Negara-negara Ini Melakukan PHK Massal PNS, Indonesia Menyusul?

Selasa, 15 Juli 2025 - 11:33 WIB
loading...
Negara-negara Ini Melakukan...
Sejumlah negara telah melakukan PHK besar-besaran terhadap PNS pada 2025 sebagai langkah efisiensi anggaran dan reformasi birokrasi. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Sejumlah negara telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 2025 sebagai langkah efisiensi anggaran dan reformasi birokrasi.

Di Amerika Serikat, Kementerian Luar Negeri mulai memberhentikan 1.353 pegawai sejak Juli 2025, termasuk 1.107 pegawai sipil dan 246 staf dinas luar negeri. Pengurangan ini merupakan bagian dari rencana reorganisasi besar-besaran yang mencakup penyederhanaan unit birokrasi dan penutupan beberapa kantor.

Baca Juga: Anggaran Dipangkas, Deplu AS PHK Pegawai Besar-besaran dalam Beberapa Hari Mendatang

Departemen Efisiensi Pemerintah sebelumnya melaporkan, sekitar 75.000 pegawai federal juga ditawari pengunduran diri sukarela sebagai antisipasi PHK, dengan total PHK mencapai hampir 4 persen dari 2,3 juta pegawai pemerintah federal.

Vietnam juga menyetujui reformasi birokrasi yang memangkas hingga 20 persen pegawai negeri sipil. Jumlah kementerian berkurang dari 18 menjadi 14 mulai Maret 2025, dan undang-undang baru membuka jalan bagi PHK ASN hingga 15-20 persen, termasuk pekerja di lembaga dan saluran televisi negara.

Tak hanya itu, Argentina juga melakukan PHK massal Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai bagian dari upaya penghematan anggaran dan reformasi pemerintahan, meskipun detail jumlah dan sektor yang terdampak belum dipublikasikan secara rinci. Pakistan juga melakukan pengurangan pegawai negeri sipil untuk efisiensi anggaran dan restrukturisasi birokrasi, namun data spesifik terkait jumlah PHK belum tersedia.

Sementara, Indonesia menghadapi gelombang PHK besar-besaran di sektor swasta, mencapai sekitar 30.000 pekerja terkena PHK hingga Mei 2025. Berdasarkan laporan pemerintah, provinsi dengan jumlah PHK terbanyak adalah Jawa Tengah, Jakarta, dan Riau. Meskipun belum ada laporan resmi tentang PHK ASN massal di Indonesia, kekhawatiran mulai muncul di kalangan pegawai negeri.

PHK ASN di beberapa negara ini merupakan bagian dari reformasi birokrasi dan penyesuaian anggaran pemerintah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik. Kebijakan ini juga diiringi dengan tawaran skema pengunduran diri sukarela bagi pegawai yang bersedia keluar lebih awal.

Baca Juga: Daftar K/L yang Ramai-ramai Minta Tambahan Anggaran di Tengah Kesulitan APBN, Ada Polri hingga Komdigi

Mengutip dari berbagai sumber, alasan utama di balik PHK besar-besaran pegawai negeri sipil di berbagai negara tahun ini berkaitan dengan efisiensi anggaran dan reformasi birokrasi. Banyak negara melakukan pengurangan ASN sebagai bagian dari penghematan belanja negara, seperti yang dilakukan Amerika Serikat dan Vietnam.

Kemajuan teknologi dan digitalisasi juga menyebabkan kebutuhan tenaga kerja manual berkurang, sehingga beberapa posisi ASN menjadi tidak relevan. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global dan penurunan permintaan memaksa pemerintah untuk mengurangi beban biaya, termasuk belanja pegawai.

Kebijakan efisiensi anggaran mempengaruhi keputusan pemutusan hubungan kerja pegawai negeri sipil dan tenaga honorer di beberapa instansi pemerintah. Meskipun pemerintah menegaskan tidak ada PHK ASN akibat efisiensi, beberapa tenaga honorer yang kontraknya habis tidak diperpanjang, yang sering disalahartikan sebagai PHK massal.

PHK ASN di beberapa negara dianggap sebagai langkah strategis untuk mengatasi beban anggaran yang besar, meningkatkan efisiensi birokrasi, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi serta kondisi ekonomi global yang dinamis. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan pemerintahan yang lebih ramping, responsif, dan produktif.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Rekomendasi
Volkswagen Memangkas...
Volkswagen Memangkas Produksi Pabriknya di Jerman, Ini Pertimbangan
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Davina Karamoy Penuhi...
Davina Karamoy Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya Terkait Kasus Hanania Travel
Berita Terkini
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Dukung Program 3 Juta...
Dukung Program 3 Juta Rumah, Infiniti Land dan UI Jalin Kolaborasi
IHSG Anjlok Lebih 1%...
IHSG Anjlok Lebih 1% ke 6.154 Siang Ini
OveerPOS Dorong Efisiensi...
OveerPOS Dorong Efisiensi Bisnis lewat Integrasi Transaksi dan Pajak
Bukan Sekadar Listrik,...
Bukan Sekadar Listrik, Panas Bumi Jadi Katalis Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp30.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved