Industri China Tertekan Tarif AS, Gerus Laba hingga Picu PHK Massal

Senin, 21 Juli 2025 - 10:06 WIB
loading...
Industri China Tertekan...
Tekstil China adalah salah satu industri yang paling berisiko terkena tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump. FOTO/The Straits Times
A A A
JAKARTA - Sebagian besar industri di China diperkirakan tidak akan mampu bertahan dengan tarif yang dikenakan oleh Presiden AS Donald Trump saat ini. Analisis terbaru dari Bloomberg Economics menunjukkan tarif yang kini mencapai kisaran 40 persen jauh melampaui margin keuntungan rata-rata industri yang diperkirakan hanya sebesar 14,8 persen pada 2024.

Kesenjangan yang signifikan ini diprediksi akan mendorong penurunan harga yang lebih tajam, melemahkan keuntungan, dan dalam skenario terburuk, dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK), kebangkrutan, serta penutupan pabrik. Analis Chang Shu, David Qu, dan Maeva Cousin mengidentifikasi sektor-sektor yang paling berisiko, termasuk tekstil, perangkat teknologi informasi dan komunikasi, serta manufaktur furnitur.

Dari 33 sektor industri yang dianalisis, hanya lima sektor yang memiliki margin keuntungan lebih besar dibandingkan tarif yang dikenakan. Kelima sektor tersebut adalah farmasi, tembakau, serta ekstraksi minyak dan gas. "Beberapa perusahaan yang sangat bergantung pada pasar AS mungkin tidak akan bertahan," tulis para analis dalam catatan riset mereka dikutip dari The Straits Times, Senin (21/7).

Baca Juga: Bahas Perang Tarif, Trump dan Xi Jinping Berpeluang Bertemu di Korsel

Perusahaan-perusahaan lain kemungkinan akan berusaha menyesuaikan diri dengan menerima margin keuntungan yang lebih rendah, melakukan PHK, memotong upah, dan mungkin membanjiri pasar domestik serta pasar luar negeri dengan produk harga miring. Temuan ini menegaskan risiko ekonomi yang dihadapi oleh ekonomi terbesar kedua di dunia, terutama di tengah konsumsi domestik yang masih lesu.

Pejabat perdagangan dari kedua negara terus melakukan negosiasi untuk mencapai kesepakatan bilateral guna menghindari eskalasi tarif lebih lanjut. Di awal 2025, tarif untuk produk China pernah melonjak hingga 145 persen, menambah ketidakpastian bagi industri.

Data terbaru juga menunjukkan ketergantungan China pada produksi industri dan ekspor sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Meskipun Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,2 persen pada kuartal kedua, melampaui perkiraan analis, pertumbuhan ini didorong oleh percepatan pengiriman barang dan penurunan harga oleh para produsen, yang keduanya sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Analisis Bloomberg menemukan hampir separuh sektor industri China mengandalkan pasar luar negeri untuk menyerap setidaknya 10 persen produksinya, dengan Amerika Serikat tetap menjadi mitra dagang tunggal terbesar China. Tarif tinggi yang berkelanjutan berpotensi mendorong perusahaan-perusahaan di AS untuk mencari sumber barang dari negara lain dalam jangka panjang.

Baca Juga: NATO Ancam Rebut Wilayah Kaliningrad Secara Kilat, Rusia Siap Gunakan Senjata Nuklir

Meski demikian, beberapa faktor dapat meredam dampak negatif terhadap industri China, termasuk ekspor ke negara lain yang tidak terkena tarif serupa dan penyerapan produk oleh permintaan domestik. Selain itu, beberapa sektor telah menguasai pasar global sehingga sulit bagi perusahaan AS untuk menemukan barang pengganti.

Pemerintah China juga berpotensi memberikan dukungan fiskal tambahan untuk mendukung sektor industri, yang diharapkan dapat membantu mengurangi dampak dari tarif yang tinggi dan menjaga stabilitas ekonomi.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Rekomendasi
Polisi Imbau Mahasiswa...
Polisi Imbau Mahasiswa Waspadai Demo Hari Ini Ditunggangi
Akvindo: Tembakau Alternatif...
Akvindo: Tembakau Alternatif Kurangi Paparan Asap Rokok
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Berita Terkini
Antisipasi Lonjakan...
Antisipasi Lonjakan Harga Obat, BPOM Permudah Perizinan Bahan Baku Impor
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat, Kurs Dolar AS Kini di Rp17.860
Pemutakhiran NIK Jadi...
Pemutakhiran NIK Jadi Kunci Pembebasan PBB-P2 di Jakarta
ESDM Menjawab Isu Pasokan...
ESDM Menjawab Isu Pasokan Batubara Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Pulau Jawa
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
Penjelasan PLN soal...
Penjelasan PLN soal Blackout di Beberapa Wilayah Pulau Jawa
Infografis
4 Senjata Andalan China,...
4 Senjata Andalan China, dari Robot Serigala hingga Rudal Hipersonik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved