Gas dan Energi Terbarukan: Duet Strategis Menuju Net Zero dan Kemandirian Energi

Selasa, 24 Juni 2025 - 23:22 WIB
loading...
A A A
Kontribusi pembangkit listrik berbasis gas akan dikurangi dari 15,2 GW menjadi 10,3 GW, sementara sistem penyimpanan energi baterai (BESS) akan ditingkatkan dari 4,6 GW menjadi 6,0 GW untuk mendukung fleksibilitas dan keandalan sistem.

Saat ini, bauran energi terbarukan telah mencapai 14,5% pada tahun 2024-sebuah capaian progresif yang menunjukkan arah kebijakan yang konsisten. Target peningkatan menjadi 23% pada 2025 dan 31%–35% pada 2030 akan terus dikejar melalui kombinasi kebijakan adaptif, insentif, dan strategi investasi.

Gas Alam: Solusi Praktis, Mendukung Keandalan

Program konversi penggunaan HSD di 41 pembangkit berbasis gas yang dimulai pada Maret 2025 merupakan langkah konkret yang menunjukkan bagaimana gas dapat memperkuat sistem energi nasional. Dengan efisiensi biaya yang lebih baik dan waktu pembangunan yang lebih singkat dibandingkan proyek energi terbarukan skala besar, program ini mampu menutup kesenjangan pasokan, terutama di wilayah dengan akses energi terbatas.

Selanjutnya, pembangkit tambahan baru akan dibangun berdasarkan ketersediaan pasokan dan infrastruktur gas. Selain itu, infrastruktur gas yang saat ini sedang dibangun -seperti FSRU dan jaringan pipa gas- dipersiapkan dengan visi jangka panjang, agar kompatibel dengan teknologi hidrogen dan CCS.

Dengan kata lain, gas tidak hanya menjadi bagian dari solusi jangka menengah, tetapi juga dirancang untuk mendukung dan mengiringi transisi penuh menuju sistem energi bersih.

Teknologi Rendah Karbon: Evolusi Gas Menuju Energi Masa Depan

Pemanfaatan gas kini berada dalam fase transformasi. Narasi lama yang menyamakan gas dengan bahan bakar fosil konvensional tidak lagi mencerminkan kemajuan teknologi saat ini. Berbagai negara di kawasan telah mulai menerapkan teknologi rendah karbon untuk gas, termasuk bio-LNG, sistem pemantauan digital kebocoran metana, dan integrasi pipa yang siap hidrogen.

Indonesia juga berada di jalur yang sama. Peraturan Presiden No. 14 Tahun 2024 menjadi landasan hukum penting bagi pengembangan fasilitas penyimpanan karbon lintas batas. Inisiatif seperti proyek Tangguh CCUS (BP) dan Sunda-Asri CCS Hub (Pertamina–ExxonMobil) adalah bukti bahwa Indonesia bukan sekadar pengikut tren, melainkan juga turut membentuk masa depan energi rendah karbon.

Model Hibrida: Menggabungkan Keandalan dan Keberlanjutan

Transisi energi masa depan memerlukan pendekatan yang tidak hanya idealistik, tetapi juga realistis. Model hibrida -yang menggabungkan pembangkit berbasis gas, energi terbarukan seperti PLTS, dan penyimpanan baterai- telah diterapkan di berbagai negara sebagai solusi untuk sistem energi yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.

Indonesia telah mengadopsi pendekatan ini melalui berbagai proyek strategis seperti FSRU Jawa Satu, program dedieselisasi, program gasifikasi, dan rencana integrasi baterai dalam sistem EBT. Strategi ini lahir dari pemahaman atas kondisi geografis dan sosial-ekonomi nasional, sehingga dapat mewujudkan sistem energi inklusif berbasis keadilan energi.

Kolaborasi Kawasan: Menuju Transisi yang Adil dan Inklusif

Sebagai negara dengan posisi strategis di kawasan, Indonesia juga mendorong pendekatan kolaboratif dalam transisi energi. Melalui sinergi antara gas dan energi terbarukan, kawasan Asia-Pasifik memiliki peluang besar untuk mempercepat pencapaian target net zero, tanpa mengorbankan keandalan pasokan atau keterjangkauan.

Ajakan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal kepercayaan, semangat belajar bersama, dan tekad membangun masa depan energi yang tidak meninggalkan siapa pun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menuju Industri Hijau:...
Menuju Industri Hijau: PGN Rintis Ekosistem CCS demi Amonia Rendah Karbon
PLN EPI Siapkan Infrastruktur...
PLN EPI Siapkan Infrastruktur Gas, Kebutuhan Energi Primer Diproyeksi Tumbuh 5% per Tahun
Sokoguru Policy Forum:...
Sokoguru Policy Forum: Bedah Strategi Penguatan Ketahanan dan Transisi Energi Nasional
GEM Perkuat Standar...
GEM Perkuat Standar K3 dan APD demi Keselamatan Pekerja
Prabowo Kejar Swasembada...
Prabowo Kejar Swasembada Energi: Paling Lambat Akhir 2029
Kadin Net Zero Hub Bersama...
Kadin Net Zero Hub Bersama KIIC Dorong Aksi Nyata Dekarbonisasi Industri
Cornelis PDIP Dorong...
Cornelis PDIP Dorong Pemerintah Serius Tindak Lanjuti Temuan BPK soal Ketahanan Energi Nasional
Legislator PAN Dorong...
Legislator PAN Dorong Pemerintah Terus Upayakan Transisi Energi Ramah Lingkungan
Indonesia di Bawah Bayang-Bayang...
Indonesia di Bawah Bayang-Bayang Krisis Global: Saatnya Berhenti Bergantung
Rekomendasi
AS Juara Piala Dunia...
AS Juara Piala Dunia 2026, Jeep Siap Bagi-bagi Mobil Wrangler
Kasus Erin Berbalik...
Kasus Erin Berbalik Arah? Bukti Psikologis Nur Disebut Untungkan Herawati
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved