Berkat Rumah BUMN BRI, Ibu Usia 49 Tahun Ini Sukses Tembus Pasar Modern
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 13:25 WIB
loading...
Program Rumah BUMN binaan BRI membuktikan efektivitasnya dalam mendorong pelaku UMKM. FOTO/BRI
A
A
A
JAKARTA - Program Rumah BUMN binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus membuktikan efektivitasnya dalam mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas. Salah satu kisah sukses datang dari Enih, pemilik usaha Erildya Cemilan Family, yang berhasil mengembangkan usaha camilan tradisional dari skala rumahan hingga menembus jaringan ritel modern.
Awalnya, Enih hanya mengandalkan modal usaha dari gaji sang suami untuk menjalankan warung kopi sederhana di perbatasan Kota Tangerang, dekat Masjid Al-A’zhom. Namun, pandemi Covid-19 memukul usahanya dan memaksanya mencari alternatif sumber penghasilan.
Dari dapur rumah, Enih mulai memproduksi keripik tradisional untuk konsumsi keluarga. Rasa gurih dan renyah membuat banyak tetangga tertarik membeli. “Waktu itu saya cuma pikir, yang penting ada pemasukan buat keluarga,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (15/8).
Baca Juga: Dari Dapur Rumah ke Etalase Bandara, Ini Kisah Sukses UMKM Bersama Rumah BUMN Binaan BRI
Sejak 2021, ia serius menggarap bisnis tersebut. Produk seperti keripik tempe, seblak kering, dan kacang kriwil kini telah dipasarkan di toko oleh-oleh bandara, gerai Sarinah Thamrin, hingga berbagai toko di Jabodetabek. Bahkan, produknya sudah masuk ke Hypermart dan dalam proses negosiasi dengan Lawson. Produksi masih dilakukan secara rumahan dengan kapasitas sekitar 50 bungkus per hari, meningkat saat menerima pesanan besar.
Enih mengaku terbantu setelah mengenal Rumah BUMN Jakarta melalui media sosial. Ia menghubungi pengelola, kemudian mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari pemasaran digital, pemanfaatan data e-commerce, hingga pembuatan konten kreatif. “Alhamdulillah dari yang tadinya gaptek, sekarang sudah mulai mengerti. Penjualan online mulai jalan, meski toko offline tetap penting,” katanya.
Baca Juga: BRI Peduli Tingkatkan Minat Baca Siswa dengan Pendekatan Berbasis Sains
Selain mendapatkan pelatihan, Enih juga berkesempatan menjalin koneksi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Koperasi dan UKM serta Kementerian Pariwisata. Di usia 49 tahun, ia menargetkan peningkatan kapasitas produksi, pembentukan PT perseorangan, serta memperluas pasar. Ia optimistis digitalisasi menjadi kunci percepatan usaha.
"Kalau bisa, produk ini nggak cuma dijual di Jabodetabek, tapi sampai ke seluruh Indonesia. Saya juga ingin punya pabrik kecil sendiri," ujarnya.
Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menjelaskan, hingga akhir Juni 2025, BRI mengelola 54 Rumah BUMN di seluruh Indonesia dan telah menggelar lebih dari 16 ribu pelatihan. Program ini bertujuan memberikan akses pelatihan, pendampingan, sekaligus membuka peluang pemasaran bagi pelaku UMKM.
"Kami percaya, semakin banyak UMKM yang naik kelas dan go digital, semakin kuat pula fondasi perekonomian nasional," kata Agustya.
Melalui kisah-kisah seperti Enih, BRI menegaskan komitmennya bahwa pemberdayaan UMKM bukan hanya soal bantuan modal, tetapi juga pendampingan dan akses pasar yang berkelanjutan.
Awalnya, Enih hanya mengandalkan modal usaha dari gaji sang suami untuk menjalankan warung kopi sederhana di perbatasan Kota Tangerang, dekat Masjid Al-A’zhom. Namun, pandemi Covid-19 memukul usahanya dan memaksanya mencari alternatif sumber penghasilan.
Dari dapur rumah, Enih mulai memproduksi keripik tradisional untuk konsumsi keluarga. Rasa gurih dan renyah membuat banyak tetangga tertarik membeli. “Waktu itu saya cuma pikir, yang penting ada pemasukan buat keluarga,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (15/8).
Baca Juga: Dari Dapur Rumah ke Etalase Bandara, Ini Kisah Sukses UMKM Bersama Rumah BUMN Binaan BRI
Sejak 2021, ia serius menggarap bisnis tersebut. Produk seperti keripik tempe, seblak kering, dan kacang kriwil kini telah dipasarkan di toko oleh-oleh bandara, gerai Sarinah Thamrin, hingga berbagai toko di Jabodetabek. Bahkan, produknya sudah masuk ke Hypermart dan dalam proses negosiasi dengan Lawson. Produksi masih dilakukan secara rumahan dengan kapasitas sekitar 50 bungkus per hari, meningkat saat menerima pesanan besar.
Enih mengaku terbantu setelah mengenal Rumah BUMN Jakarta melalui media sosial. Ia menghubungi pengelola, kemudian mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari pemasaran digital, pemanfaatan data e-commerce, hingga pembuatan konten kreatif. “Alhamdulillah dari yang tadinya gaptek, sekarang sudah mulai mengerti. Penjualan online mulai jalan, meski toko offline tetap penting,” katanya.
Baca Juga: BRI Peduli Tingkatkan Minat Baca Siswa dengan Pendekatan Berbasis Sains
Selain mendapatkan pelatihan, Enih juga berkesempatan menjalin koneksi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Koperasi dan UKM serta Kementerian Pariwisata. Di usia 49 tahun, ia menargetkan peningkatan kapasitas produksi, pembentukan PT perseorangan, serta memperluas pasar. Ia optimistis digitalisasi menjadi kunci percepatan usaha.
"Kalau bisa, produk ini nggak cuma dijual di Jabodetabek, tapi sampai ke seluruh Indonesia. Saya juga ingin punya pabrik kecil sendiri," ujarnya.
Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menjelaskan, hingga akhir Juni 2025, BRI mengelola 54 Rumah BUMN di seluruh Indonesia dan telah menggelar lebih dari 16 ribu pelatihan. Program ini bertujuan memberikan akses pelatihan, pendampingan, sekaligus membuka peluang pemasaran bagi pelaku UMKM.
"Kami percaya, semakin banyak UMKM yang naik kelas dan go digital, semakin kuat pula fondasi perekonomian nasional," kata Agustya.
Melalui kisah-kisah seperti Enih, BRI menegaskan komitmennya bahwa pemberdayaan UMKM bukan hanya soal bantuan modal, tetapi juga pendampingan dan akses pasar yang berkelanjutan.
(nng)
Lihat Juga :