Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12%, Saatnya Pemerataan Jadi Prioritas
Jum'at, 08 Agustus 2025 - 17:36 WIB
loading...
Ketua Umum Ikatan Sarjana Manajemen Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI), Bahtiar Sebayang (kiri) bersama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang solid sebesar 5,12% (year-on-year/yoy) pada Triwulan II-2025. Capaian tersebut tidak hanya melanjutkan tren positif tetapi juga menjadi bukti ketahanan ekonomi di tengah tekanan global.
Di saat dunia masih berhadapan dengan ketegangan geopolitik, inflasi pangan dan energi serta penyesuaian kebijakan suku bunga oleh bank sentral negara maju, Indonesia mampu menjaga momentumnya. Secara triwulanan, ekonomi tumbuh 4,04% (q-to-q), sementara kumulatif Semester I-2025 tercatat tumbuh 4,99% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Stabilitas dan konsistensi ini patut dihargai. Pertumbuhan ekonomi tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan hasil kerja keras kolektif pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat," ujar Ketua Umum Ikatan Sarjana Manajemen Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI), Bahtiar Sebayang dalam pernyataannya, Jumat (8/8).
Baca Juga: BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025
Menurut dia, capaian ini didukung oleh kinerja ekspor yang tumbuh 10,67%, menunjukkan adaptasi industri Indonesia terhadap pasar global. Selain itu, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan dengan kontribusi mencapai 54,25% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menandakan tingginya kepercayaan konsumen.
Bahtiar mengingatkan bahwa angka pertumbuhan yang impresif tidak boleh membuat terlena. Menurut dia, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan, terutama terkait pemerataan pembangunan dan kualitas pertumbuhan.
Salah satu catatan kritis yang disorot adalah ketimpangan pertumbuhan antarwilayah. Pulau Jawa masih mendominasi PDB nasional dengan kontribusi 56,94%. Di sisi lain, wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua hanya berkontribusi 2,73%, dengan pertumbuhan paling rendah (3,33% yoy). Ketimpangan ini harus segera ditangani agar pembangunan dapat benar-benar inklusif.
Selain itu, Bahtiar menyoroti kontraksi pengeluaran pemerintah sebesar 0,33%. Di tengah kondisi yang menuntut stimulus ekonomi, kontraksi ini menjadi sinyal perlunya perbaikan dalam serapan anggaran, efektivitas program, serta distribusi belanja ke sektor-sektor strategis.
Baca Juga: Sri Mulyani Siapkan Stimulus Rp10,8 Triliun Pacu Ekonomi Kuartal III
Ia juga menyoroti ketergantungan pada sektor tradisional dan stagnasi sektor energi. Pertumbuhan pertanian yang hanya 1,65% dan industri pengolahan yang moderat 5,68% mengindikasikan perlunya akselerasi transformasi struktural ekonomi. Stagnasi sektor energi, dengan pertumbuhan 0,90%, menjadi alarm bahwa investasi di energi bersih dan infrastruktur pendukung masih tertinggal.
Bahtiar memberikan sejumlah masukan konstruktif. Ia menyarankan pemerintah untuk mempercepat pemerataan pembangunan melalui afirmasi fiskal dan proyek strategis di kawasan timur Indonesia. Selain itu, reformasi belanja pemerintah juga perlu dilakukan agar anggaran negara menjadi penggerak utama pembangunan yang efisien dan tepat sasaran.
"Pertumbuhan 5,12% adalah sinyal optimisme, tetapi pertumbuhan itu bisa menjadi semu tanpa pemerataan dan kualitas. Pemerintah dan semua elemen bangsa harus memastikan bahwa manfaat capaian ini terasa hingga ke pelosok negeri, dari Papua hingga Aceh, dari petani hingga pekerja pabrik," tegasnya.
Bahtiar menekankan saatnya fokus tidak hanya pada berapa persen ekonomi tumbuh, melainkan siapa yang ikut tumbuh dan apa yang berubah di kehidupan rakyat. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga narasi optimisme dengan aksi nyata, memastikan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Di saat dunia masih berhadapan dengan ketegangan geopolitik, inflasi pangan dan energi serta penyesuaian kebijakan suku bunga oleh bank sentral negara maju, Indonesia mampu menjaga momentumnya. Secara triwulanan, ekonomi tumbuh 4,04% (q-to-q), sementara kumulatif Semester I-2025 tercatat tumbuh 4,99% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Stabilitas dan konsistensi ini patut dihargai. Pertumbuhan ekonomi tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan hasil kerja keras kolektif pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat," ujar Ketua Umum Ikatan Sarjana Manajemen Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI), Bahtiar Sebayang dalam pernyataannya, Jumat (8/8).
Baca Juga: BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025
Menurut dia, capaian ini didukung oleh kinerja ekspor yang tumbuh 10,67%, menunjukkan adaptasi industri Indonesia terhadap pasar global. Selain itu, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan dengan kontribusi mencapai 54,25% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menandakan tingginya kepercayaan konsumen.
Bahtiar mengingatkan bahwa angka pertumbuhan yang impresif tidak boleh membuat terlena. Menurut dia, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan, terutama terkait pemerataan pembangunan dan kualitas pertumbuhan.
Salah satu catatan kritis yang disorot adalah ketimpangan pertumbuhan antarwilayah. Pulau Jawa masih mendominasi PDB nasional dengan kontribusi 56,94%. Di sisi lain, wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua hanya berkontribusi 2,73%, dengan pertumbuhan paling rendah (3,33% yoy). Ketimpangan ini harus segera ditangani agar pembangunan dapat benar-benar inklusif.
Selain itu, Bahtiar menyoroti kontraksi pengeluaran pemerintah sebesar 0,33%. Di tengah kondisi yang menuntut stimulus ekonomi, kontraksi ini menjadi sinyal perlunya perbaikan dalam serapan anggaran, efektivitas program, serta distribusi belanja ke sektor-sektor strategis.
Baca Juga: Sri Mulyani Siapkan Stimulus Rp10,8 Triliun Pacu Ekonomi Kuartal III
Ia juga menyoroti ketergantungan pada sektor tradisional dan stagnasi sektor energi. Pertumbuhan pertanian yang hanya 1,65% dan industri pengolahan yang moderat 5,68% mengindikasikan perlunya akselerasi transformasi struktural ekonomi. Stagnasi sektor energi, dengan pertumbuhan 0,90%, menjadi alarm bahwa investasi di energi bersih dan infrastruktur pendukung masih tertinggal.
Bahtiar memberikan sejumlah masukan konstruktif. Ia menyarankan pemerintah untuk mempercepat pemerataan pembangunan melalui afirmasi fiskal dan proyek strategis di kawasan timur Indonesia. Selain itu, reformasi belanja pemerintah juga perlu dilakukan agar anggaran negara menjadi penggerak utama pembangunan yang efisien dan tepat sasaran.
"Pertumbuhan 5,12% adalah sinyal optimisme, tetapi pertumbuhan itu bisa menjadi semu tanpa pemerataan dan kualitas. Pemerintah dan semua elemen bangsa harus memastikan bahwa manfaat capaian ini terasa hingga ke pelosok negeri, dari Papua hingga Aceh, dari petani hingga pekerja pabrik," tegasnya.
Bahtiar menekankan saatnya fokus tidak hanya pada berapa persen ekonomi tumbuh, melainkan siapa yang ikut tumbuh dan apa yang berubah di kehidupan rakyat. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga narasi optimisme dengan aksi nyata, memastikan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
(nng)
Lihat Juga :