India Ogah Tinggalkan Dolar AS: BRICS Tak Kompak soal Dedolarisasi

Sabtu, 19 Juli 2025 - 09:23 WIB
loading...
India Ogah Tinggalkan...
India berselisih pendapat mengenai alternatif mata uang dolar AS. FOTO/IMAGO
A A A
JAKARTA - Pemerintah India menegaskan tidak mengikuti agenda dedolarisasi yang menjadi topik pembahasan di antara negara-negara anggota BRICS. India menyatakan tetap akan menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan lintas batas dan tidak mendukung pembentukan mata uang bersama.

Pernyataan ini disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, pada Kamis (18/7), hanya beberapa hari setelah digelarnya KTT BRICS ke-17 di Brasil, yang membahas sejumlah isu strategis termasuk penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.

"Pembayaran lintas batas memang dibahas. BRICS juga membicarakan kemungkinan penggunaan mata uang lokal masing-masing, tetapi tidak ada agenda mengenai dedolarisasi," ujar Jaiswal dikutip dari Watcher Guru, Sabtu (19/7).

Baca Juga: Putin Tegaskan Sistem Keuangan Barat Sudah Usang, BRICS Tawarkan Alternatif Baru

Dia menegaskan, India tidak berada dalam barisan negara-negara yang ingin meninggalkan dominasi dolar AS. Jaiswal juga menegaskan bahwa India tidak akan terlibat dalam pembentukan mata uang bersama BRICS, sebuah gagasan yang sempat mengemuka dalam pertemuan sebelumnya.

"Tidak ada rencana konkret untuk mata uang baru BRICS. Fokus kami adalah memperluas penggunaan rupee dalam transaksi lintas negara, bukan menggantikan dolar," tambahnya.

Menurut Jaiswal, India tetap terbuka untuk mengeksplorasi penggunaan rupee dalam perdagangan bilateral dan regional. Namun, ia mengakui bahwa inisiatif ini masih dalam tahap awal dan perlu melalui berbagai evaluasi kebijakan serta kesiapan teknis.

"Tujuan kami bukan mendukung dedolarisasi global, melainkan memperkuat posisi rupee secara bertahap dalam kerangka yang sesuai dengan kepentingan nasional," kata dia.

Jaiswal juga menyebut bahwa KTT BRICS kali ini berhasil karena India konsisten dengan pendekatannya yang pragmatis dan tidak terbawa arus politik blok tertentu. India secara konsisten menahan diri dari upaya dedolarisasi sejak masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Negara ini mempertimbangkan dampak ekonomi dalam negeri, terutama terhadap sektor teknologi informasi (TI) yang banyak bergantung pada kerja sama dengan perusahaan-perusahaan AS. Sektor TI menjadi tulang punggung ekonomi India dalam beberapa dekade terakhir. Industri ini menyumbang pendapatan ekspor besar dan mendukung sektor perumahan, finansial, serta berbagai bidang jasa lain yang tumbuh pesat.

Baca Juga: 3 Keuntungan Besar AS setelah Negosiasi Tarif Trump-Prabowo

Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi dipandang berhati-hati dalam menyikapi isu dedolarisasi karena khawatir dapat mengguncang stabilitas ekonomi domestik. India disebut lebih memilih langkah bertahap dalam menginternasionalkan rupee ketimbang mengikuti tekanan geopolitik.

Dalam KTT BRICS yang berakhir pekan lalu, beberapa negara seperti Rusia dan Tiongkok mendorong agenda pembayaran non-dolar untuk mengurangi dominasi mata uang AS dalam sistem keuangan global. Namun India memilih posisi yang lebih netral.

Penolakan India terhadap dedolarisasi menjadi sinyal bahwa perpecahan pandangan masih terjadi di antara anggota BRICS, meskipun kelompok ini berupaya memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan global secara kolektif.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
AS Bombardir Iran 2...
AS Bombardir Iran 2 Hari Berturut-turut saat Harga Minyak Melonjak
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Diduga Terlibat dalam...
Diduga Terlibat dalam Skandal Seks, Bill Gates Hadapi Sidang di DPR AS
Rekomendasi
DUNLOP Hadirkan SmartCare...
DUNLOP Hadirkan SmartCare Warranty, Solusi Tenang Pengguna Ban BLUE RESPONSE TG
SD Islam Al-Azhar Kelapa...
SD Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya Raih Posisi 5 Besar TKA 2026
Harumkan Nama Bangsa,...
Harumkan Nama Bangsa, Kolonel Cpn Jimmy Sirait Raih Gelar Master di US Army War College
Berita Terkini
Otto Media Grup Kolaborasi...
Otto Media Grup Kolaborasi Sadewi Essential Care, Perkuat Integrasi Brand-Rantai Pasok
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved