Pemanfaatan Biochar dari Tankos Sawit Tekan Penggunaan Pupuk Kimia
Sabtu, 26 Juli 2025 - 09:24 WIB
loading...
Kegiatan Pembuatan Biochar Dari Tandan Kosong Sebagai Pembenah Tanah dan Produk Bernilai Ekonomis Skala UKMK di Desa Trimulya Jaya, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemanfaatan biochar atau arang aktif dari tandan kosong (tankos) kelapa sawit diyakini mampu menekan penggunaan pupuk kimia dalam budidaya perkebunan sawit. Inovasi yang didukung oleh ketersediaan tankos menawarkan solusi bagi petani untuk mengatasi tantangan biaya produksi yang terus meningkat.
Hal tersebut disampaikan Analisis Senior Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Anwar Sadat dalam acara Praktik Pembuatan Biochar Dari Tandan Kosong Sebagai Pembenah Tanah dan Produk Bernilai Ekonomis Skala UKMK di Desa Trimulya Jaya, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.
"Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi petani karena memberikan solusi menjawab tantangan di perkebunan kelapa sawit, yakni biaya produksi yang semakin meningkat terutama pengadaan pupuk dan produktivitas kebun yang stagnan," kata Anwar dalam pernyataannya, Sabtu (26/7).
Baca Juga: Petani Sawit Rokan Hulu Pelatihan Bikin Biochar, Alternatif Pupuk Organik
Anwar berharap biochar dapat dibuat langsung oleh petani dengan implementasi yang sesuai, sehingga kondisi tanah kebun kelapa sawit semakin bagus dan penyerapan pupuk menjadi lebih baik. Ia memperkirakan sekitar 40 juta ton tankos dapat dimanfaatkan setiap harinya di Indonesia, menunjukkan potensi bahan baku yang sangat besar.
"Ini juga peluang usaha bagi petani yang dapat memproduksi biochar skala UKMK. Artinya ada nilai ekonomis dari produk tersebut, sehingga kebun kelapa sawit berkelanjutan dan petani semakin sejahtera dengan penghasilan alternatif lain," tambahnya.
Sementara, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia DPD I Riau Sutoyo mengatakan, selama ini petani familiar dengan tankos yang hanya ditumpuk sebagai pupuk organik.
"Padahal ada inovasi lain yang bagus untuk memaksimalkan pemanfaatan tankos itu, yakni sebagai pembenah tanah. Di samping itu, pemanfaatan tankos ini juga dapat menekan biaya penggunaan pupuk kimia," jelas Sutoyo.
Baca Juga: Aspekpir Buat Biochar dari Tandan Kosong Sawit di Kampar
Ia berharap peserta dapat memanfaatkan kegiatan ini secara maksimal, sehingga mampu mempraktikkan ilmu yang didapat di kebun kelapa sawitnya, yang pada akhirnya akan membuat tanah lebih subur dan meningkatkan produksi.
Kepala Dinas Perkebunan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pelalawan, Aktar, menyatakan kegiatan ini sangat mendukung perkebunan kelapa sawit berkelanjutan di Pelalawan.
"Ini akan sangat mendukung petani dalam pemeliharaan kebun kelapa sawitnya, apalagi didukung oleh BPDP yang memiliki banyak program untuk perkebunan kelapa sawit," terangnya.
Aktar menambahkan, di tengah mahalnya harga pupuk kimia saat ini, inovasi pembuatan biochar dari tankos sawit dapat menjadi solusi bagi petani. Ia pun berharap pabrik kelapa sawit (PKS) atau perusahaan kelapa sawit dapat mendukung petani dengan mempermudah akses tankos atau bahkan ikut memproduksi biochar dengan melibatkan petani.
Sutoyo menjelaskan, kegiatan ini diikuti sekitar seratus petani sawit dari Kecamatan Ukui, Kerumutan, Pangkalan Lesung, dan Kecamatan Pangkalan Kuras di Kabupaten Pelalawan. Mereka merupakan pengurus dan anggota KUD Bakti, KUD Bina Usaha Baru, KUD Bina Sejahtera, KUD Sumber Bahagia, KUD Karya Bersama, KUD Amanah, dan KUD lainnya.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengalaman petani khususnya dalam pemanfaatan limbah tandan kosong (tankos) sawit. Aspekpir menggandeng akademisi dan praktisi, yaitu M Mirza Arif Zainal dari Yayasan Agathis Dammara Karbon, dan praktisi biochar Arif Firmansyah yang juga Direktur PT Perfekta Lintas Semesta.
"Alhamdulillah kegiatan yang didukung BPDP ini sangat antusias diikuti petani. Mulai dari kegiatan yang kita laksanakan di Kampar, Rohul, dan kali ini di Pelalawan," pungkas Sutoyo.
Hal tersebut disampaikan Analisis Senior Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Anwar Sadat dalam acara Praktik Pembuatan Biochar Dari Tandan Kosong Sebagai Pembenah Tanah dan Produk Bernilai Ekonomis Skala UKMK di Desa Trimulya Jaya, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.
"Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi petani karena memberikan solusi menjawab tantangan di perkebunan kelapa sawit, yakni biaya produksi yang semakin meningkat terutama pengadaan pupuk dan produktivitas kebun yang stagnan," kata Anwar dalam pernyataannya, Sabtu (26/7).
Baca Juga: Petani Sawit Rokan Hulu Pelatihan Bikin Biochar, Alternatif Pupuk Organik
Anwar berharap biochar dapat dibuat langsung oleh petani dengan implementasi yang sesuai, sehingga kondisi tanah kebun kelapa sawit semakin bagus dan penyerapan pupuk menjadi lebih baik. Ia memperkirakan sekitar 40 juta ton tankos dapat dimanfaatkan setiap harinya di Indonesia, menunjukkan potensi bahan baku yang sangat besar.
"Ini juga peluang usaha bagi petani yang dapat memproduksi biochar skala UKMK. Artinya ada nilai ekonomis dari produk tersebut, sehingga kebun kelapa sawit berkelanjutan dan petani semakin sejahtera dengan penghasilan alternatif lain," tambahnya.
Sementara, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia DPD I Riau Sutoyo mengatakan, selama ini petani familiar dengan tankos yang hanya ditumpuk sebagai pupuk organik.
"Padahal ada inovasi lain yang bagus untuk memaksimalkan pemanfaatan tankos itu, yakni sebagai pembenah tanah. Di samping itu, pemanfaatan tankos ini juga dapat menekan biaya penggunaan pupuk kimia," jelas Sutoyo.
Baca Juga: Aspekpir Buat Biochar dari Tandan Kosong Sawit di Kampar
Ia berharap peserta dapat memanfaatkan kegiatan ini secara maksimal, sehingga mampu mempraktikkan ilmu yang didapat di kebun kelapa sawitnya, yang pada akhirnya akan membuat tanah lebih subur dan meningkatkan produksi.
Kepala Dinas Perkebunan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pelalawan, Aktar, menyatakan kegiatan ini sangat mendukung perkebunan kelapa sawit berkelanjutan di Pelalawan.
"Ini akan sangat mendukung petani dalam pemeliharaan kebun kelapa sawitnya, apalagi didukung oleh BPDP yang memiliki banyak program untuk perkebunan kelapa sawit," terangnya.
Aktar menambahkan, di tengah mahalnya harga pupuk kimia saat ini, inovasi pembuatan biochar dari tankos sawit dapat menjadi solusi bagi petani. Ia pun berharap pabrik kelapa sawit (PKS) atau perusahaan kelapa sawit dapat mendukung petani dengan mempermudah akses tankos atau bahkan ikut memproduksi biochar dengan melibatkan petani.
Sutoyo menjelaskan, kegiatan ini diikuti sekitar seratus petani sawit dari Kecamatan Ukui, Kerumutan, Pangkalan Lesung, dan Kecamatan Pangkalan Kuras di Kabupaten Pelalawan. Mereka merupakan pengurus dan anggota KUD Bakti, KUD Bina Usaha Baru, KUD Bina Sejahtera, KUD Sumber Bahagia, KUD Karya Bersama, KUD Amanah, dan KUD lainnya.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengalaman petani khususnya dalam pemanfaatan limbah tandan kosong (tankos) sawit. Aspekpir menggandeng akademisi dan praktisi, yaitu M Mirza Arif Zainal dari Yayasan Agathis Dammara Karbon, dan praktisi biochar Arif Firmansyah yang juga Direktur PT Perfekta Lintas Semesta.
"Alhamdulillah kegiatan yang didukung BPDP ini sangat antusias diikuti petani. Mulai dari kegiatan yang kita laksanakan di Kampar, Rohul, dan kali ini di Pelalawan," pungkas Sutoyo.
(nng)
Lihat Juga :