Dihantam Tarif Trump, Laba Raksasa Otomotif Jerman Tergerus 29%
Minggu, 10 Agustus 2025 - 07:15 WIB
loading...
Raksasa otomotif Jerman, BMW melaporkan penurunan tajam pada raihan laba paruh pertama tahun 2025, diakibatkan beberapa faktor yang salah satunya adalah tarif impor AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Raksasa otomotif Jerman , BMW melaporkan penurunan tajam pada raihan laba paruh pertama tahun 2025, diakibatkan beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Salah satunya yakni karena tarif impor AS (Amerika Serikat), pelemahan permintaan, serta persaingan China yang semakin ketat berdampak pada pendapatan.
BMW mencatat laba setelah pajak sebesar USD4,6 miliar, raihan itu turun 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut laporan resmi perusahaan. Kondisi ini menandai penurunan paruh pertama ketiga berturut-turut bagi produsen mobil asal Jerman tersebut.
BMW mengatakan, bahwa bea impor mobil dan suku cadang kendaraan di AS, yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump pada bulan April, berdampak besar pada pendapatan. Pembuat mobil Eropa masih mencerna tarif baru 15% yang disepakati oleh Washington dan Brussels, yang akan mulai berlaku pada bulan Agustus.
Baca Juga: Dihajar Tarif Trump, Jeep Tekor Rp44 Triliun
Kesepakatan perdagangan yang ditandatangani ini telah memicu backlash di seluruh blok eropa, dengan beberapa pejabat UE menyebutnya "skandal" dan "bencana," yang mengatakan kesepakatan tersebut tidak mengamankan konsesi dari Washington.
Sementara itu BMW tidak mengungkapkan berapa biaya yang ditimbulkan oleh tarif AS pada paruh pertama tahun ini. Akan tetapi Ia memperingatkan bahwa biaya terkait perdagangan dapat mengurangi margin otomotifnya sebesar 1,25 poin secara persentase tahun ini, yang dapat menyebabkan kerugian miliaran dolar.
Baca Juga: Tarif Trump Pukul Ekonomi Asia, Siapa Paling Parah?
CEO Oliver Zipse menyambut baik kesepakatan tarif dengan AS, tetapi Ia memperingatkan bahwa pajak tersebut masih membebani ekspor dan merugikan konsumen. BMW juga menyoroti "tekanan kompetitif" yang intens, terutama dari China.
Di sisi lain raksasa otomotif Jerman lainnya melaporkan penurunan yang bahkan lebih tajam. Volkswagen dan Audi mengalami penurunan pendapatan lebih dari sepertiga, sementara keuntungan Mercedes merosot lebih dari 50%.
BMW mencatat laba setelah pajak sebesar USD4,6 miliar, raihan itu turun 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut laporan resmi perusahaan. Kondisi ini menandai penurunan paruh pertama ketiga berturut-turut bagi produsen mobil asal Jerman tersebut.
BMW mengatakan, bahwa bea impor mobil dan suku cadang kendaraan di AS, yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump pada bulan April, berdampak besar pada pendapatan. Pembuat mobil Eropa masih mencerna tarif baru 15% yang disepakati oleh Washington dan Brussels, yang akan mulai berlaku pada bulan Agustus.
Baca Juga: Dihajar Tarif Trump, Jeep Tekor Rp44 Triliun
Kesepakatan perdagangan yang ditandatangani ini telah memicu backlash di seluruh blok eropa, dengan beberapa pejabat UE menyebutnya "skandal" dan "bencana," yang mengatakan kesepakatan tersebut tidak mengamankan konsesi dari Washington.
Sementara itu BMW tidak mengungkapkan berapa biaya yang ditimbulkan oleh tarif AS pada paruh pertama tahun ini. Akan tetapi Ia memperingatkan bahwa biaya terkait perdagangan dapat mengurangi margin otomotifnya sebesar 1,25 poin secara persentase tahun ini, yang dapat menyebabkan kerugian miliaran dolar.
Baca Juga: Tarif Trump Pukul Ekonomi Asia, Siapa Paling Parah?
CEO Oliver Zipse menyambut baik kesepakatan tarif dengan AS, tetapi Ia memperingatkan bahwa pajak tersebut masih membebani ekspor dan merugikan konsumen. BMW juga menyoroti "tekanan kompetitif" yang intens, terutama dari China.
Di sisi lain raksasa otomotif Jerman lainnya melaporkan penurunan yang bahkan lebih tajam. Volkswagen dan Audi mengalami penurunan pendapatan lebih dari sepertiga, sementara keuntungan Mercedes merosot lebih dari 50%.
(akr)
Lihat Juga :