Hadapi Inflasi Medis 19%, Industri Asuransi Didorong Transformasi Digital
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 22:05 WIB
loading...
Ketua PERUJI Dessy Kusumayati. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Perkumpulan Underwriter Jiwa Indonesia (PERUJI) menyoroti tantangan inflasi medis yang melonjak dan urgensi inovasi digital sebagai kunci masa depan industri asuransi jiwa. Diskusi strategis ini menjadi fokus utama dalam Indonesia Underwriting Summit (IUS) ke-6 yang mengusung tema "Digital Power, Customer First".
Inflasi medis di Indonesia diperkirakan mencapai 19% pada tahun 2025, menjadikannya tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah Filipina, demikian laporan riset Health Trends 2025 Asia dari Mercer Marsh Benefits. Prediksi kenaikan ini membuat diskusi mengenai pengelolaan risiko dan efisiensi operasional menjadi sangat relevan bagi seluruh pelaku industri asuransi kesehatan.
Baca Juga: Inflasi Medis Meningkat, Pemerintah Diminta Standardisasi Biaya Rumah Sakit
Ketua PERUJI Dessy Kusumayati menegaskan komitmen organisasinya dalam memajukan profesi underwriting sekaligus mendorong kolaborasi dan inovasi di seluruh lini industri asuransi. Menurutnya, pemanfaatan solusi digital yang berorientasi pada nasabah memegang peranan krusial dalam mentransformasi proses underwriting hingga klaim.
"Kami berharap dapat membangun diskusi yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menghasilkan solusi yang lebih fleksibel dan berpusat pada individu profesional asuransi demi kemajuan masa depan industri," ujar Dessy.
Acara IUS 2025 ini berhasil menarik sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, termasuk pakar, pemangku kepentingan, dan praktisi industri asuransi. Sejumlah pejabat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut hadir, salah satunya Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun, Iwan Pasila.
Dalam paparannya, Iwan Pasila menggarisbawahi pentingnya peran underwriter dan profesi terkait untuk memfokuskan perhatian pada tiga aspek esensial: kecukupan premi, kewajaran kebutuhan cadangan premi, dan pengelolaan transaksi guna memenuhi seluruh kewajiban. OJK juga mendorong penerapan praktik terbaik untuk menghadapi risiko besar seperti bencana alam, kematian, siber, kesehatan, dan tabungan pensiun.
"OJK juga tengah mengembangkan basis data polis untuk memberikan wawasan komprehensif kepada industri dan memastikan pengelolaan kewajiban yang optimal," tambah Iwan, seraya meminta perusahaan asuransi untuk menerapkan praktik terbaik, melatih agen dengan baik, serta memantau kinerja keuangan demi mendukung ekosistem asuransi yang sehat.
Baca Juga: Satu Abad Indonesia: Tantangan Transformasi Sistem Kesehatan Nasional
Senada, Sekretaris Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Fitri Hartati mengapresiasi penyelenggaraan IUS 2025. Ia menilai bahwa underwriter asuransi jiwa memiliki peran sentral dalam pertumbuhan, kualitas, dan daya tarik industri asuransi jiwa secara keseluruhan.
"Dengan kombinasi kekuatan digital dan pendekatan yang customer-centricity, pengalaman nasabah diharapkan semakin meningkat, membuat asuransi jiwa terasa perlu, mudah, praktis, cepat, dan transparan," pungkas Fitri.
Dessy Kusumayati menambahkan, PERUJI meyakini bahwa di era digitalisasi ini, peran underwriter meluas menjadi bagian integral dari transformasi yang lebih besar. "Menggabungkan kekuatan teknologi dan pendekatan humanis demi memberikan pelayanan yang cepat, akurat, dan berkeadilan, itulah mengapa tema IUS tahun ini 'Digital Power, Customer First'," tutup Dessy.
Inflasi medis di Indonesia diperkirakan mencapai 19% pada tahun 2025, menjadikannya tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah Filipina, demikian laporan riset Health Trends 2025 Asia dari Mercer Marsh Benefits. Prediksi kenaikan ini membuat diskusi mengenai pengelolaan risiko dan efisiensi operasional menjadi sangat relevan bagi seluruh pelaku industri asuransi kesehatan.
Baca Juga: Inflasi Medis Meningkat, Pemerintah Diminta Standardisasi Biaya Rumah Sakit
Ketua PERUJI Dessy Kusumayati menegaskan komitmen organisasinya dalam memajukan profesi underwriting sekaligus mendorong kolaborasi dan inovasi di seluruh lini industri asuransi. Menurutnya, pemanfaatan solusi digital yang berorientasi pada nasabah memegang peranan krusial dalam mentransformasi proses underwriting hingga klaim.
"Kami berharap dapat membangun diskusi yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menghasilkan solusi yang lebih fleksibel dan berpusat pada individu profesional asuransi demi kemajuan masa depan industri," ujar Dessy.
Acara IUS 2025 ini berhasil menarik sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, termasuk pakar, pemangku kepentingan, dan praktisi industri asuransi. Sejumlah pejabat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut hadir, salah satunya Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun, Iwan Pasila.
Dalam paparannya, Iwan Pasila menggarisbawahi pentingnya peran underwriter dan profesi terkait untuk memfokuskan perhatian pada tiga aspek esensial: kecukupan premi, kewajaran kebutuhan cadangan premi, dan pengelolaan transaksi guna memenuhi seluruh kewajiban. OJK juga mendorong penerapan praktik terbaik untuk menghadapi risiko besar seperti bencana alam, kematian, siber, kesehatan, dan tabungan pensiun.
"OJK juga tengah mengembangkan basis data polis untuk memberikan wawasan komprehensif kepada industri dan memastikan pengelolaan kewajiban yang optimal," tambah Iwan, seraya meminta perusahaan asuransi untuk menerapkan praktik terbaik, melatih agen dengan baik, serta memantau kinerja keuangan demi mendukung ekosistem asuransi yang sehat.
Baca Juga: Satu Abad Indonesia: Tantangan Transformasi Sistem Kesehatan Nasional
Senada, Sekretaris Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Fitri Hartati mengapresiasi penyelenggaraan IUS 2025. Ia menilai bahwa underwriter asuransi jiwa memiliki peran sentral dalam pertumbuhan, kualitas, dan daya tarik industri asuransi jiwa secara keseluruhan.
"Dengan kombinasi kekuatan digital dan pendekatan yang customer-centricity, pengalaman nasabah diharapkan semakin meningkat, membuat asuransi jiwa terasa perlu, mudah, praktis, cepat, dan transparan," pungkas Fitri.
Dessy Kusumayati menambahkan, PERUJI meyakini bahwa di era digitalisasi ini, peran underwriter meluas menjadi bagian integral dari transformasi yang lebih besar. "Menggabungkan kekuatan teknologi dan pendekatan humanis demi memberikan pelayanan yang cepat, akurat, dan berkeadilan, itulah mengapa tema IUS tahun ini 'Digital Power, Customer First'," tutup Dessy.
(nng)
Lihat Juga :