Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Mentah Bakal Jadi Berapa?

Selasa, 24 Juni 2025 - 15:26 WIB
loading...
Selat Hormuz Ditutup,...
Satu hal yang sudah pasti terjadi adalah harga minyak mentah Brent naik dari USD65 per barrel di awal Juni menjadi USD73 di pertengahan Juni 2025. Setelah Israel menyerang Iran pada tanggal 13 Juni 2025. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Selat Hormuz menjadi sorotan di tengah eskalasi konflik Iran–Israel , setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran-Fordow, Natanz, dan Isfahan. Merespons serangan AS, Iran membuka peluang memblokir Selat Hormuz yang sering disebut sebagai "urat nadi arteri energi dunia".

Satu hal yang sudah pasti terjadi adalah harga minyakmentah Brent naik dari USD65 per barrel di awal Juni menjadi USD73 di pertengahan Juni 2025. Setelah Israel menyerang Iran pada tanggal 13 Juni 2025, harga minyak mentah langsung bergejolak.

Baca Juga: Harga Minyak Mendidih Imbas Perang Iran-Israel, Eropa Batalkan Sanksi Baru ke Rusia

Jika fasilitas migas menjadi target perang, Mantan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2016, Arcandra Tahar mengutarakan, maka akan ada sekitar 3,3 juta bopd produksi minyak mentah dan sekitar 2 juta bopd ekspor dari Iran yang terhenti.

"Artinya sekitar 3% suplai minyak mentah dunia akan terganggu. Seperti yang kita tahu Iran mempunyai cadangan minyak no 8 di dunia sementara untuk cadangan gas no 4," tulis Arcandra.

Selanjutnya sekitar 20% ekspor minyak mentah dan 20% ekspor LNG melewati Selat Hormuz. Kalau Iran menutup Selat Hormuz, maka dapat dibayangkan apa yang terjadi terhadap harga minyak dan LNG ke depan.

"Ada yang berspekulasi bahwa harga minyak mentah bisa naik di atas USD90 per barrel," ungkapnya.

Analis memperingatkan keadaan bisa dengan cepat berubah buruk bagi pasar minyak dan ekonomi global, jika muncul tanda-tanda konkret peningkatan ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

"Jika titik choke ekonomi yang penting ini ditutup, gangguan semacam itu akan mendorong harga minyak menuju USD100 per barel, atau bahkan lebih tinggi," tulis Joe Brusuelas, kepala ekonom untuk RSM US, dalam sebuah catatan kepada investor.

Sebelumnya JP Morgan mengatakan skenario ekstrem, di mana konflik meluas ke wilayah sekitarnya dan termasuk penutupan Selat Hormuz, dapat menyebabkan harga minyak melonjak menjadi USD120 hingga USD130 per barel.

Goldman Sachs juga menerangkan, bahwa premi risiko geopolitik sekitar USD10 per barel ada benarnya, mengingat pasokan Iran yang lebih rendah dan risiko gangguan yang lebih luas dapat mendorong minyak mentah Brent di atas USD90/barel.

"Meskipun ketegangan di Timur Tengah mungkin mereda dalam beberapa hari ke depan, harga minyak kemungkinan tidak akan kembali ke kisaran rendah USD60 yang sempat dicapai sebulan lalu," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein mengatakan, harga minyak dunia dapat melonjak antara USD200 hingga USD300 per barel. Baca Juga: Perang Israel-Iran Pecah, Harga Minyak Mentah Mendidih Naik Tembus 5 Persen

"Jika operasi militer terjadi, yang secara signifikan akan meningkatkan tingkat inflasi di negara-negara Eropa dan mempersulit ekspor minyak bagi negara-negara penghasil seperti Irak," ungkap Fuad Hussein.

Penutupan Selat Hormuz, sebagai sebuah jalur transportasi utama, bisa "mengakibatkan hilangnya sekitar lima juta barel per hari dari pasokan minyak Teluk dan Irak di pasar global," ucap menteri luar negeri Irak itu.

Selat Hormuz menjadi jalur maritim paling krusial di mana sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir melewatinya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
Meski IRGC Tutup Selat...
Meski IRGC Tutup Selat Hormuz, Perundingan Damai AS dan Iran Digelar di Swiss
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Rekomendasi
Kelab Pantai Favorit...
Kelab Pantai Favorit di Bali, Klive Beach Club Menjadi Ikon Baru Uluwatu
Pemerintah Paksa Daerah...
Pemerintah Paksa Daerah Hentikan Open Dumping Sampah dengan Skema Stick and Carrot
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Berita Terkini
Industri Herbal Andalkan...
Industri Herbal Andalkan Figur Publik Perkuat Kepercayaan Konsumen
Tamaris Hidro Bidik...
Tamaris Hidro Bidik Dana Rp1 Triliun lewat Sukuk Ijarah
Dukung Pendanaan UMKM,...
Dukung Pendanaan UMKM, Easycash Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan Hari Ini, Buyback Jadi Rp2,4 Juta per Gram
Transformasi Ekonomi...
Transformasi Ekonomi Progresif, Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi di Maluku Utara
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung Literasi Pasar Modal melalui Seminar Nasional 'Lo Kheng Hong Investment Philosophy'
Infografis
5 Pabrik Bakal Ditutup,...
5 Pabrik Bakal Ditutup, Gelombang PHK Ancam Karyawan Kimia Farma
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved