Del Monte, Raksasa Makanan Kaleng Bangkrut setelah 140 Tahun Berdiri
Jum'at, 04 Juli 2025 - 08:58 WIB
loading...
A
A
A
Del Monte menyebut pandemi Covid-19 sebagai salah satu titik balik yang memperburuk kondisi keuangan perusahaan. Pada awal pandemi, permintaan makanan kaleng melonjak drastis karena banyak orang memasak di rumah. Namun, ketika kondisi mulai normal, permintaan anjlok, sementara persediaan menumpuk dan akhirnya dijual dengan kerugian besar.
Masalah semakin kompleks setelah perusahaan menanggung beban utang yang signifikan sejak diakuisisi oleh Del Monte Pacific Limited pada 2014. Akuisisi itu dibiayai dengan pinjaman besar, sementara suku bunga global terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menggandakan beban bunga tunai perusahaan sejak 2020.
Lembaga pemeringkat S&P Global menurunkan peringkat kredit Del Monte dari B ke B- pada tahun lalu karena lemahnya kinerja operasional. Tekanan keuangan tersebut diperparah oleh perubahan perilaku konsumen yang kini cenderung beralih ke produk private label atau merek toko yang lebih murah.
"Saat ini sekitar 40 hingga 45 persen pasar dikuasai oleh merek private label dengan harga lebih kompetitif," ujar Arpi Gupta, analis S&P Global. Ia menambahkan, "Konsumen sedang kesulitan karena harga ritel makanan naik sekitar 25 hingga 30 persen dibandingkan tiga tahun lalu."
Baca Juga: Bos Industri Jerman: Uni Eropa Bisa Jadi Provinsi China
Masalah semakin kompleks setelah perusahaan menanggung beban utang yang signifikan sejak diakuisisi oleh Del Monte Pacific Limited pada 2014. Akuisisi itu dibiayai dengan pinjaman besar, sementara suku bunga global terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menggandakan beban bunga tunai perusahaan sejak 2020.
Lembaga pemeringkat S&P Global menurunkan peringkat kredit Del Monte dari B ke B- pada tahun lalu karena lemahnya kinerja operasional. Tekanan keuangan tersebut diperparah oleh perubahan perilaku konsumen yang kini cenderung beralih ke produk private label atau merek toko yang lebih murah.
"Saat ini sekitar 40 hingga 45 persen pasar dikuasai oleh merek private label dengan harga lebih kompetitif," ujar Arpi Gupta, analis S&P Global. Ia menambahkan, "Konsumen sedang kesulitan karena harga ritel makanan naik sekitar 25 hingga 30 persen dibandingkan tiga tahun lalu."
Baca Juga: Bos Industri Jerman: Uni Eropa Bisa Jadi Provinsi China
Lihat Juga :