Raksasa Mobil Jerman Boncos Rp189,6 Triliun Dihantui Tarif AS, Ekonomi Diramal Mandek
Rabu, 30 Juli 2025 - 22:56 WIB
loading...
Para raksasa produsen mobil asal Jerman diperkirakan akan kehilangan lebih dari USD11,6 miliar atau setara Rp189,6 triliun pada tahun ini, akibat dari tarif impor AS. Foto/Dok Reuter
A
A
A
JAKARTA - Para raksasa produsen mobil asal Jerman diperkirakan akan kehilangan lebih dari USD11,6 miliar atau setara Rp189,6 triliun (Rp16.348 per USD) pada tahun ini, akibat dari tarif impor AS . Hal ini diungkapkan oleh sebuah studi baru seperti dilansir Financial Times.
Industri otomotif negara UE (Uni Eropa) telah terpukul oleh meningkatnya biaya dan lesunya permintaan. Industri ini sudah menghadapi tekanan, dari adanya lonjakan biaya energi, penurunan penjualan, hingga ketatnya persaingan dengan China.
Baca Juga: Dihajar Tarif Trump, Jeep Tekor Rp44 Triliun
AS merupakan pasar asing terbesar bagi Jerman, tetapi industri mobilnya termasuk yang paling terpukul oleh tarif impor tinggi yang diterpapkan Presiden Donald Trump. Pada bulan Maret, Trump memberlakukan tarif 25% pada impor kendaraan yang dibuat di luar negeri.
Setelah berbulan-bulan pembicaraan, UE dan AS akhirnya mencapai kesepakatan yang menetapkan tarif dasar 15% untuk sebagian besar ekspor, termasuk mobil. Sementara tarif baja dan aluminium tetap di angka 50%.
Akibat sentimen ini, Mercedes-Benz diperkirakan akan melihat arus kasnya terjun dari hampir USD11 miliar menjadi sekitar USD3 miliar tahun ini, menurut platform analitik Visible Alpha, yang dikutip oleh FT. Sedangkan kas Volkswagen diprediksi bakal terpotong menjadi USD3,8 miliar, sementara arus kas BMW diproyeksikan sedikit turun menjadi USD5 miliar.
Sebelumnya Volkswagen mengatakan, kebijakan tarif telah mendongkrak biayanya lebih dari USD1 miliar di paruh pertama tahun ini dan memperingatkan bahwa beban tersebut dapat meningkat lebih lanjut. Pemasok dilaporkan telah meneruskan lonjakan biaya dari komponen yang bersumber dari luar negeri dan bahan mentah seperti aluminium dan baja, hingga semakin menggerus margin.
Kesepakatan UE-AS yang dicapai selama pertemuan antara Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dipuji oleh keduanya sebagai terobosan yang "kuat" dan "menstabilkan". Namun, hal ini memicu reaksi negatif di seluruh blok.
Beberapa pejabat UE menyebutnya "skandal" dan "bencana," bahkan mengklaim bahwa negosiasi tersebut gagal untuk mendapatkan konsesi dari AS. Federasi Industri Jerman menyebutnya sebagai "kompromi yang tidak memadai," dengan pemotongan tarif sebagai "satu-satunya aspek positif."
Baca Juga: Dampak Mencolok Tarif Uni Eropa terhadap Ekspor Mobil Listrik China
Penurunan sektor otomotif Jerman memperdalam kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi manufaktur terbesar di UE itu, yang mengalami resesi tahun lalu. Sedangkan IMF telah meramalkan pertumbuhan nol untuk ekonomi Jerman tahun ini, diprediksi bahwa Jerman akan menjadi satu-satunya negara G7 yang terhenti pertumbuhannya.
Industri otomotif negara UE (Uni Eropa) telah terpukul oleh meningkatnya biaya dan lesunya permintaan. Industri ini sudah menghadapi tekanan, dari adanya lonjakan biaya energi, penurunan penjualan, hingga ketatnya persaingan dengan China.
Baca Juga: Dihajar Tarif Trump, Jeep Tekor Rp44 Triliun
AS merupakan pasar asing terbesar bagi Jerman, tetapi industri mobilnya termasuk yang paling terpukul oleh tarif impor tinggi yang diterpapkan Presiden Donald Trump. Pada bulan Maret, Trump memberlakukan tarif 25% pada impor kendaraan yang dibuat di luar negeri.
Setelah berbulan-bulan pembicaraan, UE dan AS akhirnya mencapai kesepakatan yang menetapkan tarif dasar 15% untuk sebagian besar ekspor, termasuk mobil. Sementara tarif baja dan aluminium tetap di angka 50%.
Akibat sentimen ini, Mercedes-Benz diperkirakan akan melihat arus kasnya terjun dari hampir USD11 miliar menjadi sekitar USD3 miliar tahun ini, menurut platform analitik Visible Alpha, yang dikutip oleh FT. Sedangkan kas Volkswagen diprediksi bakal terpotong menjadi USD3,8 miliar, sementara arus kas BMW diproyeksikan sedikit turun menjadi USD5 miliar.
Sebelumnya Volkswagen mengatakan, kebijakan tarif telah mendongkrak biayanya lebih dari USD1 miliar di paruh pertama tahun ini dan memperingatkan bahwa beban tersebut dapat meningkat lebih lanjut. Pemasok dilaporkan telah meneruskan lonjakan biaya dari komponen yang bersumber dari luar negeri dan bahan mentah seperti aluminium dan baja, hingga semakin menggerus margin.
Kesepakatan UE-AS yang dicapai selama pertemuan antara Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dipuji oleh keduanya sebagai terobosan yang "kuat" dan "menstabilkan". Namun, hal ini memicu reaksi negatif di seluruh blok.
Beberapa pejabat UE menyebutnya "skandal" dan "bencana," bahkan mengklaim bahwa negosiasi tersebut gagal untuk mendapatkan konsesi dari AS. Federasi Industri Jerman menyebutnya sebagai "kompromi yang tidak memadai," dengan pemotongan tarif sebagai "satu-satunya aspek positif."
Baca Juga: Dampak Mencolok Tarif Uni Eropa terhadap Ekspor Mobil Listrik China
Penurunan sektor otomotif Jerman memperdalam kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi manufaktur terbesar di UE itu, yang mengalami resesi tahun lalu. Sedangkan IMF telah meramalkan pertumbuhan nol untuk ekonomi Jerman tahun ini, diprediksi bahwa Jerman akan menjadi satu-satunya negara G7 yang terhenti pertumbuhannya.
(akr)
Lihat Juga :