Dedolarisasi Gagal, Transaksi Minyak Rusia dan India Masih Tergantung Dolar AS

Sabtu, 12 Juli 2025 - 19:38 WIB
loading...
Dedolarisasi Gagal,...
Transaksi minyak Rusia dan India sebagaian besar masih tergantung dengan dolar AS. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Upaya BRICS untuk melepaskan ketergantungan dari dolar AS dalam perdagangan energi terganjal kenyataan di lapangan. Dua anggota utama BRICS India dan Rusia, kini justru melakukan transaksi minyak dengan menggunakan mata uang Uni Emirat Arab (UEA) dirham, alih-alih menggunakan mata uang nasional masing-masing.

Kesepakatan awal antara India dan Rusia pada 2022, menetapkan pembayaran minyak dan gas akan dilakukan menggunakan mata uang lokal rupee dan rubel dalam rangka mendukung agenda dedolarisasi. Sebagai implementasi, India membuka rekening Vostro untuk memungkinkan penyuling minyak Rusia menerima pembayaran dalam rupee.

Namun, dalam perjalanannya, penggunaan rupee dan rubel terbukti tidak efektif. Kini, sebagian besar transaksi minyak antara kedua negara justru dilakukan dengan menggunakan dirham UEA, yang ironisnya dipatok langsung terhadap dolar AS dengan nilai tetap 3,67 dirham per dolar.

Baca Juga: Nilai Dagang China-BRICS Tembus Rp10.489 Triliun, Indonesia dan Brasil Jadi Mitra Strategis

Sumber dari kalangan Pemerintah India menyebutkan, perubahan ini merupakan dampak dari sanksi ketat Amerika Serikat terhadap Rusia, yang menyebabkan penyulingan minyak India harus bertransaksi dengan pedagang perantara berbasis di UEA.

"Meskipun ada kesepakatan awal, India tidak lagi membeli minyak langsung dari Rusia, melainkan melalui para pedagang Asia Barat. Hal ini menyebabkan pembayaran dilakukan dalam dirham, bukan lagi rupee maupun rubel," ungkap seorang sumber kepada Mint, Sabtu (12/7).

Sumber lain yang memahami situasi ini menyebutkan penggunaan dirham dianggap lebih praktis karena sifatnya yang dapat dikonversikan secara bebas, berbeda dengan rubel Rusia yang terkena pembatasan transaksi global.

Selain itu, diskon untuk minyak Rusia yang sebelumnya menarik minat pembeli India juga semakin menurun. Hal ini menyebabkan penyulingan milik Pemerintah India lebih memilih pasokan dari pedagang yang memberikan kemudahan transaksi dan kestabilan mata uang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa inisiatif dedolarisasi yang digaungkan BRICS, terutama oleh Rusia dan India, masih menghadapi tantangan besar dalam implementasinya, terutama dalam menghadapi dominasi infrastruktur keuangan berbasis dolar.

"Masalah pembayaran sempat muncul, namun kini telah diselesaikan," ujar sumber tersebut. Kondisi ini menandakan, meskipun kendala teknis telah ditangani, tantangan strategis masih terus berlangsung.

Baca Juga: India Menjauh dari BRICS, Amankan Kesepakatan Dagang dengan AS

Dominasi dolar AS dalam perdagangan global tetap kuat, bahkan ketika negara-negara anggota BRICS berupaya menciptakan sistem keuangan alternatif yang lebih otonom dan multipolar. Langkah India dan Rusia yang kini menggunakan dirham secara luas justru memberi keuntungan kepada UEA dan secara tidak langsung memperkuat posisi dolar AS, mengingat dirham tetap terikat secara langsung dengan mata uang Amerika Serikat.

Situasi ini mencerminkan kompleksitas geopolitik dan ekonomi global, di mana upaya negara-negara berkembang untuk menciptakan tatanan finansial baru masih memerlukan waktu, konsistensi, serta infrastruktur keuangan yang memadai.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Rekomendasi
KPK Sita Rumah Bupati...
KPK Sita Rumah Bupati Pekalongan Fadia Arafiq di Semarang
Pengadilan Eksekusi...
Pengadilan Eksekusi Kawasan Hotel Sultan, Aset Dipindahkan ke Gudang di Cikarang
Kamboja Targetkan Kerja...
Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree
Berita Terkini
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Bekasi Fajar Cetak Laba...
Bekasi Fajar Cetak Laba Rp30 Miliar, Targetkan Penjualan Lahan Rp600 Miliar
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved