BRICS Kritik Keras IMF dan Bank Dunia, Cenderung Berpihak Kepentingan Barat

Rabu, 09 Juli 2025 - 22:00 WIB
loading...
BRICS Kritik Keras IMF...
KTT BRICS 2025 yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, tidak membahas agenda utama dedolarisasi dan pembentukan mata uang bersama. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, tidak membahas dua agenda utama yang selama ini menjadi sorotan, yakni dedolarisasi dan pembentukan mata uang bersama. Ketidakhadiran Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin disebut turut memengaruhi arah pembahasan forum yang berlangsung selama dua hari pada 6-7 Juli.

Forum yang dipimpin oleh Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva itu berlangsung tanpa menyentuh isu dedolarisasi maupun inisiatif mata uang baru. Padahal, kedua agenda tersebut sempat menjadi pokok pembicaraan dalam pertemuan-pertemuan BRICS sebelumnya dan disebut sebagai langkah strategis untuk membangun kemandirian ekonomi di luar pengaruh dolar AS.

Baca Juga: BRICS Desak Perubahan Besar di IMF, Minta Kepemimpinan Barat Diakhiri

Minimnya pembahasan dua agenda penting tersebut memunculkan penilaian bahwa BRICS belum menunjukkan komitmen konkret terhadap rencana-rencana tersebut. Beberapa pengamat menilai hal ini sebagai bentuk inkonsistensi atau bahkan strategi “menarik ulur” tanpa arah yang jelas.

Meski tidak membahas secara khusus soal mata uang bersama atau pengurangan dominasi dolar, para pemimpin BRICS tetap menyuarakan kritik keras terhadap tatanan ekonomi global yang dinilai timpang. Dalam pernyataan resminya, mereka menyampaikan ketidakpuasan terhadap sistem keuangan internasional yang dianggap tidak memberikan ruang adil bagi negara-negara berkembang, khususnya di kawasan Selatan Global (Global South).

Menurut laporan Watcher Guru, kritik paling tajam justru ditujukan kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. BRICS menilai kedua lembaga keuangan global tersebut cenderung berpihak pada kepentingan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, sementara kebutuhan dan tantangan negara-negara berkembang sering kali terabaikan.

Dominasi dolar AS dalam pengambilan keputusan di kedua lembaga itu menjadi salah satu sorotan utama. BRICS menyebut, struktur kekuasaan di IMF dan Bank Dunia saat ini tidak merefleksikan realitas ekonomi global yang telah berubah dan semakin multipolar.

Namun demikian, hingga KTT 2025 berakhir, BRICS tidak mengeluarkan pernyataan resmi terkait de-dolarisasi atau pembentukan mata uang bersama. Kedua isu itu praktis dikesampingkan, meskipun menjadi harapan besar bagi sebagian negara anggota yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan Barat.

Baca Juga: Kekuatan Ekonomi BRICS Lebih Besar dari Blok Barat, Total Tembus Rp323.677 Triliun

Satu-satunya langkah konkret yang diambil menyangkut perdagangan adalah dorongan untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral antarnegara anggota. Inisiatif ini dinilai sebagai pendekatan awal yang lebih realistis di tengah tantangan geopolitik dan perbedaan kesiapan antar anggota.

Kendati demikian, pengamat menilai bahwa absennya agenda de-dolarisasi bukan berarti rencana tersebut telah ditinggalkan sepenuhnya. Masih terbuka kemungkinan bahwa isu ini akan kembali menjadi fokus dalam KTT BRICS di masa mendatang, seiring dengan dinamika global yang terus berubah.

Sejumlah negara anggota juga diyakini tetap mendorong pembahasan lebih lanjut mengenai pembentukan mata uang bersama sebagai alternatif dari sistem keuangan berbasis dolar yang kini dinilai timpang dan bias.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Menguak di Balik Lawatan...
Menguak di Balik Lawatan Prabowo 1,5 Tahun, Seskab Teddy: BRICS hingga Investasi Rp2.430 Triliun
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
Dolar AS Mulai Dikepung,...
Dolar AS Mulai Dikepung, Mampukah BRICS Meruntuhkan Dominasi Greenback?
Terancam Bangkrut? 27...
Terancam Bangkrut? 27 Negara Panik Amankan Dana Darurat Bank Dunia
BRICS Jadi Senjata Terakhir...
BRICS Jadi Senjata Terakhir Indonesia jika Impor 150 Juta Ton Barel Minyak Rusia Batal
Viral, Menlu Rusia Marahi...
Viral, Menlu Rusia Marahi Jurnalis Berisik: 'Serahkan Ponsel Anda atau Petugas Keluarkan Senjata!'
Menlu Sugiono: BRICS...
Menlu Sugiono: BRICS Harus Berperan Aktif Menjaga Perdamaian dan Stabilitas Global
Utut Adianto Sebut Diplomasi...
Utut Adianto Sebut Diplomasi Prabowo Cerminkan Strategi Mendayung di Antara Dua Karang
Rekomendasi
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Penampakan Andri Mulyono...
Penampakan Andri Mulyono Pakai Rompi Tahanan usai Jadi Tersangka Baru Pengadaan Motor Listrik BGN
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved