Dedolarisasi Melesat di Era Biden, Kini Tertekan di Bawah Trump

Minggu, 03 Agustus 2025 - 07:40 WIB
loading...
Dedolarisasi Melesat...
Upaya negara-negara BRICS mengurangi ketergantungan pada dolar kini tertekan di bawah Presiden Donald Trump.
A A A
JAKARTA - Upaya negara-negara BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS) mencatat kemajuan signifikan sepanjang masa kepresidenan Joe Biden. Agenda dedolarisasi yang mencuat sejak 2020 itu berkembang pesat ketika banyak negara mulai meninjau ulang kebijakan perdagangannya.

Puncak pembahasan mengenai dedolarisasi terjadi pada 2023 hingga 2024, ketika sejumlah negara berkembang aktif berdiskusi dalam berbagai forum internasional untuk menyelesaikan transaksi perdagangan dengan mata uang lokal. Pergeseran ini sempat menimbulkan kekhawatiran tentang melemahnya dominasi dolar di pasar global.

Baca Juga: Perang Tarif AS vs Dedolarisasi BRICS, Siapa Pemenang dalam Pertarungan Ini?

Sejumlah analis menyebut periode itu sebagai momen terjadinya "pergeseran tektonik" dari Barat ke Timur, karena mata uang lokal mulai berkuasa di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Namun dinamika tersebut berubah drastis ketika Donald Trump kembali berkuasa.

Hanya dalam enam bulan, Trump disebut mampu membalikkan arah kebijakan dan memperkuat kembali posisi dolar AS dalam perdagangan internasional. Trump mengambil langkah-langkah agresif untuk menghadang dedolarisasi dengan menekan negara-negara yang berupaya keluar dari dominasi dolar.

Saat menjabat, Presiden Biden dan jajaran Gedung Putih menegaskan tidak akan melarang negara lain memilih mitra dagang atau mata uang transaksi. Dilansir dari Watcher Guru, pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre, yang menegaskan AS tidak akan mencampuri pilihan negara lain selama masa kepemimpinan Biden.

Berlawanan dengan itu, Trump justru bersikap keras terhadap negara-negara yang hendak meninggalkan dolar AS. Ia bahkan mengancam sanksi ekonomi jika mitra dagang AS mencoba menyelesaikan transaksi dengan mata uang lokal selain dolar.

Ancaman tersebut dinilai efektif oleh sebagian analis karena membuat beberapa negara memilih kembali berdagang dengan dolar dan bahkan menurunkan bea impor bagi produk-produk asal Amerika Serikat.

Baca Juga: AS dan Rusia di Ambang Perang Nuklir, Siapa yang Lebih Kuat?

Selain itu, sejumlah negara dilaporkan mulai membuka jalur komunikasi baru dengan Gedung Putih untuk menjajaki kesepakatan perdagangan yang dianggap lebih menguntungkan kedua belah pihak.

Pendekatan Biden yang lebih lunak membuat dedolarisasi tumbuh subur, namun pendekatan Trump yang konfrontatif mampu menahan laju gerakan itu. Meski demikian, beberapa inisiatif dedolarisasi masih bertahan meskipun kekuatannya tidak sebesar sebelumnya.

Kondisi ini digambarkan seperti "cakar penyok", merujuk pada gerakan dedolarisasi yang sempat tajam di masa Biden namun meredup di masa Trump.

Upaya negara-negara berkembang untuk mempromosikan transaksi non-dolar memang belum sepenuhnya hilang, tetapi momentum yang dulu pernah memuncak kini melemah seiring kebijakan luar negeri AS yang lebih menekan.

Sejumlah analis meyakini agenda dedolarisasi akan terus berusaha bangkit, meskipun jalannya akan semakin berat di tengah tekanan ekonomi dan diplomasi ketat dari pemerintahan Trump.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Harga Emas Bangkit usai...
Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Rekomendasi
Beasiswa GrabScholar...
Beasiswa GrabScholar 2026 untuk SD, SMP, SMA hingga S1 Dibuka, Cek Syarat Dokumen
Gaya Hidup Sehat Masyarakat...
Gaya Hidup Sehat Masyarakat Urban: Intip Keseruan Summer Wellness Club 2026 di Kuningan City Mall
Roy Suryo Kenakan Batik...
Roy Suryo Kenakan Batik Motif Garuda dan Kepalkan Tangan saat Tiba di Rutan Polda Metro
Berita Terkini
Pascapemadaman Listrik...
Pascapemadaman Listrik Bergilir di Pulau Jawa, PLN Update Kondisi Perbaikan
Rosan Lapor Prabowo...
Rosan Lapor Prabowo soal Perampingan 258 BUMN, 300 Pelat Merah Lain Menyusul
Pergantian Direksi Disorot,...
Pergantian Direksi Disorot, Mampukah Kejayaan Pelni Kembali?
IHSG Menghijau di Awal...
IHSG Menghijau di Awal Pekan, Pagi Ini Sentuh Level 6.217
Harga Emas Malas Bergerak...
Harga Emas Malas Bergerak di Posisi Rp2.668.000 per Gram, Intip Daftar Lengkapnya
Dibayangi Outflow Rp4,5...
Dibayangi Outflow Rp4,5 Triliun, IHSG Pekan Ini Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Infografis
Demo Menentang Presiden...
Demo Menentang Presiden AS Donald Trump Digelar di Penjuru Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved