Trump Ancam Bubarkan BRICS dengan Cara Ini

Rabu, 09 Juli 2025 - 15:31 WIB
loading...
Trump Ancam Bubarkan...
Presiden AS Donald Trump kembali memicu ketegangan di kancah ekonomi global dengan mengancam akan memaksa negara-negara anggota BRICS keluar dari aliansi tersebut. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu ketegangan di kancah ekonomi global dengan mengancam akan memaksa negara-negara anggota BRICS keluar dari aliansi tersebut. Ancaman itu disampaikan melalui rencana penerapan tarif impor tambahan secara segera terhadap seluruh negara anggota BRICS.

Trump mengeluarkan pernyataan setelah kelompok BRICS menyampaikan kritik tidak langsung terhadap kebijakan perang dagang dan serangan militer terbaru di Iran. Dalam unggahan di platform Truth Social, Senin (9/7), Trump menegaskan, setiap negara yang dianggap bersekutu dengan kebijakan anti-Amerika dari BRICS akan dikenakan tarif tambahan sebesar 10% tanpa pengecualian.

"Negara manapun yang bersekutu dengan kebijakan Anti-Amerika dari BRICS akan dikenakan tarif tambahan 10%. Tidak akan ada pengecualian untuk kebijakan ini," tulis Trump, dikutip dari Aljazeera, Rabu (9/7).

Baca Juga: Breaking News! Trump Putuskan Indonesia Tetap Kena Tarif Impor 32%

BRICS, yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kini telah berkembang dengan keanggotaan baru seperti Indonesia, Mesir, Iran, dan Uni Emirat Arab. Kelompok ini baru saja menggelar pertemuan ke-17 di Rio de Janeiro, Brasil, yang menghasilkan deklarasi bersama untuk mempromosikan perdamaian dan kerja sama global.

Namun, sejumlah poin dalam deklarasi tersebut dinilai menyinggung AS dan sekutunya, terutama terkait isu peningkatan penggunaan tarif dalam perdagangan internasional. Para pemimpin BRICS menyoroti praktik tarif unilateral yang dinilai tidak sesuai dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan global.

Trump sendiri dikenal sebagai pendukung kebijakan ekonomi proteksionis dengan slogan “America First”, serta sering menggunakan tarif sebagai alat negosiasi dagang. Ia bahkan menyebut tarif sebagai “kata yang paling indah dalam kamus saya”, meski banyak ekonom memperingatkan bahwa beban tarif pada akhirnya akan ditanggung konsumen.

Dalam pernyataan mereka, para pemimpin BRICS menyampaikan keprihatinan serius atas meningkatnya tarif dan tindakan non-tarif sepihak yang dapat mendistorsi perdagangan serta memperburuk kesenjangan ekonomi global. Mereka menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut dapat mengurangi volume perdagangan, mengganggu rantai pasok internasional, dan menimbulkan ketidakpastian ekonomi.

Selain isu perdagangan, BRICS juga mengecam serangan militer baru-baru ini terhadap Iran, salah satu anggota blok tersebut. Mereka menilai serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional, terutama karena fasilitas nuklir damai turut menjadi sasaran.

Baca Juga: Pakar: Rusia Serang NATO Bersamaan dengan China Invasi Taiwan Masuk Akal

Terkait ancaman tarif dari Trump, para pemimpin BRICS berupaya menenangkan situasi dengan menegaskan bahwa mereka tidak mencari konfrontasi dengan AS. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menilai, kemunculan berbagai pusat kekuatan dunia seharusnya diapresiasi secara positif, bukan dipandang sebagai ancaman.

Sementara, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menanggapi ancaman Trump dengan tegas. Ia menyebut tidak bertanggung jawab bagi seorang presiden negara besar seperti AS untuk mengancam dunia melalui media sosial, apalagi di tengah situasi global yang penuh tantangan.

Ancaman pembubaran BRICS melalui tekanan ekonomi ini menambah daftar panjang dinamika hubungan antara AS dan negara-negara berkembang, serta menyoroti pentingnya dialog dan kerja sama multilateral guna menjaga stabilitas ekonomi dan perdamaian dunia.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Gaya Hidup Miliarder,...
Gaya Hidup Miliarder, Begini Cara Keluarga Trump Membelanjakan Hartanya
Ekspor Minyak Venezuela...
Ekspor Minyak Venezuela Melesat jadi 1,25 Juta Barel per Hari, AS hingga Eropa Rebutan
Rupiah Ambruk Parah,...
Rupiah Ambruk Parah, Pelaku Industri Susu Mulai Cemas
Iran Merudal Kuwait...
Iran Merudal Kuwait dan Bahrain, Balas Pengeboman AS di Pulau Qeshm
Iran Tolak Gagasan Donald...
Iran Tolak Gagasan Donald Trump Bertemu Mojtaba Khamenei
Permusuhan Memanas,...
Permusuhan Memanas, AS Bombardir Lagi Pulau Qeshm Iran
Rekomendasi
21.948 Jemaah Haji Reguler...
21.948 Jemaah Haji Reguler dan 7.702 Haji Khusus Sudah Tiba di Indonesia
Iran Tolak Gagasan Donald...
Iran Tolak Gagasan Donald Trump Bertemu Mojtaba Khamenei
Permusuhan Memanas,...
Permusuhan Memanas, AS Bombardir Lagi Pulau Qeshm Iran
Berita Terkini
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
Infografis
10 Atlet Dengan Bayaran...
10 Atlet Dengan Bayaran Tertinggi 2026: Messi Dikalahkan Petinju Canelo Alvarez
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved