Sebelum Terapkan Zero ODOL, GAPKI Minta Pemerintah Revisi Aturan MST Kelas Jalan

Jum'at, 11 Juli 2025 - 19:25 WIB
loading...
Sebelum Terapkan Zero...
Sebelum diterapkannya zero odol, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) meminta agar pemerintah perlu melakukan evaluasi apakah infrastruktur jalan kita saat ini memang sudah memadai atau belum. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada prinsipnya mendukung penerapan kebijakan Zero ODOL (Over Dimension Overloading) di Indonesia. Namun sebelum diterapkan perlu dilakukan revisi aturan tentang Muatan Sumbu Terberat (MST) di Peraturan Pemerintah PP No. 30/2021 tentang Penyelenggaraan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ).

Ketua Bidang Perdagangan & Promosi GAPKI, Manumpak Manurung mengatakan, tanpa perubahan peraturan tersebut, implementasi kebijakan Zero ODOL akan menyebabkan kenaikan harga-harga barang yang sangat tinggi. Hal itu karena diperlukan jumlah truk logistik lebih dari dua kali lipat yang akhirnya akan berdampak pada inflasi yang tinggi di daerah maupun secara nasional.

“Pada prinsipnya kita mendukung kebijakan Zero ODOL di Indonesia. Tetapi sebelum diimplementasikan, kita meminta agar pemerintah perlu melakukan evaluasi terlebih dulu apakah infrastruktur jalan kita saat ini memang sudah memadai atau belum,” ujarnya.

Karena menurutnya, kondisi jalan yang ada di sentra-sentra sawit saat ini sangat jauh dari yang diharapkan. Apalagi lokasinya berada di remote area. Baca Juga: Bereskan Permasalahan Zero ODOL, Ini Kuncinya

“Jadi, kalau Zero ODOL dipaksa untuk diterapkan tanpa merevisi aturan kelas jalannya, bisa dipastikan biaya logistik kita akan semakin mahal. Sudah bisa dipastikan, kita akan kehilangan daya saing dengan pesaing utama kita Malaysia,” ungkapnya.

Karena lanjutnya dengan penerapan Zero ODOL ini tanpa merevisi aturan kelas jalannya, akan terjadi penambahan jumlah truk yang membawa sawit-sawit itu dari tempat pengumpulan TBS (Tandan Buah Segar). Sebab yang tadinya satu truk bisa memuat 8 ton sawit, dengan diterapkan Zero ODOL, truk-truk itu hanya bisa mengangkut 3 ton saja sesuai dengan kelas jalannya.

“Akibatnya, truk yang tadinya bermuatan 8 ton harus dipecah ke truk-truk lainnya. Artinya, jumlah truknya akan bertambah dan itu pasti akan menambah ongkosnya menjadi dua atau tiga kali lipat,” tuturnya.

Dia mengutarakan, untuk menuju ke sentra -sentra pengumpulan kelapa sawit, jalan yang harus dilalui itu umumnya di bawah kelas 3C atau jalan kecamatan. “Ketika petani mengirim buahnya atau pengumpul buah mengambil buah dari supplier atau dari petani, itu akan menjadi masalah kalau Zero ODOL diterapkan. Karena, truk-truk itu akan lewat jalan-jalan desa atau jalan kecamatan yang tentu kelasnya di bawah kelas 3C,” tukasnya.

Diterangkan juga bahwa ketentuan MST ini tidak pernah berubah sejak 1993 yang diatur di PP No. 43/1993 tentang Prasarana LLAJ, di mana Kelas Jalan 1, 2 dan 3 hanya diperbolehkan untuk beban maksimum 10 ton, 8 ton dan 8 ton secara berurutan. Karenanya, GAPKI mengusulkan perubahan MST di Kelas Jalan 1, 2 dan 3 menjadi 13 ton, 11 ton dan 11 ton secara berurutan.

Artinya lanjutnya, pemerintah harus merevisi aturan Jumlah Berat (Kombinasi) yang Diizinkan (JBI/JBKI) yang berlaku saat ini di Surat Edaran Dirjen Hubungan Darat Kementerian Perhubungan RI No. SE.2/AJ.108/DRJD/2008. Menurutnya, peraturan ini belum pernah berubah sejak tahun 2008, sehingga belum mengakomodasi teknologi terbaru dari truk logistik saat ini.

“Karenanya, kami mengusulkan peningkatan MST di masing-masing sumbu truk sebelum kebijakan Zero ODOL diterapkan,” ucapnya.

GAPKI mengusulkan perubahan MST untuk kendaraan barang 3 sumbu di Kelas Jalan 1. Untuk MST sumbu ke-1 berubah menjadi 9 ton (dari 6 ton saat ini). Sementara, MST sumbu ke-2 dan 3 berubah menjadi 13 ton masing-masing (dari 9 ton saat ini). Sehingga, total JBI untuk truk 3 sumbu berubah menjadi 35 ton (dari 24 ton saat ini).

Baca Juga: MTI Tekankan Pentingnya Roadmad Dalam Mewujudkan Zero ODOL

GAPKI juga mengusulkan agar implementasi kebijakan Zero ODOL dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan rencana peningkatan kualitas (kelas) jalan dan juga perluasan jaringan infrastruktur jembatan timbang digital. Manumpak mengatakan saat ini masih banyak jalur padat logistik yang memiliki kelas jalan terendah (kelas 3 atau bahkan di bawahnya).

Selain itu menurutnya, perlu dilakukan pemerataan jumlah jembatan timbang digital di Indonesia untuk menghindari persaingan usaha yang tidak sehat dan ketimpangan biaya logistik di daerah.“Kami siap berdiskusi lebih lanjut untuk memberikan solusi agar implementasi peraturan Zero ODOL bisa berjalan dengan baik serta tetap mendukung iklim usaha yang baik di dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% di Indonesia,” katanya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Perusahaan Diduga...
10 Perusahaan Diduga Manipulasi Nilai Ekspor Sawit, Gapki Buka Suara
Uji Coba Penertiban...
Uji Coba Penertiban Truk ODOL Bakal Dimulai 1 Juni 2026, Ini 3 Variabelnya
PALMEX Jakarta 2026...
PALMEX Jakarta 2026 Dorong Industri Sawit Global melalui Inovasi dan Transformasi Digital
Membaca Urgensi Jalur...
Membaca Urgensi Jalur Khusus Logistik di Kawasan Industri
Menuju Bebas Truk ODOL...
Menuju Bebas Truk ODOL di 2027, Uji Coba Penegakan Hukum Dimulai 27 Januari
Mengukur Dampak Besar...
Mengukur Dampak Besar Pembatasan Kendaraan Logistik Saat Nataru
Pusat Studi Kepolisian...
Pusat Studi Kepolisian ULM Inisiasi Deklarasi Bersama Anti-ODOL di Kalsel
TMMD ke-128, Warga Papua...
TMMD ke-128, Warga Papua Bahagia Jalan Menuju Pantai dan Sekolah Mulai Diperbaiki
GAPKI Ajak Generasi...
GAPKI Ajak Generasi Muda Pasangkayu Jadi Sobat Sawit Peduli Lingkungan
Rekomendasi
Ketum PSOI Pandu Sjahrir...
Ketum PSOI Pandu Sjahrir Apresiasi Dukungan Prabowo untuk Anggaran Pelatnas Multiyears
Pertamina Mandalika...
Pertamina Mandalika Racing Series Putaran 2, Asah Potensi Pembalap Muda Indonesia
Kelab Pantai Favorit...
Kelab Pantai Favorit di Bali, Klive Beach Club Menjadi Ikon Baru Uluwatu
Berita Terkini
BPDP dan AKPY Latih...
BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Rupiah Menguat Tipis...
Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Langkah Membumi 2026...
Langkah Membumi 2026 Dimulai, Hadirkan Program Sustainability yang Lebih Pop untuk Anak Muda
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Industri Herbal Andalkan...
Industri Herbal Andalkan Figur Publik Perkuat Kepercayaan Konsumen
Tamaris Hidro Bidik...
Tamaris Hidro Bidik Dana Rp1 Triliun lewat Sukuk Ijarah
Infografis
Ini Aturan Jam Kerja...
Ini Aturan Jam Kerja PNS Selama Ramadhan dari Pemerintah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved