Kejatuhan Dolar AS di Depan Mata saat Tarif Trump Mengguncang Global

Jum'at, 11 Juli 2025 - 08:09 WIB
loading...
Kejatuhan Dolar AS di...
Rencana Presiden AS, Donald Trump untuk memberlakukan tarif impor 10% secara menyeluruh pada impor dari negara-negara BRICS, diprediksi kemungkinan besar akan berbalik dan mempercepat dedolarisasi. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Rencana Presiden AS (Amerika Serikat), Donald Trump untuk memberlakukan tarif impor 10% secara menyeluruh pada impor dari negara-negara BRICS, diprediksi kemungkinan besar akan berbalik dan mempercepat pergeseran global dari dominasi dolar atau dedolarisasi . Hal itu diungkapkan oleh Politisi Kenya, Booker Omole yang merupakan sekretaris jenderal Partai Komunis Marxis.

Seperti dilansir RT, Ia menggambarkan tarif yang direncanakan Trump sebagai bagian dari strategi yang lebih luas yang ditujukan pada apa yang ia sebut sebagai 'menyelamatkan penurunan strategis imperialisme AS.' Ia berpendapat, bahwa bukannya melemahkan negara-negara BRICS, tindakan semacam itu kemungkinan akan mempercepat upaya mereka untuk berdagang dalam mata uang nasional dan mengembangkan sistem keuangan alternatif.

"Jika tarif tersebut benar-benar ditujukan untuk mengisolasi khususnya China, Rusia, dan negara-negara BRICS, maka itu sebenarnya akan memperkuat strategi penggantian mata uang yang saat ini sedang berlangsung dan hanya dapat memperdalam perdagangan dalam mata uang nasional negara-negara BRICS. Serta sebenarnya mempercepat sistem keuangan mencari alternatif dan tantangan terhadap supremasi dolar,” kata Omole.

Baca Juga: Trump Tuding BRICS Gerogoti Dolar AS, Ini Respons Tegas dari Negara Anggota

Sebelumnya berbicara pada rapat kabinet tengah pekan kemarin, Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa AS akan memberlakukan tarif baru pada anggota BRICS secepatnya. Dia menambahkan bahwa, “Jika mereka adalah anggota BRICS, mereka akan dikenakan tarif 10% - dan mereka tidak akan menjadi anggota lagi dalam waktu yang lama,” seperti dilaporkan Reuters.

Sementara itu Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa baru-baru ini mengatakan, bahwa kerja sama kelompok tersebut bukan untuk menghadapi siapa pun secara khusus, dan bahwa "sangat mengecewakan" bahwa BRICS dipandang "dalam cahaya negatif."

Selanjutnya Omole mengatakan, bahwa pernyataan Ramaphosa itu dibutuhkan, tetapi pengaruh kelompok BRICS diyakini akan terus meningkat. "Meskipun Presiden Ramaphosa mungkin terlihat diplomatis, tetapi memang BRICS sedang mempercepat penurunan permanen kekuasaan AS," tegasnya.

Berbicara di sela-sela Konferensi Menteri Forum Kemitraan Rusia-Afrika pada bulan November, Mashood Jacob Ajene, seorang ahli dari Pusat Penelitian Afrika-Rusia di Ghana, mengatakan kepada RT bahwa mengurangi ketergantungan pada dolar AS dapat mengubah masa depan ekonomi Afrika.

"AS sangat kuat karena dolar, dan dolar hanyalah selembar kertas," kata Ajene, sembari menambahkan bahwa ketergantungan Afrika pada dolar membatasi potensinya.

Baca Juga: Campakkan Dolar AS, 44 Negara Kepincut Agenda Dedolarisasi

Sebagai informasi BRICS didirikan pada tahun 2006 oleh Brasil, Rusia, India, dan China, dengan kemudian Afrika Selatan bergabung pada tahun 2010. Selama tahun lalu, kelompok ini telah memberikan keanggotaan penuh kepada Iran, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab, hingga Indonesia.

Sedangkan negara-negara mitra blok ini termasuk Belarusia, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, dan Uzbekistan.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
Maia Estianty Soroti...
Maia Estianty Soroti Dolar Tembus Rp18.000, Curhat soal Pajak
Mahasiswa UNS Diajak...
Mahasiswa UNS Diajak Pahami Penyebab Rupiah Melemah dan Dolar Naik di ICC 2026
Rekomendasi
Jakarta Night Market...
Jakarta Night Market Glodok Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Raup Untung Besar
Resmikan Penataan Jalan...
Resmikan Penataan Jalan Rasuna Said, Pramono: Wajah Baru Jakarta
Ajak Elite Politik Jaga...
Ajak Elite Politik Jaga Stabilitas Politik dan Konsisten Bersikap, Misbakhun: Jangan Ambigu
Berita Terkini
Tamaris Hidro Bidik...
Tamaris Hidro Bidik Dana Rp1 Triliun lewat Sukuk Ijarah
Dukung Pendanaan UMKM,...
Dukung Pendanaan UMKM, Easycash Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan Hari Ini, Buyback Jadi Rp2,4 Juta per Gram
Transformasi Ekonomi...
Transformasi Ekonomi Progresif, Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi di Maluku Utara
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung Literasi Pasar Modal melalui Seminar Nasional 'Lo Kheng Hong Investment Philosophy'
Bidik Pasar Renovasi...
Bidik Pasar Renovasi Rumah, SIG Perluas Jangkauan Beton Siap Pakai di Perkotaan
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved