Digital Fraud Layanan Keuangan Bukan Ancaman Masa Depan, Melainkan Realitas Hari Ini
Rabu, 06 Agustus 2025 - 21:39 WIB
loading...
Digital fraud bukan ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini. Serangan terus berkembang, dan respons kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ikatan Auditor Intern Bank (IAIB) bersama RSM Indonesia menyelenggarakan forum diskusi bertajuk “Digital Fraud is Here: Strengthening Bank Defenses Through Integrated Governance and Technology”, Kamis (31/7/2025). Forum ini membahas meningkatnya ancaman kejahatan digital di sektor jasa keuangan dan perlunya pendekatan kolaboratif dalam menghadapinya.
Managing Partner Governance Risk Control & Technology Consulting RSM Indonesia, Angela Simatupang menekankan, pentingnya kewaspadaan terhadap kejahatan digital yang semakin kompleks dan personal.
“Digital fraud bukan ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini. Serangan terus berkembang, dan respons kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata. Diperlukan integrasi antara audit internal, manajemen risiko, dan fungsi teknologi dalam membangun sistem pertahanan yang berkelanjutan,” ujar Angela dalam sambutannya.
Baca Juga: Cegah Terjadinya Fraud, Kejagung Ajak Himbara Berkolaborasi
Ketua Umum Ikatan Audit Intern Bank (IAIB) Indonesia, Antonius Gunadi juga turut memberikan sambutannya pada acara ini. Forum ini menjadi wake-up call bagi pelaku industri keuangan untuk menyadari bahwa sektor finansial kini menjadi target utama serangan digital .
Partner Governance Risk Control Consulting RSM Indonesia GMB, Daniel Probo sebagai salah satu narasumber menjelaskan tiga tren utama risiko fraud di sektor jasa keuangan yakni serangan terhadap new account creation, logins, dan payment systems. Daniel menekankan pentingnya penerapan kerangka tata kelola dan pemantauan terintegrasi untuk memperkuat pencegahan dan deteksi.
“Governance framework dan sistem monitoring terintegrasi perlu dibangun secara menyeluruh melalui empat langkah utama: menetapkan peran, akuntabilitas, dan pengambilan keputusan yang jelas; mengintegrasikan manajemen risiko fraud ke dalam proses bisnis; menstandarkan kebijakan serta menyelaraskan kontrol; serta memastikan auditabilitas dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku,” jelas Daniel.
![Digital Fraud Layanan Keuangan Bukan Ancaman Masa Depan, Melainkan Realitas Hari Ini]()
“Mencermati digital fraud ini penting untuk know your enemy, sense atas risikonya, pahami perkembangan teknologi terkini, dan telusuri akar masalahnya. Semua ini bisa dicapai dengan pengetahuan yang tepat dan terus diperbarui,” sambungnya.
Sementara itu narasumber lainnya yakni Partner Technology Consulting RSM Indonesia, Kemal Alfadin menyampaikan gambaran skenario umum kejahatan digital finansial yang dilakukan oleh sindikat melalui empat tahapan: kolaborasi, penciptaan identitas palsu, pemanfaatan akun, dan penarikan besar-besaran (bust-out).
Baca Juga: Pentingnya Literasi Keuangan dalam Penegakan Hukum Sektor Keuangan
“Dalam praktiknya, kejahatan digital kerap dilakukan oleh sindikat terorganisir. Prosesnya tidak terjadi secara instan, namun berlangsung melalui tahapan-tahapan yang sistematis, yakni pertama, kolaborasi, di mana beberapa individu bersepakat membentuk fraud ring, dengan saling berbagi atau memperjualbelikan informasi pribadi," terangnya.
"Kedua, pembuatan identitas palsu. Ketiga, pemanfaatan akun. Dan keempat Bust-Out atau penarikan besar-besaran yakni setelah mendapatkan limit besar, para pelaku kemudian mencairkan seluruh fasilitas pinjaman secara maksimal, lalu menghilang tanpa jejak,” jelas Kemal.
“Setiap tindakan fraud kini jauh lebih canggih, dan selalu berevolusi. Untuk mencegahnya, diperlukan pendekatan lintas fungsi,” pungkasnya.
Managing Partner Governance Risk Control & Technology Consulting RSM Indonesia, Angela Simatupang menekankan, pentingnya kewaspadaan terhadap kejahatan digital yang semakin kompleks dan personal.
“Digital fraud bukan ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini. Serangan terus berkembang, dan respons kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata. Diperlukan integrasi antara audit internal, manajemen risiko, dan fungsi teknologi dalam membangun sistem pertahanan yang berkelanjutan,” ujar Angela dalam sambutannya.
Baca Juga: Cegah Terjadinya Fraud, Kejagung Ajak Himbara Berkolaborasi
Ketua Umum Ikatan Audit Intern Bank (IAIB) Indonesia, Antonius Gunadi juga turut memberikan sambutannya pada acara ini. Forum ini menjadi wake-up call bagi pelaku industri keuangan untuk menyadari bahwa sektor finansial kini menjadi target utama serangan digital .
Partner Governance Risk Control Consulting RSM Indonesia GMB, Daniel Probo sebagai salah satu narasumber menjelaskan tiga tren utama risiko fraud di sektor jasa keuangan yakni serangan terhadap new account creation, logins, dan payment systems. Daniel menekankan pentingnya penerapan kerangka tata kelola dan pemantauan terintegrasi untuk memperkuat pencegahan dan deteksi.
“Governance framework dan sistem monitoring terintegrasi perlu dibangun secara menyeluruh melalui empat langkah utama: menetapkan peran, akuntabilitas, dan pengambilan keputusan yang jelas; mengintegrasikan manajemen risiko fraud ke dalam proses bisnis; menstandarkan kebijakan serta menyelaraskan kontrol; serta memastikan auditabilitas dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku,” jelas Daniel.

“Mencermati digital fraud ini penting untuk know your enemy, sense atas risikonya, pahami perkembangan teknologi terkini, dan telusuri akar masalahnya. Semua ini bisa dicapai dengan pengetahuan yang tepat dan terus diperbarui,” sambungnya.
Sementara itu narasumber lainnya yakni Partner Technology Consulting RSM Indonesia, Kemal Alfadin menyampaikan gambaran skenario umum kejahatan digital finansial yang dilakukan oleh sindikat melalui empat tahapan: kolaborasi, penciptaan identitas palsu, pemanfaatan akun, dan penarikan besar-besaran (bust-out).
Baca Juga: Pentingnya Literasi Keuangan dalam Penegakan Hukum Sektor Keuangan
“Dalam praktiknya, kejahatan digital kerap dilakukan oleh sindikat terorganisir. Prosesnya tidak terjadi secara instan, namun berlangsung melalui tahapan-tahapan yang sistematis, yakni pertama, kolaborasi, di mana beberapa individu bersepakat membentuk fraud ring, dengan saling berbagi atau memperjualbelikan informasi pribadi," terangnya.
"Kedua, pembuatan identitas palsu. Ketiga, pemanfaatan akun. Dan keempat Bust-Out atau penarikan besar-besaran yakni setelah mendapatkan limit besar, para pelaku kemudian mencairkan seluruh fasilitas pinjaman secara maksimal, lalu menghilang tanpa jejak,” jelas Kemal.
“Setiap tindakan fraud kini jauh lebih canggih, dan selalu berevolusi. Untuk mencegahnya, diperlukan pendekatan lintas fungsi,” pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :