Trump dan Putin Bertemu di Alaska Hari Ini, Harga Minyak Mendidih ke Level Tertinggi dalam Sepekan
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 08:44 WIB
loading...
Sebuah flare membakar gas alam yang berlebih di Basin Permian di Loving County, Texas, AS. 23 November 2019. FOTO/REUTERS/Angus Mordant
A
A
A
NEW YORK - Harga minyak mentah global melonjak sekitar 2% ke level tertinggi dalam sepekan pada Kamis (14/8) seiring dengan optimisme pasar menjelang pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska. Kenaikan juga didorong oleh ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan memangkas suku bunga pada September mendatang.
Sentimen positif muncul setelah Presiden Trump menyatakan keyakinannya bahwa Putin siap untuk mengakhiri perang di Ukraina. "Saya pikir Presiden Putin akan mewujudkan perdamaian," ujar Trump. Pernyataan ini direspons positif oleh pasar yang berharap ketegangan geopolitik mereda, sehingga memicu kenaikan harga minyak.
Baca Juga: Trump-Putin Bertemu di Alaska Hari Ini, Perang Rusia-Ukraina Bakal Berakhir?
Meskipun demikian, Trump juga memberi peringatan tegas. Dia mengatakan akan ada "konsekuensi serius" jika perundingan dengan Putin mengenai Ukraina ini menemui jalan buntu. Komentar ini turut menambah volatilitas dan ketegangan di pasar, yang berdampak pada lonjakan harga minyak.
Pada penutupan perdagangan, harga minyak acuan global, Brent, naik USD1,21 atau 1,8% menjadi USD66,84 per barel. Sementara, acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak USD1,31 atau 2,1% menjadi USD63,96 per barel. Berdasarkan laporan Reuters, kenaikan ini membawa kedua harga minyak keluar dari area jenuh jual (oversold) setelah tiga hari berturut-turut.
Secara spesifik, harga Brent mencapai penutupan tertingginya sejak 6 Agustus, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 2 Juni. Kenaikan ini juga menjadi pembalikan tren setelah pada awal pekan, Brent dan WTI menyentuh level terendah dalam beberapa bulan akibat data inventaris dan pasokan yang dianggap bearish oleh Administrasi Informasi Energi AS (EIA) dan Badan Energi Internasional (IEA).
Selain faktor geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve juga menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak. Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi biaya pinjaman bagi konsumen, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan terhadap minyak.
Pasar saat ini sebagian besar memproyeksikan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga pada September, menyusul data inflasi AS yang meningkat secara moderat pada Juli serta laporan lapangan kerja yang dinilai lemah. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengindikasikan kemungkinan pemotongan suku bunga hingga 0,5%.
Meskipun demikian, lonjakan inflasi yang berpotensi terjadi dapat kembali memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan The Fed, sehingga memperkuat perdebatan tentang perlunya pemangkasan suku bunga. Situasi ini menunjukkan ketegangan yang belum terselesaikan antara Gedung Putih dan The Fed terkait kebijakan ekonomi.
Baca Juga: 7 Negara Amerika Latin Antusias Gabung BRICS, Apa yang Terjadi dengan AS?
Pertemuan krusial antara Trump dan Putin dijadwalkan berlangsung di Joint Base Elmendorf-Richardson, Alaska pada hari ini, Jumat (15/8). Pertemuan ini diharapkan bisa menjadi langkah awal penting menuju perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Sementara itu, dari Eropa, survei terbaru dari kantor statistik Norwegia menunjukkan bahwa investasi minyak dan gas negara tersebut diperkirakan akan mencapai puncaknya tahun ini dan mulai menurun pada 2026.
Penurunan ini disebabkan selesainya proyek-proyek besar. Norwegia saat ini menyumbang sekitar 2% dari produksi minyak global dan telah menjadi pemasok gas pipa terbesar di Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Sentimen positif muncul setelah Presiden Trump menyatakan keyakinannya bahwa Putin siap untuk mengakhiri perang di Ukraina. "Saya pikir Presiden Putin akan mewujudkan perdamaian," ujar Trump. Pernyataan ini direspons positif oleh pasar yang berharap ketegangan geopolitik mereda, sehingga memicu kenaikan harga minyak.
Baca Juga: Trump-Putin Bertemu di Alaska Hari Ini, Perang Rusia-Ukraina Bakal Berakhir?
Meskipun demikian, Trump juga memberi peringatan tegas. Dia mengatakan akan ada "konsekuensi serius" jika perundingan dengan Putin mengenai Ukraina ini menemui jalan buntu. Komentar ini turut menambah volatilitas dan ketegangan di pasar, yang berdampak pada lonjakan harga minyak.
Pada penutupan perdagangan, harga minyak acuan global, Brent, naik USD1,21 atau 1,8% menjadi USD66,84 per barel. Sementara, acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak USD1,31 atau 2,1% menjadi USD63,96 per barel. Berdasarkan laporan Reuters, kenaikan ini membawa kedua harga minyak keluar dari area jenuh jual (oversold) setelah tiga hari berturut-turut.
Secara spesifik, harga Brent mencapai penutupan tertingginya sejak 6 Agustus, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 2 Juni. Kenaikan ini juga menjadi pembalikan tren setelah pada awal pekan, Brent dan WTI menyentuh level terendah dalam beberapa bulan akibat data inventaris dan pasokan yang dianggap bearish oleh Administrasi Informasi Energi AS (EIA) dan Badan Energi Internasional (IEA).
Selain faktor geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve juga menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak. Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi biaya pinjaman bagi konsumen, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan terhadap minyak.
Pasar saat ini sebagian besar memproyeksikan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga pada September, menyusul data inflasi AS yang meningkat secara moderat pada Juli serta laporan lapangan kerja yang dinilai lemah. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengindikasikan kemungkinan pemotongan suku bunga hingga 0,5%.
Meskipun demikian, lonjakan inflasi yang berpotensi terjadi dapat kembali memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan The Fed, sehingga memperkuat perdebatan tentang perlunya pemangkasan suku bunga. Situasi ini menunjukkan ketegangan yang belum terselesaikan antara Gedung Putih dan The Fed terkait kebijakan ekonomi.
Baca Juga: 7 Negara Amerika Latin Antusias Gabung BRICS, Apa yang Terjadi dengan AS?
Pertemuan krusial antara Trump dan Putin dijadwalkan berlangsung di Joint Base Elmendorf-Richardson, Alaska pada hari ini, Jumat (15/8). Pertemuan ini diharapkan bisa menjadi langkah awal penting menuju perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Sementara itu, dari Eropa, survei terbaru dari kantor statistik Norwegia menunjukkan bahwa investasi minyak dan gas negara tersebut diperkirakan akan mencapai puncaknya tahun ini dan mulai menurun pada 2026.
Penurunan ini disebabkan selesainya proyek-proyek besar. Norwegia saat ini menyumbang sekitar 2% dari produksi minyak global dan telah menjadi pemasok gas pipa terbesar di Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
(nng)
Lihat Juga :