Pakar: BBM RON Rendah Sudahlah Nggak Usah Dijual Lagi
Rabu, 09 September 2020 - 23:22 WIB
loading...
A
A
A
"Penyakit kronis akibat polusi udara itulah yang berkontribusi terhadap penurunan sistem imunitas tubuh dan menjadi kormobiditas Covid-19," tegasnya.
(Baca Juga: Premium dan Pertalite Dihapus, Pemerintah Tetap Harus Subsidi BBM )
World Health Organization (WHO) pun, lanjut Budi, sudah mengimbau agar setiap negara dengan tingkat polusi tinggi seperti Indonesia, harus mempertimbangkan faktor risiko polusi udara dan kaitannya terhadap pengendalian COVID-19. Karena itulah Budi menegaskan, demi kesehatan masyarakat, memang sebaiknya beralih menuju BBM kualitas dengan baik, setidaknya BBM RON 92 atau bahkan 98.
Sebab semakin bagus kualitas BBM, maka masyarakat semakin sehat. Lanjutnya, dengan artian penyakit-penyakit terkait pencemaran udara akan berkurang. "Jadi, memang harus segera beralih. Apalagi, sebenarnya kita sudah sangat terlambat," ungkapnya.
Budi mengakui, soal daya beli masyarakat menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk tetap memberlakukan BBM RON rendah di pasaran, tetapi jika dipaksakan masyarakat sebenarnya juga bisa mampu. "Daripada membayar biaya pengobatan yang jatuhnya lebih mahal," terang Budi.
(Baca Juga: Premium dan Pertalite Dihapus, Pemerintah Tetap Harus Subsidi BBM )
World Health Organization (WHO) pun, lanjut Budi, sudah mengimbau agar setiap negara dengan tingkat polusi tinggi seperti Indonesia, harus mempertimbangkan faktor risiko polusi udara dan kaitannya terhadap pengendalian COVID-19. Karena itulah Budi menegaskan, demi kesehatan masyarakat, memang sebaiknya beralih menuju BBM kualitas dengan baik, setidaknya BBM RON 92 atau bahkan 98.
Sebab semakin bagus kualitas BBM, maka masyarakat semakin sehat. Lanjutnya, dengan artian penyakit-penyakit terkait pencemaran udara akan berkurang. "Jadi, memang harus segera beralih. Apalagi, sebenarnya kita sudah sangat terlambat," ungkapnya.
Budi mengakui, soal daya beli masyarakat menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk tetap memberlakukan BBM RON rendah di pasaran, tetapi jika dipaksakan masyarakat sebenarnya juga bisa mampu. "Daripada membayar biaya pengobatan yang jatuhnya lebih mahal," terang Budi.
(akr)
Lihat Juga :