Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia, Keuangan Syariah Masuk Tiga Besar Global
Rabu, 13 Agustus 2025 - 11:56 WIB
loading...
Indonesia kini telah menjadi pusat fesyen muslim global dan masuk tiga besar industri keuangan syariah dunia. FOTO/Faisal Rahman
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, Indonesia kini telah menjadi pusat fesyen muslim global dan masuk tiga besar industri keuangan syariah dunia. Pencapaian ini disebut sebagai buah dari visi "arus baru" ekonomi syariah yang dicanangkan sejak 2015.
Perry mengingat kembali momentum Mei 2015, ketika BI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk pertama kalinya menggelar Sarasehan Ekonomi Syariah Nasional di gedung yang sama. Forum tersebut melahirkan tekad menjadikan Indonesia sebagai salah satu motor penggerak utama ekonomi syariah dunia.
"Alhamdulillah, Indonesia adalah the best, the number one dalam modest fashion di global. Kiblat modest fashion dunia adalah dari Indonesia," kata Perry dalam Sarasehan Ekonomi dan Keuangan Syariah Nasional 2025 di Jakarta, Rabu (13/8).
Baca Juga: Bank Syariah Muhammadiyah Resmi Beroperasi, Namanya Bank Syariah Matahari
Menurut dia keberhasilan ini membuktikan bahwa produk kreatif berbasis budaya dan nilai-nilai Islam mampu bersaing di panggung internasional. Tidak hanya itu, sektor keuangan syariah juga mencatat kemajuan signifikan, termasuk kehadiran PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang menjadi salah satu bank syariah terbesar di kawasan.
"Indonesia nomor tiga, keuangan syariah. Yang kita harus kejar adalah untuk halal food. Yang kita harus kejar untuk bagaimana tapi tetap one of the five," ujarnya.
Perry menegaskan, sektor makanan halal menjadi target berikutnya yang perlu diperkuat. Saat ini Indonesia sudah berada di lima besar dunia untuk industri tersebut, namun ia menilai potensi pasar dan kapasitas produksinya masih sangat besar.
Sejak 2015, BI gencar mendorong pemberdayaan pondok pesantren sebagai pusat kegiatan ekonomi umat. Pesantren kini tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga sentra bisnis, mulai dari percetakan, pengelolaan air bersih, pertanian berkelanjutan, hingga industri roti.
Baca Juga: Harga Emas Antam Terjun Bebas Rp21.000, Sentuh Level Terendah dalam Dua Minggu
Digitalisasi juga dikenalkan agar produk-produk pesantren dapat menjangkau pasar lebih luas, termasuk ekspor produk halal. "Pondok-pondok pesantren kita sudah menjadi pusat-pusat bisnis ekonomi syariah," ujarnya.
Selain penguatan ekosistem halal, Perry menekankan pentingnya peningkatan literasi ekonomi syariah. Festival Ekonomi Syariah yang rutin digelar di berbagai daerah menjadi ajang edukasi sekaligus promosi bagi pelaku usaha syariah.
Menurut Perry, capaian satu dekade terakhir merupakan landasan penting menuju cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Ia optimistis, melalui kolaborasi berkelanjutan, posisi Indonesia akan semakin kokoh di pasar global.
Perry mengingat kembali momentum Mei 2015, ketika BI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk pertama kalinya menggelar Sarasehan Ekonomi Syariah Nasional di gedung yang sama. Forum tersebut melahirkan tekad menjadikan Indonesia sebagai salah satu motor penggerak utama ekonomi syariah dunia.
"Alhamdulillah, Indonesia adalah the best, the number one dalam modest fashion di global. Kiblat modest fashion dunia adalah dari Indonesia," kata Perry dalam Sarasehan Ekonomi dan Keuangan Syariah Nasional 2025 di Jakarta, Rabu (13/8).
Baca Juga: Bank Syariah Muhammadiyah Resmi Beroperasi, Namanya Bank Syariah Matahari
Menurut dia keberhasilan ini membuktikan bahwa produk kreatif berbasis budaya dan nilai-nilai Islam mampu bersaing di panggung internasional. Tidak hanya itu, sektor keuangan syariah juga mencatat kemajuan signifikan, termasuk kehadiran PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang menjadi salah satu bank syariah terbesar di kawasan.
"Indonesia nomor tiga, keuangan syariah. Yang kita harus kejar adalah untuk halal food. Yang kita harus kejar untuk bagaimana tapi tetap one of the five," ujarnya.
Perry menegaskan, sektor makanan halal menjadi target berikutnya yang perlu diperkuat. Saat ini Indonesia sudah berada di lima besar dunia untuk industri tersebut, namun ia menilai potensi pasar dan kapasitas produksinya masih sangat besar.
Sejak 2015, BI gencar mendorong pemberdayaan pondok pesantren sebagai pusat kegiatan ekonomi umat. Pesantren kini tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga sentra bisnis, mulai dari percetakan, pengelolaan air bersih, pertanian berkelanjutan, hingga industri roti.
Baca Juga: Harga Emas Antam Terjun Bebas Rp21.000, Sentuh Level Terendah dalam Dua Minggu
Digitalisasi juga dikenalkan agar produk-produk pesantren dapat menjangkau pasar lebih luas, termasuk ekspor produk halal. "Pondok-pondok pesantren kita sudah menjadi pusat-pusat bisnis ekonomi syariah," ujarnya.
Selain penguatan ekosistem halal, Perry menekankan pentingnya peningkatan literasi ekonomi syariah. Festival Ekonomi Syariah yang rutin digelar di berbagai daerah menjadi ajang edukasi sekaligus promosi bagi pelaku usaha syariah.
Menurut Perry, capaian satu dekade terakhir merupakan landasan penting menuju cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Ia optimistis, melalui kolaborasi berkelanjutan, posisi Indonesia akan semakin kokoh di pasar global.
(nng)
Lihat Juga :