akan menjadi aktor dominan dalam penentuan kebijakan ekonomi kawasan.
Kekhawatiran India semakin besar karena perdagangan antara India dan China selama ini tidak seimbang. Perselisihan perbatasan dan ketidaksepakatan dalam pertukaran barang memperburuk posisi tawar India di hadapan China. India khawatir, keberhasilan mata uang BRICS hanya akan memperbesar dominasi China di kawasan Asia Tenggara dan menekan kepentingan India.
Pemerintah India di bawah Perdana Menteri Narendra Modi secara tegas ingin membendung pengaruh China di sektor keuangan dan tidak ingin Beijing melampaui batas kekuasaannya. India lebih memilih memperkuat hubungan dengan perusahaan dan institusi keuangan Barat sebagai penyeimbang kekuatan di kawasan.
Penolakan India terhadap dedolarisasi dan mata uang BRICS juga dipengaruhi oleh hubungan eratnya dengan Amerika Serikat. Selain memiliki cadangan devisa dalam dolar yang besar, India juga sangat bergantung pada kerja sama ekonomi dengan AS di sektor teknologi, energi, dan pertahanan.
Baca Juga: Gelombang Serangan Rudal Iran Hancurkan Israel, Pemimpin Tertinggi Khamenei: Pertempuran Dimulai
Di sisi lain, Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump telah memperingatkan akan adanya konsekuensi ekonomi serius bagi negara-negara yang mencoba menjauhkan diri dari dolar. Trump bahkan mengancam akan memberlakukan tarif 100% bagi negara-negara BRICS yang menantang dominasi dolar AS.
Walau rencana mata uang BRICS masih jauh dari kenyataan, diskusi mengenai penguatan kerja sama keuangan dan pembayaran lintas negara tetap berjalan. BRICS kini lebih fokus pada pengembangan sistem pembayaran lintas negara berbasis teknologi blockchain dan penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan.
Dikutip dari Watcher Guru, Presiden Rusia Vladimir Putin, pada KTT BRICS tahun lalu, sempat memamerkan mock-up uang kertas sebagai simbol kesiapan BRICS untuk meluncurkan tender baru yang digadang-gadang akan menjadi pesaing dolar Amerika Serikat (AS). Namun, hingga kini, rencana tersebut belum masuk ke tahap teknis yang konkret, terutama karena resistensi dari India dan Brasil.
India secara terbuka menolak ide mata uang BRICS. Pemerintah India menilai, penerapan mata uang bersama akan mengancam kedaulatan ekonomi nasional dan stabilitas mata uang rupee. Selain itu, India khawatir bahwa sistem keuangan nasionalnya yang sangat terintegrasi dengan dolar AS akan terguncang jika harus beralih ke sistem baru yang belum teruji.
Baca Juga: 4 Negara ASEAN yang Resmi Gabung BRICS, Ini Daftar Terbaru
Penolakan India juga didasari oleh perbedaan struktur ekonomi antarnegara anggota BRICS. India menilai, keberagaman ekonomi dan kebutuhan finansial tiap negara membuat implementasi satu mata uang menjadi sangat sulit dan berisiko tinggi. Selain itu, India memandang bahwa dorongan dedolarisasi justru lebih menguntungkan China dan Rusia, yang selama ini berupaya mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.
Brasil mengambil langkah serupa dengan India. Di bawah kepemimpinan Presiden Lula da Silva, Brasil lebih memilih memperkuat mekanisme pembayaran lintas negara menggunakan mata uang lokal ketimbang membentuk mata uang bersama. Brasil menegaskan, upaya ini bukan untuk menantang dominasi dolar AS, melainkan untuk menekan biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi perdagangan antaranggota.
China, di sisi lain, terus memperkuat pengaruhnya di BRICS melalui investasi besar-besaran di negara-negara anggota, khususnya lewat inisiatif Sabuk dan Jalan. China juga memanfaatkan peluang ekspansi BRICS untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi yuan sebagai mata uang internasional. Jika mata uang BRICS terealisasi, China diperkirakan akan menjadi aktor dominan dalam penentuan kebijakan ekonomi kawasan.
Kekhawatiran India semakin besar karena perdagangan antara India dan China selama ini tidak seimbang. Perselisihan perbatasan dan ketidaksepakatan dalam pertukaran barang memperburuk posisi tawar India di hadapan China. India khawatir, keberhasilan mata uang BRICS hanya akan memperbesar dominasi China di kawasan Asia Tenggara dan menekan kepentingan India.
Pemerintah India di bawah Perdana Menteri Narendra Modi secara tegas ingin membendung pengaruh China di sektor keuangan dan tidak ingin Beijing melampaui batas kekuasaannya. India lebih memilih memperkuat hubungan dengan perusahaan dan institusi keuangan Barat sebagai penyeimbang kekuatan di kawasan.
Penolakan India terhadap dedolarisasi dan mata uang BRICS juga dipengaruhi oleh hubungan eratnya dengan Amerika Serikat. Selain memiliki cadangan devisa dalam dolar yang besar, India juga sangat bergantung pada kerja sama ekonomi dengan AS di sektor teknologi, energi, dan pertahanan.
Baca Juga: Gelombang Serangan Rudal Iran Hancurkan Israel, Pemimpin Tertinggi Khamenei: Pertempuran Dimulai
Di sisi lain, Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump telah memperingatkan akan adanya konsekuensi ekonomi serius bagi negara-negara yang mencoba menjauhkan diri dari dolar. Trump bahkan mengancam akan memberlakukan tarif 100% bagi negara-negara BRICS yang menantang dominasi dolar AS.
Walau rencana mata uang BRICS masih jauh dari kenyataan, diskusi mengenai penguatan kerja sama keuangan dan pembayaran lintas negara tetap berjalan. BRICS kini lebih fokus pada pengembangan sistem pembayaran lintas negara berbasis teknologi blockchain dan penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan.
(nng)
Lihat Juga :