AS Bakal Umumkan Hasil Negosiasi Tarif, IHSG Diprediksi Bergerak ke 6.815-6.970
Senin, 07 Juli 2025 - 07:32 WIB
loading...
A
A
A
"Di tengah aktivitas manufaktur membaik baik dari AS maupun China, PMI Manufaktur Indonesia justru turun ke 46,9 dari 47,4 di Mei. Permintaan baru turun tajam, terutama dari pasar domestik, menyebabkan penurunan output, pembelian bahan baku, dan ketenagakerjaan, dengan penurunan tenaga kerja terdalam dalam hampir empat tahun," kata Imam.
Turunnya aktivitas manufaktur di Indonesia tentunya tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang masih dibayangi oleh ketidakpastian, khususnya terkait kebijakan tarif Trump. "Para eksekutif juga kemungkinan masih menunggu hasil negosiasi di tanggal 9 Juli nanti sebelum bertindak apakah harus ekspansif atau harus defensif," ujar Imam.
Melihat data lainnya, dalam hal ini inflasi, terlihat adanya perbaikan daya beli. Inflasi naik ke level 1,87% (yoy) dari Mei 2025 yang berada di angka 1,6%, serta berada di atas konsensus 1,83%.
"Naiknya inflasi ini dipengaruhi oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil inflasi 0,59 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan," ujar Imam.
Pada pekan kemarin, Senat AS baru saja mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait dengan pajak dan belanja yang diusulkan oleh Donald Trump. Objektif pada RUU ini adalah efisiensi pada program bantuan sosial, perpanjangan pemotongan pajak, peningkatan belanja militer dan imigrasi, serta menambah utang nasional sebesar USD3,3 triliun atau sekitar Rp53.000 triliun.
Dampak dari kebijakan ini adalah potensi peningkatan penerbitan surat utang AS (US Treasury) seiring dengan tambahan utang nasional sebesar USD3,3 triliun. Hal tersebut dapat mendorong yield US Treasury naik, karena investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi untuk membiayai defisit besar. Akibatnya, terdapat potensi investor asing cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang (outflow).
Masih dari AS, beberapa data tenaga kerja AS tetap solid. Data Unemployment Rate turun ke 4,1% di Juni 2025, lebih rendah dari Mei yang ada di 4,2%. Nonfarm Payroll (NPF) juga naik 147 ribu di Juni 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di 144 ribu serta lebih tinggi dari konsensus 110 ribu.
Dengan solidnya data tenaga kerja AS, hal ini membuat probability pemangkasan suku bunga di bulan Juli 2025 turun tajam ke 4,7%, padahal di akhir Juni lalu masih berada di level 18,6%.
Imam mengimbau para trader untuk mencermati sentimen kunci dari global dan domestik. Dari Global, ada China Consumer Price Index (CPI).
Turunnya aktivitas manufaktur di Indonesia tentunya tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang masih dibayangi oleh ketidakpastian, khususnya terkait kebijakan tarif Trump. "Para eksekutif juga kemungkinan masih menunggu hasil negosiasi di tanggal 9 Juli nanti sebelum bertindak apakah harus ekspansif atau harus defensif," ujar Imam.
Melihat data lainnya, dalam hal ini inflasi, terlihat adanya perbaikan daya beli. Inflasi naik ke level 1,87% (yoy) dari Mei 2025 yang berada di angka 1,6%, serta berada di atas konsensus 1,83%.
"Naiknya inflasi ini dipengaruhi oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil inflasi 0,59 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan," ujar Imam.
Pada pekan kemarin, Senat AS baru saja mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait dengan pajak dan belanja yang diusulkan oleh Donald Trump. Objektif pada RUU ini adalah efisiensi pada program bantuan sosial, perpanjangan pemotongan pajak, peningkatan belanja militer dan imigrasi, serta menambah utang nasional sebesar USD3,3 triliun atau sekitar Rp53.000 triliun.
Dampak dari kebijakan ini adalah potensi peningkatan penerbitan surat utang AS (US Treasury) seiring dengan tambahan utang nasional sebesar USD3,3 triliun. Hal tersebut dapat mendorong yield US Treasury naik, karena investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi untuk membiayai defisit besar. Akibatnya, terdapat potensi investor asing cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang (outflow).
Masih dari AS, beberapa data tenaga kerja AS tetap solid. Data Unemployment Rate turun ke 4,1% di Juni 2025, lebih rendah dari Mei yang ada di 4,2%. Nonfarm Payroll (NPF) juga naik 147 ribu di Juni 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di 144 ribu serta lebih tinggi dari konsensus 110 ribu.
Dengan solidnya data tenaga kerja AS, hal ini membuat probability pemangkasan suku bunga di bulan Juli 2025 turun tajam ke 4,7%, padahal di akhir Juni lalu masih berada di level 18,6%.
Imam mengimbau para trader untuk mencermati sentimen kunci dari global dan domestik. Dari Global, ada China Consumer Price Index (CPI).
Lihat Juga :